ENERGINEWS.ID — Kenaikan penjualan kendaraan elektrifikasi, khususnya hybrid, disebut menjadi salah satu pendorong penguatan industri otomotif nasional. Data tersebut disampaikan Airlangga dalam siaran pers yang dirilis Kamis (27/8/2026).
Menurut Airlangga, tren positif ini tidak lepas dari fluktuasi harga BBM nonsubsidi yang membuat konsumen mulai menghitung efisiensi biaya operasional kendaraan. Teknologi hybrid dinilai menjadi jembatan yang tepat bagi konsumen yang belum sepenuhnya siap beralih ke mobil listrik murni (BEV).
"Dengan harga BBM nonsubsidi ikut fluktuasi harga, maka masyarakat juga melihat bahwa penggunaan electric vehicle (EV) itu akan menghemat biaya. Maka di semester satu ini peningkatan pertumbuhan daripada kendaraan yang berbasis pada hybrid itu 40 persen dibandingkan tahun lalu. Jadi ini sebuah angka yang sangat baik, berarti masyarakat sudah ada kesadaran untuk menggunakan tenaga listrik," kata Airlangga.
Insentif Pajak dan Ekosistem Mobil Listrik Nasional Jadi Faktor Pendorong
Kenaikan penjualan ini tidak berdiri sendiri. Pemerintah tengah memperkuat ekosistem industri otomotif dari hulu ke hilir, mulai dari pengembangan kemampuan produksi kendaraan, baterai, hingga komponen dalam negeri.
Kebijakan ini juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem Mobil Nasional dan Motor Listrik Nasional. Penyesuaian fasilitas dukungan difokuskan untuk meningkatkan kandungan lokal dan nilai tambah domestik, bukan sekadar mendorong impor kendaraan jadi.
Selain kendaraan elektrifikasi, pemerintah juga memperluas pemanfaatan biodiesel 50 persen (B50). Pengembangan kendaraan listrik, bahan bakar nabati, dan teknologi hidrogen berjalan paralel sebagai upaya menekan emisi dari sektor transportasi.
Transisi Energi Bukan Sekadar Ganti Teknologi Mesin
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menegaskan bahwa transformasi transportasi rendah emisi tidak hanya berhenti pada perubahan teknologi kendaraan. Ada target lebih besar yang sedang dibangun pemerintah.
"Transformasi transportasi rendah emisi bukan hanya mengenai perubahan teknologi kendaraan, tetapi juga bagaimana kita membangun ekosistem yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Dengan dukungan energi, infrastruktur, industri, dan rantai pasok yang semakin kuat, transisi ini dapat sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dan memperkuat daya saing Indonesia," jelas Haryo.
Artinya, setiap unit mobil hybrid atau listrik yang terjual di pasar domestik diharapkan mampu menyerap komponen produksi lokal. Dengan begitu, dampak ekonominya tidak hanya dirasakan konsumen melalui penghematan BBM, tetapi juga oleh industri komponen dalam negeri.
Yang perlu dicermati ke depan adalah konsistensi kebijakan insentif. Jika tren pertumbuhan 40 persen mampu dipertahankan, target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi kendaraan listrik di Asia Tenggara bukan lagi sekadar wacana.