JAKARTA - Peluang pertumbuhan pembiayaan produktif oleh perusahaan pembiayaan atau multifinance dinilai masih positif dan terbuka.
Otoritas Jasa Keuangan mencatat porsi penyaluran pembiayaan produktif oleh multifinance sebesar 44,47 persen dari total penyaluran pembiayaan.
Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK Agusman optimistis peluang peningkatan porsi pembiayaan produktif masih terbuka hingga akhir 2026.
OJK mendorong multifinance untuk terus mengoptimalkan penyaluran pembiayaan ke sektor produktif guna mencapai target porsi 46 persen sampai 48 persen pada 2026-2027, sebagaimana tercantum dalam Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perusahaan Pembiayaan 2024-2028.
“Termasuk segmen usaha yang memiliki prospek pertumbuhan, dengan tetap menerapkan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian,” kata Agusman dalam lembar jawaban RDK OJK Juli 2026, dikutip pada Jumat (4/9/2026).
Secara keseluruhan, OJK mencatat piutang pembiayaan multifinance pada semester I/2026 sebesar Rp511,26 triliun, tumbuh 1,88 persen secara tahunan.
Jika dibandingkan secara bulanan, piutang pembiayaan di industri multifinance mengalami penurunan sebesar 0,37 persen dari Rp513,19 triliun.
Direktur Riset Center of Reform on Economics Indonesia Etika Karyani Suwondo menilai proyeksi pembiayaan produktif hingga akhir 2026 masih positif, namun perlu dilakukan secara selektif.
Sikap selektif ini diperlukan karena pembiayaan modal kerja tumbuh 6,36 persen secara tahunan, tetapi NPF gross naik menjadi 3,01 persen, sementara BI Rate sebesar 5,75 persen masih menekan biaya dana.
“Sehingga, tantangan utama bukan kekurangan permintaan, melainkan memastikan bankability debitur, ketepatan risk pricing, & kualitas underwriting, terutama pada UMKM,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (1/9/2026).
Etika menyarankan agar perusahaan pembiayaan berfokus pada pembiayaan berbasis arus kas, seperti melalui penguatan rantai pasok dan pemanfaatan sistem penilaian digital untuk UMKM.
Langkah tersebut penting agar target porsi pembiayaan produktif multifinance sebesar 46 persen sampai 48 persen yang ditetapkan OJK pada 2026-2027 dapat tercapai.
“Juga fokus ke risk-based pricing, apalagi gearing ratio industri baru 2,14 kali, jauh di bawah batas 10 kali, sehingga kendala utamanya bukan kapasitas pendanaan, melainkan kemampuan menemukan dan menilai debitur produktif yang bankable dan berkualitas,” ujar Etika.
Tantangan Pembiayaan Produktif
PT BRI Multifinance Indonesia mengungkapkan tantangan utama dalam meningkatkan pembiayaan produktif adalah menjaga kualitas pembiayaan di tengah dinamika kondisi ekonomi dan risiko pada sektor usaha.
Corporate Secretary BRI Finance Aditia Fakhri Ramadhani menyampaikan bahwa perusahaan terus menerapkan prinsip kehati-hatian melalui proses analisis yang selektif.
“Kemudian, melakukan pemantauan portofolio secara berkala, serta memperkuat manajemen risiko,” ujarnya kepada Bisnis.
Melalui strategi tersebut, BRI Finance optimistis dapat terus mengembangkan pembiayaan produktif secara sehat dan berkelanjutan, khususnya pada segmen alat berat dan modal kerja.
Aditia menambahkan bahwa pembiayaan produktif masih sangat prospektif, terutama pada segmen pembiayaan investasi yang memiliki peluang pertumbuhan baik.
“Hal ini didukung oleh meningkatnya aktivitas dunia usaha di berbagai sektor ekonomi yang mendorong kebutuhan pembiayaan untuk ekspansi usaha maupun penguatan kapasitas operasional,” ucapnya.
Sementara itu, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. atau Adira Finance menyebut salah satu tantangan utama menyalurkan pembiayaan produktif adalah menjaga kualitas pembiayaan di tengah kondisi bisnis yang dinamis.
“Untuk memitigasi risiko tersebut, perusahaan menerapkan proses underwriting yang prudent dan selektif. Perusahaan juga melakukan pemantauan portofolio secara berkala serta memperkuat proses collection,” ucap Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani kepada Bisnis.
Hingga saat ini, portofolio pembiayaan Adira Finance masih didominasi pembiayaan konsumtif, namun perusahaan berupaya meningkatkan kontribusi pembiayaan produktif secara bertahap demi menciptakan komposisi portofolio yang seimbang.
“Dalam mendukung pertumbuhan tersebut, Perusahaan menjalankan berbagai inisiatif strategis untuk meningkatkan kinerja secara berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi dan pasar,” ucapnya kepada Bisnis.
Gani memaparkan bahwa langkah tersebut dilakukan melalui ekspansi bisnis secara selektif ke daerah berpotensi tinggi serta pengembangan bisnis non-otomotif seperti produk dana tunai untuk kebutuhan produktif.
“Kemudian, penguatan kolaborasi dengan ekosistem grup untuk memperluas basis pelanggan, serta peningkatan customer retention melalui penawaran produk dan layanan yang lebih relevan dengan kebutuhan pelaku usaha,” tuturnya.
Pembiayaan Produktif oleh Multifinance Masih Prospektif
Adira Finance menilai peluang pembiayaan produktif tetap terbuka, terutama pada sektor yang didukung aktivitas ekonomi riil seperti kebutuhan kendaraan komersial dan alat berat untuk operasional serta ekspansi usaha.
Gani menambahkan bahwa ruang pertumbuhan masih terbuka lebar seiring kebutuhan pelaku usaha dalam meningkatkan kapasitas serta produktivitas.
“Namun, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang masih dinamis, Perusahaan akan tetap selektif dalam menangkap peluang pertumbuhan, dengan mempertimbangkan prospek masing-masing sektor, profil dan kemampuan bayar konsumen, serta kualitas pembiayaan,” tegasnya.
Di sisi lain, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. atau WOM Finance terus mendorong pertumbuhan pembiayaan produktif lewat penguatan penyaluran produk MotorKu dan MobilKu.
Direktur WOM Finance Cincin Lisa Hadi menyebutkan bahwa pada semester I/2026, penyaluran pembiayaan produktif perusahaan tergolong stabil dengan rata-rata peningkatan lebih dari 3 persen.
Pembiayaan kedua produk tersebut disalurkan dengan jaminan BPKB mobil dan motor melalui skema jual dan sewa balik yang ditujukan untuk modal kerja produktif.
“Perusahaan memandang segmen pembiayaan produktif secara umum memiliki potensi yang memadai, dengan fokus utama salah satunya pada sektor-sektor yang didukung oleh transaksi riil dan perputaran cash flow yang sehat,” ucap Cincin kepada Bisnis.