Ketua Parlemen Iran Ramal Kenaikan Suku Bunga The Fed, Sehari Kemudian Terbukti

Ketua Parlemen Iran Ramal Kenaikan Suku Bunga The Fed, Sehari Kemudian Terbukti

ENERGINEWS.ID — Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memprediksi kenaikan suku bunga The Fed lewat unggahan berisi rumus ekonomi di X, dan beberapa jam kemudian Federal Reserve benar-benar menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin. Kenaikan itu jadi yang pertama dalam tiga tahun, dipicu guncangan energi imbas perang AS-Iran yang menekan pasokan minyak dunia.

Ghalibaf bukan ekonom. Ia negosiator perundingan Iran dengan Amerika Serikat. Tapi unggahannya pada Rabu (16/9) memuat persamaan Taylor, rumus yang dipakai bank sentral untuk menghitung suku bunga berdasarkan inflasi dan kesenjangan output ekonomi.

Dalam unggahan itu, ia menulis pesan bernada olokan. "Mari kita lihat apakah kenaikan suku bunga bisa membuka SOH atau menghasilkan satu barel (minyak)," tulisnya.

Ia menyinggung minyak karena pasokan dan harga minyak dunia tertekan blokade Selat Hormuz, titik pusat perang AS-Iran selama beberapa bulan terakhir. Hampir semua negara, termasuk AS, merasakan pasokan minyak yang berkurang dan harga yang terus naik.

"Anda tidak menetapkan batas 25 bps [basis points] pada sebuah titik hambatan ... Itu adalah premi risiko SOH, dan Kami yang menetapkannya," tambahnya.

Apa Itu Persamaan Taylor yang Dipakai Ghalibaf

Persamaan Taylor dikembangkan John Taylor pada awal 1990-an. Rumus ini menghubungkan suku bunga dana federal AS dengan inflasi dan kesenjangan output, yakni selisih antara output ekonomi aktual dan potensinya.

Bentuk paling sederhananya: tingkat bunga = inflasi + 0,5(kesenjangan output) + 0,5(inflasi ? 2%) + 2%. Suku bunga yang direkomendasikan naik ketika inflasi bergerak di atas target 2 persen atau ketika output ekonomi melebihi potensinya.

Rumus ini hanya patokan, bukan aturan baku. Pembuat kebijakan di Federal Reserve tetap mempertimbangkan faktor ekonomi lain saat menetapkan suku bunga.

Perang Iran dan Harga Minyak di Balik Keputusan The Fed

Analis pasar di IG Group, Chris Beauchamp, menyebut tarif yang diberlakukan Trump, guncangan energi imbas perang Iran, dan investasi besar-besaran terkait kecerdasan buatan (AI) bergabung membuat tekanan inflasi tetap tinggi.

"Perang Iran, secara tidak langsung, merupakan pendorong utama kenaikan harga saham tadi malam, meskipun tidak ada yang mau mengakuinya," kata Beauchamp.

"Lonjakan harga energi, ditambah dengan kenaikan imbal hasil obligasi, telah mendorong The Fed ke posisi terpojok tanpa jalan keluar," lanjutnya.

Susannah Streeter, kepala strategi investasi di Wealth Club, menilai balasan Iran terhadap AS dan sekutunya di seluruh Teluk telah meningkatkan kekhawatiran soal pasokan energi dan mendorong perkiraan inflasi yang lebih tinggi.

"Gejolak geopolitik yang sedang berlangsung dan harga minyak mentah yang tinggi tentu menjadi isu utama di balik keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga," katanya.

Bukan Satu-satunya Faktor

Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan pertempuran AS-Iran yang mendorong kenaikan harga bensin membantu meyakinkan para pejabat The Fed mendukung suku bunga lebih tinggi. "Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari titik-titik rawan di seluruh dunia," kata Warsh.

Streeter menegaskan perang di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak bukan satu-satunya faktor yang berperan. Pengeluaran besar perusahaan AI skala besar juga merembes ke seluruh perekonomian, dengan investasi modal kuat dan permintaan domestik tangguh menambah tekanan inflasi.

Jadi, meskipun Teheran bisa dibilang punya pengaruh pada beberapa kekuatan yang memengaruhi kebijakan moneter AS, khususnya lewat dampak konflik terhadap pasokan dan harga minyak, klaim Ghalibaf bahwa Iran yang "menetapkan" suku bunga AS jauh melampaui apa yang ditunjukkan data.

Sejak awal perang, Ghalibaf memang sering memakai argumen keuangan untuk mengejek pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Tujuannya menunjukkan kemampuan Iran merugikan AS secara ekonomi kecuali Washington mengubah pendekatannya.

"Ini adalah aksi propaganda spektakuler dari Iran, sebuah negara yang setidaknya pada tahun 2026 telah menunjukkan kemampuan mengesankan untuk memprovokasi lawannya, AS," kata Beauchamp kepada Al Jazeera.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index