Nilai Tukar Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp17.585 per Dolar AS

Jumat, 11 September 2026 | 23:52:01 WIB
Pegawai menunjukan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran uang atau money changer [FOTO: NET].

JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan hari ini, Jumat (11/9/2026), dengan bergerak melemah ke posisi Rp17.585 per dolar Amerika Serikat (AS). Lesunya kinerja mata uang Garuda tersebut bergerak selaras dengan tren pelemahan sejumlah valuta asing lain di kawasan Asia di hadapan Greenback.

Pencatatan pasar menunjukkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami koreksi sebesar 0,22% ke level Rp17.585. Di samping rupiah, sentimen pelemahan turut membekap baht Thailand yang turun 0,13%, ringgit Malaysia menyusut 0,19%, serta rupee India terkoreksi 0,36%. Nasib serupa dialami peso Filipina yang melemah 0,32% dan dolar Taiwan turun 0,26%.

Kendati demikian, pergerakan sebaliknya dicatatkan oleh won Korea yang terpantau menguat 0,21%, yuan China naik 0,02%, yen Jepang menguat 0,05%, serta dolar Singapura naik 0,02%.

Sebelumnya, Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bakal bergerak tertekan pada rentang Rp17.540-Rp17.590 per dolar AS hari ini, Jumat (11/9/2026). 

Dari kancah global, sentimen bersumber dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim bahwa perang melawan Iran bakal tuntas seusai pemilu sela pada bulan November mendatang.

Kendati begitu, laporan terbitan Wall Street Journal membeberkan peringatan dari para penasihat utama Trump yang memprediksi konflik berisiko terus berkobar hingga akhir sisa masa jabatan Trump, menyusul minimnya tanda-tanda penurunan tensi eskalasi.

Di luar faktor konflik tersebut, para pelaku pasar kini tengah bersiap menyambut perilisan data Indeks Harga Produsen (PPI) AS kemarin serta data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) pada hari Jumat besok.

Berbagai laporan tersebut bakal menyuplai petunjuk krusial terkait ada atau tidaknya langkah The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan pada rapat kebijakan minggu depan guna menjinakkan tekanan harga. Merujuk CME FedWatch Tool, pasar mengkalkulasikan probabilitas di kisaran 60% bagi potensi kenaikan suku bunga dalam agenda pertemuan bank sentral pekan depan.

Sementara itu dari kancah domestik, sentimen negatif datang dari bayang-bayang risiko fiskal akibat melambungnya harga minyak dunia yang mengancam stabilitas ekonomi makro. Lonjakan harga komoditas minyak mentah memicu kecemasan mendasar pada sejumlah sektor industri.

“Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target meningkat,” ucap Ibrahim, Kamis (10/9/2026).

Terkini