JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan lonjakan besaran kompensasi serta subsidi energi berpotensi membengkak hingga Rp300 triliun dari penetapan anggaran awal akibat tekanan konflik geopolitik dunia.
“Kami dari Kementerian ESDM sudah menghitung ini dampak kenaikan ini, kalau kami tidak antisipasi dengan ketersediaan energi baru dan terbarukan, ini konsekuensinya peningkatan kompensasi dan subsidi, dari Rp400 triliun itu bisa meningkat sekitar Rp300 triliun,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot dalam The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu.
Yuliot menerangkan bahwa lonjakan anggaran tersebut bersumber dari friksi geopolitik, khususnya eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang menghambat alur pasokan energi global.
Di samping ketegangan AS dan Iran, Yuliot menyoroti konflik bersenjata antara Ukraina dan Rusia yang hingga kini belum kunjung mereda.
“Ini memicu keterbatasan ketersediaan energi secara global,” ucap dia.
Lebih lanjut, Yuliot memaparkan bahwa melambungnya biaya energi akan memicu kenaikan angka inflasi hingga membengkaknya beban produksi sektor industri. Oleh sebab itu, lonjakan harga komoditas energi berisiko memicu krisis ekonomi makro secara meluas.
Menyikapi ancaman tersebut, pemerintah menggenjot akselerasi pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT). Penguatan EBT menjadi program prioritas nasional yang termuat dalam agenda Astacita untuk memperkokoh pertahanan negara serta mewujudkan swasembada energi.
“Kami melihat dari sisi kami swasembada energi dan hilirisasi, ini akan meningkatkan penyediaan energi dan juga perluasan akses dan jangkauan terhadap energi bagi industri dan masyarakat secara keseluruhan,” ujar Yuliot.
Pada struktur APBN 2026, pemerintah awalnya mengalokasikan anggaran subsidi energi senilai Rp210,1 triliun, atau mengambil porsi 65,87 persen dari total dana subsidi nasional yang mencapai Rp318,9 triliun.
Apabila dikomposisikan bersama alokasi kompensasi, total dana APBN yang disiapkan pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional pada dasarnya berada di angka Rp381,3 triliun.
Sementara itu, menyitir laporan Sputnik, pergerakan harga minyak mentah jenis Brent di pasar global melesat hingga menembus angka 96 dolar AS per barel di tengah gempuran serangan balasan antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada pukul 00.58 GMT, kontrak berjangka minyak Brent untuk alokasi pengiriman Desember terangkat 1,48 persen ke posisi 96,65 dolar AS per barel. Di saat bersamaan, minyak jenis WTI pengiriman Oktober naik 1,98 persen menuju tingkat 92,20 dolar AS per barel.
Lonjakan pergerakan harga tersebut tergolong sangat drastis jika dibandingkan dengan posisi pergerakan harga komoditas minyak bumi pada penutupan Agustus lalu.
Harga minyak Brent sempat terkoreksi tajam pada akhir Agustus 2026 menuju level 86,2 dolar AS per barel. Penurunan serupa terjadi pada varian West Texas Intermediate (WTI) yang terkikis 5,5 persen ke posisi 80,40 dolar AS per barel.