JAKARTA - Pernahkah merasa sudah tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi begitu mulai bicara justru yang keluar ucapan seperti "eee... anu... apa ya...", lalu mengulang kalimat atau mendadak lupa kata?
Kondisi tersebut tergolong umum terjadi, terutama saat seseorang dituntut berbicara secara spontan, memaparkan hal yang rumit, atau berada di situasi yang memicu rasa gugup.
Dalam ranah kajian bahasa dan psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah speech disfluency alias ketidaklancaran berbicara. Mengalami belibet saat bicara tidak selalu mengindikasikan bahwa seseorang tidak menguasai materi atau mengalami gangguan bicara.
Di balik alur ucapan yang terdengar tersendat, terdapat proses mental yang terbilang kompleks. Otak dipaksa bekerja cepat guna memilih kosa kata, menyusun struktur kalimat, mengingat data, sekaligus menyesuaikan tuturan dengan situasi dan lawan bicara.
Lantas, apa saja faktor yang dapat memicu seseorang mendadak belibet ketika berbicara? Berikut beberapa penyebabnya:
Gugup atau cemas Perasaan gugup dan cemas sanggup menyulitkan seseorang untuk bertutur secara lancar. Ketika gugup, fokus perhatian tidak hanya tertuju pada materi pesan, tetapi juga terpecah pada penilaian orang lain terhadap diri sendiri. Terbaginya fokus ini membuat alur bicara makin tersendat.
Penelitian dalam jurnal Frontiers in Psychology mengungkapkan bahwa kecemasan berbanding lurus dengan peningkatan speech disfluency, seperti timbulnya jeda, penggunaan kata pengisi, pengulangan, hingga ketidaklancaran artikulasi. Itu sebabnya seseorang yang biasa lancar mengobrol bisa mendadak sering mengucap 'eee' atau 'umm' saat tampil di depan umum.
Beban pikiran sedang tinggi Proses berbicara tidak sekadar mengeluarkan kata-kata. Dalam tenggat waktu yang bersamaan, otak mesti menentukan informasi, memilih kata yang tepat, merangkai kalimat, mengingat data, hingga membaca respons lawan bicara.
Manakala seluruh proses tersebut berjalan serentak, beban kognitif akan melonjak naik. Studi dalam Communication Education menunjukkan bahwa hubungan antara rasa cemas dan kemampuan berucap dapat memburuk seiring meningkatnya tuntutan kognitif.
Dalam situasi tersebut, kemunculan jeda, pengulangan, koreksi ucapan, atau salah memilih kata menjadi jauh lebih mudah terjadi.
Takut salah atau dinilai orang lain Kekhawatiran membuat kesalahan juga bisa menghambat kelancaran berbicara. Saat tampil di hadapan publik, seseorang mungkin terlalu sibuk memikirkan kelayakan ucapannya, tingkat keyakinan suaranya, atau respons dari audiens.
Atensi yang mestinya dipakai merangkai kalimat malah terbagi untuk memantau diri sendiri. Alhasil, kosa kata yang sebenarnya sudah dihafal justru terasa amat sulit diucapkan.
Sedang mencari kata yang tepat Belibet tidak senantiasa bersumber dari rasa gugup. Terkadang, otak memang membutuhkan waktu untuk menemukan kata yang paling pas. Jeda atau penggunaan filler words seperti 'eee', 'umm', dan 'apa ya' muncul ketika seseorang memerlukan jeda waktu untuk merencanakan kalimat berikutnya.
Pemakaian kata pengisi tidak selalu menandakan ketidaktahuan. Dalam percakapan harian, kata pengisi justru menjadi bagian alami dari proses merencanakan ucapan.
Berbicara di bawah tekanan Tuntutan memberi jawaban kilat, menjelaskan hal rumit, atau menyampaikan rentetan informasi dalam tempo singkat turut memengaruhi kelancaran bicara. Makin tinggi tekanan tersebut, kian besar peluang munculnya jeda, pengulangan, koreksi, atau kekeliruan ucap.
Sebab itulah, orang yang biasanya lugas berbicara pada situasi santai bisa mendadak belibet saat harus menjawab pertanyaan secara mendadak.
Perhatian dan memori kerja sedang penuh Working memory atau memori kerja merupakan kapasitas otak untuk menyimpan serta mengolah informasi dalam durasi singkat. Kemampuan ini sangat dibutuhkan saat seseorang harus mengingat poin pembicaraan sembari merangkai kalimat dan memilih kata secara bersamaan.
Bila kapasitas memori kerja sedang terbebani, seseorang memerlukan waktu lebih lama guna menemukan kata atau menyusun kalimat. Hal ini membuat ritme ucapan terdengar lebih lambat, terputus-putus, atau diwarnai pengulangan.
Belibet Tidak Selalu Berarti Gangguan Bicara
Pada dasarnya, sesekali mengalami belibet, terhenti sejenak, mengulang kata, atau memakai kata pengisi merupakan dinamika wajar dalam percakapan normal. Hal ini makin kerap muncul saat tubuh lelah, gugup, tertekan, atau mesti memproses banyak data sekaligus.
Namun, apabila ketidaklancaran berbicara terjadi secara terus-menerus, kian parah, atau muncul mendadak disertai gejala lain, kondisi tersebut sebaiknya segera diperiksakan. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu memastikan ada atau tidaknya pemicu khusus yang membutuhkan penanganan medis.
Jadi, ketika sesekali mengucap 'eee...' atau mendadak lupa satu kata saat mengobrol, bukan berarti kemampuan bicara mengalami gangguan. Boleh jadi, otak hanya sedang bekerja keras menyusun pesan yang ingin disampaikan.