ENERGINEWS.ID — Antusiasme tinggi tersebut terpantau sejak periode pendaftaran dibuka pada 21 Agustus hingga 31 Agustus 2026. Program pembinaan yang diinisiasi PT Pertamina (Persero) ini menjadi salah satu agenda Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang fokus pada pengembangan kapasitas pelaku usaha lokal.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyebut tingginya partisipasi ini mencerminkan semangat pelaku UMKM untuk meningkatkan daya saing. "Antusiasme pendaftar menunjukkan besarnya semangat pelaku UMK Indonesia untuk mengembangkan usahanya. Melalui Pertamina UMK Academy, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga didampingi untuk menerapkan pembelajaran secara langsung," ujar Baron dalam keterangan resminya, Selasa (1/9).
Pertamina UMK Academy telah berjalan sejak 2020 dan konsisten menjadi wadah bagi pelaku usaha kecil untuk belajar, bertumbuh, hingga naik kelas.
Ribuan Pendaftar Kini Masuk Tahap Kurasi
Seluruh pendaftar yang sudah masuk tidak serta-merta menjadi peserta. Mereka bakal melewati proses kurasi dan verifikasi administrasi sesuai persyaratan yang ditentukan perusahaan. Hasilnya akan menentukan UMKM mana yang berhak mengikuti rangkaian pembinaan tahun ini.
Bagi yang lolos, pembinaan dilakukan secara terstruktur dalam dua tahap: Regional dan Nasional. Pada tahap regional, peserta mendapatkan materi serta praktik penguatan dasar pengelolaan bisnis sesuai sektor usahanya. Tim akselerator dan mentor akan memantau keaktifan serta perkembangan peserta secara berkelanjutan.
Penilaian berkala ini menjadi dasar penentuan UMKM yang berhak maju ke tingkat nasional. Di tahap lanjutan, peserta mendapat pendampingan lebih intensif melalui empat kelas "Go": Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Ada pula materi khusus bertajuk "Go Green" dan "Go Aggregator".
Kurikulum Disesuaikan dengan Kebutuhan Usaha
Pertamina tidak menerapkan materi yang sama rata untuk semua peserta. Silabus disusun berdasarkan tingkat kesiapan dan kebutuhan masing-masing pelaku usaha.
"Setiap pelaku UMK memiliki kebutuhan dan tingkat kesiapan yang berbeda. Karena itu, silabus dan materi pembinaan disusun khusus agar program dapat menghasilkan perubahan yang nyata, berdampak, dan terukur," tambah Baron.
Rangkaian program juga mencakup pelatihan, simulasi bisnis, praktik pemasaran, coaching, penguatan legalitas dan sertifikasi, hingga fasilitas perluasan akses pasar. Para champion di tingkat nasional berpeluang memperoleh bantuan teknologi atau alat produksi dengan nilai total hingga ratusan juta rupiah.
Kisah Besolek: Efisiensi Produksi hingga Pemasaran Digital
Keberhasilan program ini bisa dilihat dari pengalaman Lidya SP, pemilik merek Besolek yang menjadi Juara I kelas Go Modern pada Pertamina UMK Academy 2025. Usai mengikuti pembinaan, Lidya membenahi tata kelola produksi dan keuangan sekaligus mengoptimalkan praktik zero waste.
"Pengelolaan produksi dan keuangan menjadi lebih rapi, proses produksi makin efisien sehingga zero waste makin optimal," kata Lidya.
Perubahan itu berdampak langsung pada pemasaran. Konten digital Besolek kini lebih konsisten dan profesional, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan pelanggan dan mendorong pertumbuhan penjualan.
Pertamina berharap kisah seperti Besolek dapat menginspirasi peserta 2026 untuk mengikuti seluruh rangkaian program dengan komitmen penuh. Targetnya, lahirlah wirausaha lokal yang adaptif terhadap teknologi, punya tata kelola baik, mampu memperluas pasar, serta memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Program ini sejalan dengan dukungan Pertamina terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.