Ketahui 4 Faktor Utama Perusak Keseimbangan Mikrobiota Usus Anak

Ketahui 4 Faktor Utama Perusak Keseimbangan Mikrobiota Usus Anak
Ilustrasi anak sakit perut.

JAKARTA – Kesehatan saluran pencernaan anak tidak hanya bergantung pada asupan nutrisi harian. Ekosistem mikrobiota usus yang terbentuk sejak lahir dapat rusak akibat berbagai kebiasaan dan faktor lingkungan. Kondisi terganggunya keseimbangan flora normal usus ini dikenal secara medis sebagai disbiosis.

Disbiosis terjadi saat populasi bakteri baik menurun drastis dan tergantikan oleh bakteri patogen. Hal tersebut berdampak langsung pada penurunan daya tahan tubuh anak.

Menurut spesialis anak konsultan gastrohepatologi, Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K), gangguan pada usus berawal ketika ekosistem yang sehat mengalami disrupsi komposisi. Penyebab rusaknya ekosistem pencernaan anak sangat beragam, mulai dari faktor medis yang kurang tepat hingga paparan bahan dari luar tubuh.

"Bisa mikrobiotanya yang komposisinya tidak bagus, bisa jumlahnya yang kurang karena terlalu banyak antibiotik, bisa karena environment-nya yang tidak sehat," jelas dr. Andy dalam peluncuran Gut and Immunity Council (GIC) di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Pemberian obat-obatan, terutama antibiotik tanpa indikasi yang tepat, menjadi salah satu pemicu utama rusaknya keseimbangan bakteri usus. Banyak orang tua mendesak pemberian antibiotik saat anak sakit, padahal keluhan tersebut dipicu oleh infeksi virus yang tidak merespons obat tersebut.

"Kalau tidak butuh antibiotik, jangan kasih antibiotik," tegas dr. Andy.

Obat pembasmi bakteri tidak dapat membedakan antara patogen penyebab penyakit dan kuman komensal yang melindungi usus. Saat dikonsumsi, obat ini membunuh berbagai jenis mikrobiota secara acak.

"Dikasih antibiotik ya pasti kumannya mati. Karena antibiotik itu, kalau matiin kumannya itu milih, selektif, ada jenis-jenis kuman yang mati, ada yang enggak, jadi nanti komposisinya (bakteri usus) akan berubah," papar dr. Andy.

Ancaman lain datang dari konsumsi makanan ultraproses (ultra-processed food / UPF). Makanan yang melalui proses modifikasi fisik maupun kimiawi yang panjang ini tidak memberikan nutrisi yang dibutuhkan bakteri baik.

"Kami sekarang mulai lihat telur yang bukan telur, susu yang bukan susu, daging yang bukan daging. Itu agak mengkhawatirkan sebetulnya. Ultra-processed food itu sudah terbukti beberapa hal tidak terlalu baik untuk saluran pencernaan," ujar dr. Andy.

Selain makanan ultraproses, kebiasaan membersihkan lingkungan secara berlebihan hingga sangat steril juga tidak direkomendasikan. Tubuh anak tetap membutuhkan interaksi dengan kuman di lingkungan sekitar untuk melatih sistem perlindungan alami.

"Terlalu kotor enggak bagus juga ya, tapi terlalu steril juga enggak bagus juga ya," kata dr. Andy.

Faktor lingkungan seperti polusi udara turut memegang peran perusak yang tidak terduga. Udara kotor yang dihirup anak dapat menyebar hingga ke organ pencernaan.

"Bisa melalui paru-paru dulu ya. Paru-parunya yang kena, lalu dia spill over mengenai organ-organ yang lain," sebut dr. Andy.

Perpindahan polutan ini terjadi melalui dahak kotor di saluran pernapasan. Anak balita umumnya belum memiliki refleks membuang dahak saat batuk.

"Dahaknya banyak biasanya ditelan kalau anak-anak ya. Jadi akhirnya mengganggu gut microbiota," tutur dr. Andy.

Tumpukan polutan yang tertelan memicu peradangan pada ekosistem saluran cerna anak. Penelitian medis memperlihatkan korelasi langsung antara buruknya kualitas udara dan kerusakan mikroba pelindung di dalam perut anak.

"Bukti menunjukkan bahwa pada daerah-daerah yang polluted, udaranya polusi, terjadi disbiosis pada ususnya," pungkas dr. Andy.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index