JAKARTA - Empat bank raksasa yang masuk dalam Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV mencatatkan raihan pertumbuhan laba bersih pada sepanjang periode semester I 2026.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sukses memimpin perolehan laba bersih senilai Rp31,18 triliun, disusul oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar Rp30,4 triliun.
Selanjutnya, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengumpulkan laba bersih Rp29,5 triliun, sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) meraih laba bersih konsolidasian Rp10,80 triliun.
Dilihat dari laju pertumbuhan laba, Bank Mandiri mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 24,4 persen secara tahunan atau year on year (YoY).
BRI menyusul lewat pertumbuhan laba 17,5 persen YoY, sedangkan laba bersih BNI terkerek naik sebesar 6,33 persen YoY.
Pada ekspansi kredit, BNI tampil paling agresif dengan total penyaluran kredit mencapai Rp968,53 triliun atau melejit 24,38 persen YoY dibanding periode sebelumnya Rp778,68 triliun.
Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan kredit 19,9 persen YoY, sedangkan kredit BCA tumbuh 8 persen YoY hingga menembus angka Rp1.036 triliun.
Adapun total kredit yang disalurkan BRI berhasil menyentuh angka Rp1.580,42 triliun hingga akhir Juni 2026.
Mengenai porsi dana murah, BCA mempertahankan keunggulan porsi current account saving account (CASA) mencapai Rp1.082 triliun atau setara 84,3 persen dari total dana pihak ketiga (DPK).
Di sisi kualitas aset, Bank Mandiri sanggup menekan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di level 0,98 persen, sedangkan NPL BNI dan BCA berada di angka 1,9 persen.
Pencapaian laba bersih BRI sebesar Rp31,18 triliun pada semester I 2026 didorong oleh lonjakan pendapatan bunga bersih serta pendapatan operasional perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan bunga bersih konsolidasian BRI menyentuh Rp80,53 triliun, tumbuh 9,9 persen YoY dari posisi semester I 2025 yang sebesar Rp73,27 triliun.
Pendapatan bunga BRI secara keseluruhan naik 5,4 persen YoY menjadi Rp107,92 triliun, sementara beban bunga berhasil ditekan turun 5,9 persen YoY menjadi Rp27,39 triliun.
Meski diterpa kenaikan beban operasional dan beban lainnya, laba operasional BRI tetap mampu tumbuh 14,8 persen YoY menjadi Rp40,17 triliun.
Sementara itu, pertumbuhan laba bersih konsolidasi Bank Mandiri sebesar Rp30,4 triliun ditopang oleh ekspansi bisnis yang solid.
DPK Bank Mandiri meningkat 17,1 persen YoY yang diimbangi penyaluran aset kredit yang tumbuh sebesar 19,9 persen YoY.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menjelaskan bahwa ekspansi tersebut menghasilkan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang tumbuh baik di level 8 persen.
“Jadi dengan pertumbuhan ini tentunya menghasilkan revenue ataupun NII yang cukup baik di 8%,” ungkap Novita dalam Paparan Kinerja Kuartal II/2026 secara virtual, Kamis (23/7/2026).
Novita menambahkan bahwa raihan laba perseroan turut didukung oleh lonjakan pendapatan nonbunga dari fee-based income transaksi digital Livin' dan Kopra.
“Dengan kondisi yang pencapaian volume bisnis, kemudian tingkat profitabilitas yang baik, ini menghasilkan laba Bank Mandiri di Rp30,4 triliun,” ujarnya.
Di pihak lain, BNI yang mengantongi laba bersih Rp10,80 triliun berhasil menggenjot pertumbuhan DPK sebesar 22,26 persen YoY menjadi Rp1.100,18 triliun.
Pertumbuhan DPK BNI tersebut didorong oleh pos deposito yang melonjak 50,70 persen YoY menjadi Rp380,22 triliun.
Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menyampaikan bahwa peningkatan profitabilitas membuktikan kontribusi bisnis inti BNI yang semakin solid.
“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” kata Paolo dalam keterangannya, Rabu (5/8/2026).
Untuk BCA, capaian laba bersih konsolidasi Rp29,5 triliun ditopang oleh penyaluran kredit produktif yang tumbuh 11 persen YoY menjadi Rp802 triliun.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menuturkan bahwa kinerja positif perseroan pada paruh pertama 2026 didorong oleh aktivitas bisnis nasabah serta ajang BCA Expoversary 2026.
“Kinerja BCA pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal, seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor,” ujarnya dalam paparan, Selasa (28/7/2026).