Rapor Bank Digital Tumbuh Positif dan SeaBank Catat Laba Paling Tebal

Jumat, 11 September 2026 | 23:33:01 WIB
Ilustrasi Bank Digital.

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai industri perbankan digital di Indonesia mulai bergerak ke arah positif yang dibuktikan oleh kemampuan sejumlah pemain dalam membukukan keuntungan.

Kendati demikian, OJK mengingatkan bahwa model bisnis perbankan digital masih berada dalam fase pengembangan, sehingga pertumbuhan industri harus terus dijaga agar tetap berkelanjutan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan perkembangan bank digital di Indonesia patut diberi apresiasi tinggi.

Menurut pandangannya, tantangan berikutnya bagi ekosistem ini adalah memastikan model bisnis digital sanggup tumbuh secara berkelanjutan, inklusif, serta memiliki daya tahan yang kokoh.

“Ukuran keberhasilan tentu tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah pengguna atau laba dalam jangka pendek. Yang lebih penting adalah kualitas pertumbuhan,” ujarnya dalam acara Bisnis Indonesia Group (BIG) Financial Insight 2026 bertema 'Digital Banking at Five: Shaping an Inclusive Financial Ecosystem', Rabu (9/9/2026).

Dian memaparkan bahwa kualitas pertumbuhan bank digital tecermin dari struktur pendanaan yang sehat, kualitas aset yang terjaga, efisiensi operasional, permodalan yang kuat, serta kemampuan mencetak profitabilitas berkelanjutan.

Ia turut memberikan gambaran industri global di mana sejumlah negara yang lebih dahulu mengembangkan bank digital masih memerlukan waktu panjang untuk mencapai titik impas atau profitabilitas.

“Contoh tersebut tentunya bukan untuk menjustifikasi kinerja bank digital di Indonesia, melainkan memberikan gambaran kepada kami bahwa semua model bisnis bank digital ini masih dalam tahap perkembangan,” katanya.

Di tengah dinamika tersebut, PT Seabank Indonesia (SeaBank) berhasil tampil konsisten sebagai pencetak laba paling tebal dalam 5 tahun terakhir di antara kompetitornya seperti Bank Jago, Superbank, maupun Bank Neo Commerce.

Pada semester I 2026, SeaBank mengantongi laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp749,25 miliar, atau melonjak lebih dari 200 persen secara tahunan (YoY).

Pencapaian tersebut disokong oleh fungsi intermediasi yang solid dengan penyaluran kredit mencapai Rp39,80 triliun, total aset sebesar Rp52,97 triliun, serta penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp41,80 triliun.

Sejalan dengan kinerja tersebut, SeaBank sukses membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp5,47 triliun dan pendapatan berbasis komisi (fee based income) sebesar Rp410,69 miliar pada semester I 2026.

"Fokus kami ke depan adalah terus berinovasi pada fitur-fitur transaksi, memperkuat infrastruktur keamanan siber, dan mendorong inklusi keuangan untuk memastikan akses keuangan digital bagi seluruh masyarakat Indonesia," Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley.

Di sisi lain, riset Litbang Kompas pada Maret 2026 mengungkapkan bahwa pengguna bank digital didominasi oleh generasi milenial muda (38,5 persen) dan Generasi Z (25,8 persen).

SeaBank menjadi opsi terpopuler bagi milenial muda (43,2 persen) serta Generasi Z (29,5 persen), sekaligus menjadi satu-satunya bank digital yang penetrasi penggunanya di kawasan kabupaten mencapai 59,2 persen.

Terkini