Menkes Monitor Kenaikan Kasus Influenza A di Sejumlah Wilayah Indonesia

Selasa, 15 September 2026 | 04:23:01 WIB
Ilustrasi Influenza.

JAKARTA - Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan (Menkes) merespons maraknya laporan kenaikan kasus influenza, termasuk jenis Influenza A di berbagai daerah. Ia menyampaikan bahwa pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mengawasi tren penyakit ini melalui sejumlah titik pemantauan sentinel.

"Ada kenaikan influenza ini selalu kami monitor. Saya dengar ada yang di Jawa Timur, di beberapa titik agak naik," kata Budi saat ditemui usai Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Guna menindaklanjuti hal tersebut, Budi telah menginstruksikan tim Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kemenkes untuk turun tangan mengecek kondisi wilayah yang mengalami peningkatan kasus secara mendalam.

"Memang saya sudah minta teman-teman dari P2 untuk lihat di daerah-daerah mana khususnya. Karena itu kan menular ya," ujarnya.

Ia menekankan bahwa tipe Influenza A yang saat ini merebak berbeda dari varian bahaya yang berpotensi memicu sakit parah pada masa lalu, contohnya seperti subtipe H5 pada kasus flu burung.

"Cuma kalau Influenza A ini, ini kan bukan influenza yang mematikan ya. Yang kami takutkan karena yang ada H5, yang dulu pernah kejadian yang flu burung," kata Budi.

Pihak Kemenkes sendiri masih mengamati efektivitas langkah penanganan yang berjalan di daerah-daerah terdampak tersebut.

"Saya lagi lihat apakah penanganannya di sana juga baik apa enggak. Jadi sebenarnya dengan perlindungan biasa harusnya bisa," ujarnya.

Dokter Temukan Banyak Pasien Positif Influenza

Peningkatan jumlah pasien bergejala batuk, demam, hingga sakit kepala juga diakui oleh dr. Harman Prayitno Sp. P, seorang Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan, dalam kurun satu minggu terakhir.

"Sejak seminggu terakhir ini, memang banyak merawat pasien-pasien dengan gejala batuk, disertai demam dan nyeri kepala. Ketika dicek, hasil swab-nya menunjukkan influenza positif, baik itu Influenza A atau Influenza B," kata Harman dikutip dari akun Threads @dr.harmanprayitno.paru.onko.

Secara teoritis, Influenza A memang dikenal memicu keluhan lebih berat jika dibandingkan tipe B. Kendati begitu, dr. Harman menjelaskan bahwa tingkat keparahan penyakit sebenarnya tidak cuma bergantung pada jenis tipenya semata.

Faktanya, ia sempat menjumpai penderita Influenza B yang kondisinya cukup memburuk hingga memicu komplikasi infeksi paru-paru atau pneumonia.

"Memang secara teori, gejala pada Influenza A lebih berat daripada Influenza B. Namun kemarin sempat menjumpai pasien dengan Influenza B yang gejalanya berat hingga pneumonia," ujarnya.

Ia menambahkan, pasien rujukan dari instalasi gawat darurat (IGD) yang terkonfirmasi positif influenza disertai masalah pneumonia masih terus ditemukan sampai saat ini.

Ciri khas infeksi influenza umumnya berupa demam tinggi mendadak hingga 40 derajat Celsius, batuk, badan pegal, pusing hebat, hidung tersumbat, dan nyeri tenggorokan.

"Berbeda dengan batuk pilek biasa (common cold), gejala influenza jauh lebih berat. Lebih mirip dengan gejala Covid yang dulu itu," kata Harman.

Mengingat risikonya yang bisa berkembang menjadi pneumonia, masyarakat yang bergejala disarankan untuk segera beristirahat total, mencukupi asupan cairan, dan minum obat sesuai indikasi.

Jika kondisi makin parah, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan sangat dianjurkan. Dokter Harman juga menyarankan agar warga kembali membiasakan pakai masker di ruang publik, menjaga jarak dari orang batuk, jauhi kerumunan, serta rajin cuci tangan.

"Bila memang sedang tidak fit, sebaiknya stay di rumah saja," ujarnya.

Influenza A Beda dengan Flu Biasa

Berdasarkan acuan dari Kemenkes, influenza merupakan gangguan pernapasan akibat infeksi virus yang menyerang organ hidung, tenggorokan, sampai paru-paru. Penyakit ini umumnya dipicu virus influenza tipe A, B, maupun C.

Tipe Influenza A paling sering memicu wabah luas dan memiliki beragam subtipe populer seperti H1N1 dan H3N2. Sementara itu, tipe Influenza B biasanya hanya memicu penularan di lingkup lokal.

Penyakit ini wajib diwaspadai oleh kelompok rentan seperti bayi dan balita karena risikonya memicu komplikasi fatal. Gejala yang umum muncul meliputi demam tinggi mendadak, batuk kering, sakit tenggorokan, pilek, pusing, lemas, hingga nyeri otot dan sendi.

Beberapa penderita juga kerap mengalami mual, muntah, dan diare. Kemenkes memperingatkan bahwa serangan influenza pada anak kecil berpotensi memicu komplikasi berat seperti pneumonia, bronkiolitis, radang otot, radang otak (ensefalitis), hingga gangguan jantung.

Langkah pencegahan terbaik dapat dilakukan lewat pemberian vaksinasi influenza berkala setiap tahun, menghindari kontak dekat dengan penderita, rutin cuci tangan pakai sabun, serta tidak menyentuh area wajah dengan tangan kotor.

Terkini