JAKARTA - Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) memicu sejumlah pekerja untuk menghitung kembali porsi anggaran transportasi harian mereka.
Bagi para pekerja yang bergantung pada moda transportasi roda dua, kenaikan tarif BBM secara otomatis menambah tebal beban pengeluaran harian.
Dampak fenomena tersebut dialami langsung oleh seorang pekerja asal Karanganyar, Jawa Tengah, bernama Valen.
Dalam kesehariannya, Valen amat mengandalkan kendaraan bermotor untuk menunjang ritme kerja sehingga alokasi dana BBM menjadi item pengeluaran yang amat krusial.
Langkah untuk beralih ke kendaraan listrik rupanya memberikan dampak positif secara langsung pada aspek finansialnya.
Usai berganti mengendarai motor listrik, ia mengutarakan bahwa anggaran perjalanan ke tempat kerja menjadi jauh lebih efisien dibandingkan sewaktu menunggangi motor berbasis bensin.
“Sejak pakai motor listrik, pengeluaran untuk perjalanan kerja terasa jauh lebih ringan. Kalau dibandingkan sebelumnya, sekarang saya bisa hemat sekitar setengahnya,” ujarnya.
Sebelum memutuskan berpindah, sebagian porsi gajinya mesti diposkan secara berkala untuk keperluan pengisian bahan bakar.
Beban pengeluaran tersebut makin kentara tatkala kendaraan terpakai saban hari untuk menempuh perjalanan pulang dan pergi ke lokasi kerja.
“Dulu saya harus rutin menyisihkan uang untuk bensin. Sekarang biaya pengisian daya jauh lebih kecil, jadi uang yang biasanya habis untuk BBM bisa digunakan untuk kebutuhan lain,” kata Valen.
Pemakaian kendaraan listrik ini turut mendorong dirinya untuk melakukan adaptasi kebiasaan baru dalam berkendara.
Valen kini membiasakan diri untuk memantau indikator baterai serta memastikan daya kendaraan sudah terisi penuh sebelum meluncur bekerja.
“Kalau untuk kebutuhan saya sekarang cukup, yang penting sebelum berangkat baterai sudah terisi. Saya juga jadi lebih terbiasa mengatur perjalanan supaya tidak khawatir kehabisan daya,” tuturnya.
Di samping itu, penyesuaian harga BBM per 9 September 2026 tercatat bervariasi di pelbagai wilayah Indonesia.
Untuk area DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, serta Jawa Timur, tarif Pertamax dipatok Rp15.950 per liter, Pertamax Turbo Rp19.600 per liter, Pertamax Green 95 Rp16.600 per liter, Dexlite Rp23.700 per liter, dan Pertamina Dex sebesar Rp25.200 per liter.
Sementara di wilayah Bali, NTB, dan NTT, harga Pertalite bertahan di angka Rp10.000 per liter, Pertamax Rp15.950 per liter, dan Dexlite Rp23.700 per liter.
Untuk cakupan wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, patokan harga Pertamax berkisar antara Rp16.300 hingga Rp16.650 per liter, sedangkan Dexlite berada pada rentang Rp24.200 hingga Rp24.750 per liter bergantung pada zona distribusi masing-masing.