ENERGINEWS.ID — Selama ini stres lebih sering dikaitkan dengan sulit tidur, perubahan suasana hati, atau menurunnya konsentrasi. Padahal, dampaknya jauh lebih luas dari sekadar kesehatan mental. Organisasi osteoporosis dunia, NOFSA, dalam artikel berjudul "The Link between Stress, Mental Health and Bone Health" yang terbit 17 Juli 2024, menegaskan bahwa stres kronis ikut berperan dalam menurunnya kualitas tulang.
Apa Hubungan Stres dan Tulang?
Stres sebenarnya adalah respons alami tubuh saat menghadapi tekanan. Masalah baru muncul ketika kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa jeda. Hormon kortisol yang diproduksi saat stres, jika kadarnya terlalu tinggi dalam waktu lama, akan mengganggu keseimbangan kerja sel tulang.
Kortisol menghambat aktivitas osteoblas, sel yang bertugas membentuk tulang baru. Di saat bersamaan, hormon ini justru meningkatkan kerja osteoklas, sel yang berperan menghancurkan jaringan tulang lama. Akibatnya, proses regenerasi tulang terganggu dan massa tulang berkurang perlahan tanpa disadari.
Artinya, tubuh yang terus-menerus lelah karena stres juga kehilangan kemampuan alaminya untuk menjaga kekuatan struktur tulang.
Depresi, Cemas, dan Risiko Patah Tulang
Hubungan stres dengan tulang makin kompleks ketika tekanan psikologis berkembang menjadi gangguan kecemasan atau depresi. NOFSA mencatat, orang dengan depresi cenderung memiliki kepadatan mineral tulang yang lebih rendah. Sementara itu, gangguan kecemasan dikaitkan dengan peningkatan risiko patah tulang.
Gaya hidup yang berubah juga memperparah kondisi ini. Pola makan tidak teratur, kurang gerak, hingga kebiasaan tidak sehat yang menyertai masalah mental, semuanya berkontribusi pada menurunnya kesehatan tulang secara menyeluruh.
Kalsium Saja Tidak Cukup
Menjaga kepadatan tulang tidak bisa hanya mengandalkan asupan kalsium dan vitamin D. Mengelola stres menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pencegahan osteoporosis. NOFSA menyarankan aktivitas fisik teratur dan teknik pengelolaan stres seperti mindfulness serta terapi perilaku kognitif (CBT) sebagai langkah pendukung.
Kombinasi antara manajemen stres, pola makan bergizi, dan gaya hidup aktif adalah kunci mempertahankan kualitas tulang dalam jangka panjang.
Merawat tulang berarti merawat tubuh secara menyeluruh. Jika stres yang Anda alami sudah mengganggu aktivitas sehari-hari atau disertai keluhan fisik, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Dokter dapat membantu menyusun strategi pengelolaan stres sekaligus mengevaluasi kesehatan tulang Anda.