Memahami 4 Jenis Attachment Style dan Cirinya Sejak Masa Kanak

Rabu, 02 September 2026 | 04:39:32 WIB
Ilustrasi Attachment Style.

JAKARTA - Dalam ilmu psikologi, terdapat empat jenis attachment style atau pola keterikatan emosional. Keterikatan ini mulai terbentuk sejak masa bayi melalui interaksi dengan orang tua atau pengasuh, serta berdampak pada hubungan interpersonal seseorang di masa depan.

Memahami kecenderungan attachment style pribadi sangat penting guna mengenali perilaku diri sendiri serta menentukan cara berinteraksi dengan pasangan secara lebih baik.

Empat jenis attachment style yang dikenal saat ini mencakup secure attachment style (keterikatan aman), anxious attachment style (keterikatan cemas), avoidant attachment style (keterikatan menghindar), dan fearful-avoidant/disorganized attachment style (keterikatan takut-menghindar).

Kategori keterikatan tidak aman atau insecure meliputi tipe anxious, avoidant, dan fearful-avoidant. Setiap individu disarankan beralih dari ketiga tipe tersebut menuju pola keterikatan aman atau secure.

Berikut uraian terperinci mengenai empat jenis attachment style:

Secure attachment style

Gaya keterikatan aman mencerminkan kemampuan membangun hubungan yang sehat, memuaskan, dan bertahan lama. Tipe ini terbentuk pada anak bila mereka merasa aman, dihargai, dipahami, serta dihibur.

Pada orang dewasa, keterikatan ini terlihat dari rasa aman dan percaya diri dalam mengarungi hubungan. Seseorang akan terbuka menyampaikan perasaannya kepada pasangan atau sahabat dekat serta mencari dukungan sosial saat membutuhkan.

Anxious attachment style

Pemilik gaya keterikatan cemas sering dibayangi rasa takut akan penolakan dan pengabaian. Ia cenderung mencari validasi dari orang lain ketimbang menenangkan dirinya sendiri.

Pada anak-anak, cirinya terlihat dari kecemasan mendalam saat berpisah dengan orang tua, namun tetap sulit merasa tenang ketika orang tua kembali. Ia juga cenderung ragu memercayai orang asing.

Saat dewasa, individu dengan anxious attachment style kerap khawatir tidak dicintai oleh pasangan maupun teman. Tipe ini umumnya memiliki harga diri rendah dan sangat bergantung pada validasi luar.

Avoidant attachment style

Individu dengan gaya keterikatan menghindar cenderung kesulitan menjalin hubungan yang mendalam karena enggan menghadapi keintiman emosional.

Pada anak-anak, perilaku ini ditandai dengan sikap tidak aktif mencari kenyamanan dari orang tua dan cenderung menarik diri dari interaksi sosial secara umum.

Ketika menginjak dewasa, pemilik pola ini sering kali tidak melibatkan emosi dalam hubungan asmara maupun pertemanan. Dari luar tampak mandiri, namun sebenarnya merasa terancam jika ada orang lain yang mencoba mendekat.

Fearful-avoidant/disorganized attachment style

Gaya keterikatan takut-menghindar atau tidak terorganisasi ini masuk dalam kategori insecure. Tipe ini kerap memperlihatkan perilaku yang tidak konsisten atau kesulitan menaruh kepercayaan pada orang lain.

Pola ini kerap dipengaruhi oleh gaya pengasuhan tidak konsisten di masa kecil, misalnya memberikan kenyamanan di satu waktu tetapi juga menanamkan rasa takut di waktu lain.

Saat dewasa, individu dapat menunjukkan sikap yang membingungkan atau sulit diprediksi. Mereka mendambakan kasih sayang, namun di saat bersamaan merasa takut akan hal tersebut.

Kendati attachment style sangat dipengaruhi oleh pola pengasuhan masa kecil, pola tersebut tetap bisa diubah saat beranjak dewasa. Upaya beralih dari keterikatan insecure menuju secure sangat mungkin untuk dilakukan.

Seseorang tidak perlu pasrah pada pola-pola keterikatan yang insecure. Setiap orang dapat mengembangkan keyakinan dan perilaku yang lebih secure ketika dewasa.

Proses perubahan tersebut dapat ditempuh melalui rangkaian terapi, baik konsultasi individu maupun konseling pasangan dengan bantuan psikolog. Psikolog berpengalaman akan membantu memahami pengalaman emosional masa lalu serta membimbing diri menuju keterikatan yang lebih secure.

Terkini