ENERGINEWS.ID — Pemilik kartu grafis Nvidia yang ingin beralih ke SteamOS atau distro Linux lain belum bisa bernapas lega. Valve memastikan upaya menghadirkan driver Nvidia yang mumpuni di SteamOS masih berjalan, tetapi butuh waktu bertahun-tahun sebelum benar-benar siap. Kondisi ini membuat mayoritas pengguna PC gaming belum bisa meninggalkan Windows sepenuhnya.
Valve mengonfirmasi bahwa dukungan driver Nvidia untuk SteamOS masih dalam tahap pengembangan serius. Juru bicara perusahaan menyatakan timnya bekerja keras agar kartu grafis Nvidia bisa berjalan optimal di sistem operasi berbasis Linux tersebut.
SteamOS sendiri merupakan distro Linux yang menjadi jantung Steam Deck dan Steam Machine. Menghadirkan dukungan perangkat keras Nvidia akan memperluas daya tarik sistem operasi ini bagi produsen perangkat pihak ketiga dan perakit PC custom.
Nvidia Kuasai 73% PC Gaming, tapi SteamOS Belum Bisa Melayaninya
Pierre-Loup Griffais dari Valve menyebut dukungan driver Nvidia berada di urutan teratas prioritas perusahaan. Meski begitu, ia mengakui prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun sebelum benar-benar matang.
Uji internal sudah berhasil mengaktifkan driver di pohon utama SteamOS dan menampilkan grafis menggunakan sejumlah generasi GPU Nvidia. Namun performa gaming-nya masih tertinggal jauh dibandingkan kartu grafis AMD.
Griffais mengklaim Valve melihat perbaikan setiap hari. Data Steam Hardware Survey terbaru menunjukkan sekitar 73% sistem yang merespons menggunakan GPU Nvidia. Tanpa dukungan driver yang layak, SteamOS sulit menjadi pilihan utama bagi mayoritas pengguna Steam.
Saat ini Valve hanya merekomendasikan pemasangan SteamOS pada PC dengan chip grafis AMD. Antarmuka SteamOS yang ramah pengontrol menjadi salah satu keunggulan utama Steam Deck dan Steam Machine dibandingkan PC gaming konvensional.
Ambisi Valve Menembus Perangkat Arm Dimulai dari Steam Frame
Selain urusan driver Nvidia, Valve membidik pasar perangkat Arm. Langkah ini dimulai dari Steam Frame, headset VR yang baru dirilis dan menggunakan chip Qualcomm Snapdragon berbasis Arm.
Steam Frame memakai FEX untuk menjalankan perangkat lunak x86 di atas SoC Arm, serta Lepton untuk menjalankan aplikasi Android di versi Arm SteamOS. Pendekatan ini mirip dengan cara Steam Deck dan Steam Machine memakai Proton untuk menjalankan software Windows di Linux.
Griffais menyamakan pekerjaan Valve pada lapisan kompatibilitas FEX dengan proses panjang membangun driver Nvidia di Linux. Keduanya sama-sama menuntut kesabaran dan perbaikan berkelanjutan.
Ekspansi Steam dan SteamOS ke prosesor Arm berpotensi membuka jalan PC gaming di tablet, smartphone, pasar laptop Arm yang tumbuh, serta perangkat gaming berbasis Qualcomm dari produsen seperti Ayn.
Anti-Cheat Jadi Tembok Terbesar SteamOS
Di luar driver Nvidia dan dukungan Arm, masalah anti-cheat masih menjadi penghalang terbesar SteamOS. Sejumlah penyedia anti-cheat belakangan mulai mendukung Windows versi Arm dan RTX Spark, tetapi SteamOS masih kesulitan menjalankan game online populer.
Game seperti Grand Theft Auto dan Call of Duty belum bisa berjalan mulus di SteamOS karena sistem anti-cheat-nya belum kompatibel. Kondisi ini membuat pengguna SteamOS terbatas pada game single-player atau judul yang tidak memakai anti-cheat ketat.
Microsoft juga tengah mendorong versi Arm dari Windows untuk laptop dan mini PC. Sistem operasi itu ditenagai chip Snapdragon dan SoC RTX Spark Nvidia yang akan datang, menggunakan lapisan terjemahan terpisah.
Bagi pengguna Indonesia, kabar ini berarti PC gaming berbasis Linux masih jauh dari kata siap untuk kebutuhan sehari-hari. Selama driver Nvidia dan anti-cheat belum beres, Windows tetap menjadi pilihan paling aman untuk bermain game kompetitif maupun kasual.