JAKARTA - Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional di wilayah DKI Jakarta kembali mengalami peningatan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyebut lonjakan harga tersebut terutama dipicu berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi, bukan akibat kebijakan pemerintah daerah.
Staf Khusus Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim, mengatakan, Jakarta merupakan kota konsumen yang sebagian besar kebutuhan cabainya dipasok dari luar daerah.
"Penyebab utamanya dari sisi pasokan, bukan dari kebijakan Pemprov DKI. Jakarta adalah kota konsumen. Cabai rawit datang dari sentra produksi di luar daerah, terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah," kata Chico.
Berdasarkan informasi dari Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia, masa panen di sejumlah sentra produksi telah berakhir. Kondisi tersebut membuat volume cabai yang masuk ke pasar induk ikut berkurang. Situasi semakin berat karena musim kemarau yang menyebabkan hasil panen di sejumlah daerah menjadi lebih terbatas.
"Di tingkat petani harga sudah sekitar Rp 50.000 per kg, sehingga harga di pedagang ikut naik," kata Chico.
Kenaikan harga cabai merupakan kondisi yang biasa terjadi pada komoditas hortikultura. Harga komoditas tersebut cenderung fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh musim serta ketersediaan pasokan.
"Asosiasi memperkirakan tekanan harga masih bisa terasa di awal September, tetapi diharapkan mereda ketika panen berikutnya masuk," kata dia.
Meski harganya naik, Chico memastikan stok cabai dan kebutuhan pangan lainnya di Jakarta masih tersedia. Pemprov DKI terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi gejolak harga yang dapat membebani masyarakat. Pemantauan dilakukan melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP), termasuk mengecek perkembangan harga harian melalui Info Pangan Jakarta serta berkoordinasi dengan pasar induk.
"Pemprov DKI melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian terus memantau harga harian lewat Info Pangan Jakarta dan koordinasi dengan pasar induk. Stok tetap tersedia," tutur Chico.
Dia menambahkan, jika tekanan harga terus berlanjut, Pemprov DKI telah menyiapkan sejumlah langkah intervensi untuk menjaga daya beli masyarakat.
"Kalau tekanan berlanjut, kami siapkan intervensi seperti operasi pasar atau pangan murah agar daya beli warga tetap terjaga," ucap dia.
Sebelumnya, harga cabai rawit merah di Pasar Lokbin Meruya, Kembangan, Jakarta Barat, mengalami kenaikan tajam. Harga komoditas tersebut kini menembus Rp85.000 hingga Rp90.000 per kilogram. Kenaikan ini dikeluhkan pedagang lantaran turut berdampak pada daya beli masyarakat, di mana konsumen memilih mengurangi belanjaan dan beralih membeli secara eceran.
Pedagang sayur di Pasar Lokbin Meruya, Ferdi, menuturkan modal dari pemasok saat ini sudah menyentuh Rp70.000 per kilogram. Penjualan akhirnya disesuaikan menjadi Rp85.000 per kilogram dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp60.000. Kenaikan drastis sebesar Rp25.000 ini terjadi hanya dalam waktu sekitar sepekan.
Ferdi menyebut informasi dari pemasok mengindikasikan bahwa pergerakan harga dipengaruhi kendala transportasi dan cuaca. Akibat lonjakan harga yang mendadak ini, banyak pembeli terkejut sehingga memangkas porsi pembelian, yang berujung pada melambatnya penyerapan stok harian di pedagang.
Pedagang lainnya, Marta, bahkan menjual cabai rawit merah seharga Rp90.000 per kilogram karena harga dari Pasar Induk sudah mencapai Rp85.000 per kilogram. Menurut Marta, kenaikan terjadi karena ketersediaan barang di pasar berkurang drastis, misalnya dari pasokan normal satu ton menjadi hanya 500 kilogram.
Selain cabai rawit merah, harga cabai keriting merah turut merangkak naik ke kisaran Rp45.000 hingga Rp50.000 per kilogram. Sementara itu, komoditas bawang merah dan bawang putih dilaporkan masih relatif stabil, masing-masing dijual seharga Rp40.000 dan Rp50.000 per kilogram.