Menjerit Efektif Redakan Stres Ini Penjelasan Ilmiah Psikiater

Rabu, 09 September 2026 | 05:31:32 WIB
Ilustrasi Menjerit.

JAKARTA - Rutinitas harian kerap terasa menekan hingga mekanisme koping biasa tak lagi memberikan hasil. Tenggat waktu yang menumpuk, persoalan pribadi, serta kelelahan dapat membuat tubuh menjadi tegang.

Pikiran yang terus berpacu dan ketegangan fisik yang tidak kunjung reda kerap memaksa kami mencari pelampiasan lain. Salah satu metode yang belakangan populer untuk membuang penat ini adalah dengan bersuara keras, seperti menjerit.

Meski awalnya terdengar berlebihan, melepaskan suara ternyata mampu memberi jalan keluar bagi stres yang selama ini terkurung di dalam tubuh.

Alasan Menjerit Bisa Melepaskan Stres

Metode melepaskan emosi ini bukan sekadar meluapkan amarah tanpa arah. Inti praktiknya adalah mengarahkan frustrasi dan kecemasan ke tempat yang semestinya, sehingga tidak terus mengendap di dalam diri.

"Emosi kami bukan sekadar pengalaman mental murni. Emosi juga memiliki komponen fisik," ujar psikoterapis berlisensi Joy Berkheimer, PhD, mengutip Real Simple, Rabu (9/9/2026).

Beraktivitas yang melibatkan pita suara, seperti menjerit atau bernyanyi lantang, terbukti dapat mengubah respons fisiologis tubuh.

"Aktivitas ini dapat memengaruhi sistem saraf, meningkatkan aliran oksigen, dan menciptakan rasa ekspresi emosional yang lebih besar," tambah Berkheimer.

Menurutnya, memberikan suara pada emosi bisa terasa melegakan karena mengubah pengalaman internal menjadi sesuatu yang dapat diekspresikan, bukan terus-menerus dipendam.

Psikiater, pakar hubungan, dan pendiri Relationship RX Laura Dabney, MD, mengungkapkan bahwa emosi yang kuat menciptakan tekanan untuk melakukan sesuatu terhadapnya. Saat stres diabaikan, disepelekan, atau ditekan, tekanan tersebut akan terus menumpuk di bawah permukaan.

Meski begitu, menjerit bukanlah satu-satunya tujuan akhir.

"Ekspresi emosional itu sendiri sehat, yang terpenting adalah bagaimana emosi tersebut diekspresikan dan apa yang kami pelajari darinya," tutur dr. Dabney.

Alasan Bersuara Keras Terasa Ampuh

Kunci keberhasilan metode ini terletak pada penyesuaian intensitas emosi. Saat seseorang berada di ambang kewalahan, memaksa diri untuk segera tenang justru sering kali berujung gagal.

Terapis berlisensi dan pendiri Pash Co., Erin Pash, menjelaskan bahwa dalam situasi penuh tekanan, ketenangan tidak sejalan dengan suasana hati sistem saraf saat itu.

"Memaksa diri untuk rileks seperti meminta teko untuk berhenti bersiul di dapur," ujar dia.

Sebaliknya, bersuara keras mampu menyamai intensitas emosi tersebut terlebih dahulu, barulah melepaskannya.

"Bersuara melibatkan napas dan diafragma dengan cara yang dapat mengubah seluruh sistem saraf, sehingga menciptakan pelepasan yang mirip dengan tangisan yang melegakan," imbuh Pash.

Singkatnya, metode ini membantu mengeluarkan perasaan dari tubuh, alih-alih membiarkannya bergejolak di dada.

Dokter Dabney mengamini hal tersebut dengan menambahkan bahwa menuangkan emosi ke dalam kata-kata, suara, atau ekspresi fisik, sering kali membuat perasaan tersebut lebih mudah dikelola.

"Hal ini menjadi alasan mengapa menyanyi, tertawa, atau bahkan berteriak mengikuti musik bisa menciptakan rasa pelepasan karena beban emosi tidak lagi ditahan sepenuhnya di dalam," kata dr. Dabney.

"Gerakan, suara, napas, atau ekspresi fisik membantu seseorang mengakses emosi yang tidak dapat diproses sepenuhnya hanya dengan kata-kata," sambung Berkheimer.

Ia menekankan bahwa regulasi emosi tidak selalu tentang menjadi lebih tenang. Terkadang, ini tentang membiarkan tubuh berpartisipasi dalam proses penyembuhan.

Cara Menerapkannya Sehari-hari

Metode ini tidak berarti seseorang harus benar-benar menjerit sekuat tenaga hingga mengganggu orang lain.

"(Dan) Pelepasan emosi tidak harus selalu dengan berteriak ke bantal," ujar Berkheimer.

Bernyanyi, berolahraga, menari, menulis jurnal, atau sekadar melakukan pernapasan dalam juga bisa menjadi saluran yang sehat.

"Tujuannya bukan untuk memperbesar emosi tanpa batas waktu, melainkan untuk menciptakan kesempatan yang aman untuk mengakui, mengekspresikan, dan melewatinya," lanjut Berkheimer.

Seseorang bisa mencoba bernyanyi lantang di dalam mobil tanpa perlu memedulikan bagaimana suaranya terdengar dari luar. Untuk luapan yang lebih fisik, Pash menyarankan persiapan wadah khusus.

"Berteriaklah ke bantal selama 30 detik, atau berolahragalah dengan sekuat tenaga di pusat kebugaran," jelasnya.

Sangat penting memiliki saluran khusus agar perasaan tersebut tidak merembes ke mana-mana, termasuk ke dalam hubungan. Setelahnya, evaluasi perasaan yang muncul. Pelepasan yang sehat seharusnya meninggalkan rasa lega, kejelasan, dan kemampuan untuk terus melangkah maju.

Terkini