JAKARTA - Jatuh cinta dengan seseorang yang ditemui setiap hari di tempat kerja bukanlah hal yang aneh. Rutinitas yang serupa, tugas yang dikerjakan bersama, hingga tekanan dan pencapaian yang dilewati bersama dapat membuat interaksi antar-rekan kerja berkembang menjadi hubungan asmara.
Namun, ketika dua rekan kerja mulai berpacaran, perubahan tidak selalu hanya dirasakan oleh keduanya. Hubungan tersebut juga dapat memengaruhi cara rekan-rekan satu tim menilai kepercayaan, komunikasi, loyalitas, hingga keputusan di tempat kerja.
Bahkan, pasangan yang merasa sudah sanggup menjaga sikap profesional belum tentu dapat mengendalikan sudut pandang orang lain terhadap hubungan mereka.
Ketika Hubungan Dua Orang Memengaruhi Satu Tim
Dalam lingkungan kerja, karyawan tidak sekadar berinteraksi berdasarkan struktur organisasi formal. Terdapat pula hubungan informal yang terbentuk dari kedekatan, kepercayaan, serta pertukaran informasi antar-rekan kerja.
Oleh karena itu, saat dua orang yang sebelumnya dianggap sebagai individu terpisah mulai berpacaran, rekan kerja dapat melihat mereka sebagai satu kesatuan.
Sebagai contoh, seorang karyawan semula merasa bebas menyampaikan kritik kepada salah satu rekannya. Namun, setelah mengetahui bahwa rekannya berpacaran dengan anggota tim yang sama, ia bisa jadi berpikir ulang sebelum menyampaikan sesuatu karena khawatir informasi tersebut akan bocor.
Dikutip dari Psychology Today, riset Rebecca Chory dan Hailey Gillen Hoke menunjukkan bahwa pelaku hubungan romantis di tempat kerja cenderung meremehkan seberapa negatif hubungan tersebut dipandang oleh rekan kerja.
Kepercayaan Rekan Kerja Bisa Ikut Berubah
Hubungan romantis di kantor juga dapat memengaruhi tingkat kepercayaan dalam tim. Ketika rekan kerja menganggap hubungan tersebut berkaitan dengan kepentingan karier, tingkat kepercayaan kepada pasangan tersebut dapat merosot.
Penurunan kepercayaan kemudian bisa membuat komunikasi menjadi kurang terbuka dan kurang akurat.
Contohnya, saat seorang karyawan ingin menyampaikan keluhan mengenai salah satu pasangan, ia mungkin merasa canggung karena khawatir keluhan tersebut diketahui oleh pasangannya. Situasi ini menunjukkan bahwa persepsi sama pentingnya dengan fakta di lapangan.
Bagaimana Jika Melibatkan Atasan dan Bawahan?
Dinamika menjadi kian rumit apabila hubungan romantis terjadi antara orang yang memiliki perbedaan posisi hirarki. Misalnya, seorang manajer berpacaran dengan karyawan di departemen yang sama.
Beberapa bulan kemudian, karyawan tersebut mendapatkan proyek besar atau kesempatan pengembangan karier. Meski kesempatan tersebut diberikan atas dasar kinerja, rekan kerja dapat memiliki penafsiran lain mengenai independensi keputusan tersebut.
Inilah yang dalam psikologi organisasi berkaitan dengan attribution, yaitu bagaimana seseorang menafsirkan penyebab di balik suatu peristiwa.
Penelitian Suzanne Chan-Serafin dan rekan-rekannya menemukan bahwa karyawan berposisi lebih rendah yang memiliki hubungan romantis dengan atasan dapat menghadapi konsekuensi karier, seperti dinilai lebih rendah dalam peluang promosi.
Mengapa Hubungan Asmara di Kantor Sering Jadi Bahan Gosip?
Tidak mengherankan jika hubungan romantis di tempat kerja kerap menjadi bahan perbincangan. Gosip tidak selalu muncul karena rasa ingin tahu semata, tetapi juga menjadi cara bagi karyawan untuk memahami lingkungan sosial di tempat kerja.
Penelitian Seep Sethi dan Shalini Srivastava menemukan adanya hubungan positif antara hubungan romantis di tempat kerja dan dinamika gosip pada lingkungan kerja.
Melalui pembicaraan mengenai office romance, rekan kerja sebenarnya sedang berusaha memahami siapa yang dapat dipercaya, siapa yang memiliki pengaruh, dan bagaimana hubungan antar-individu memengaruhi keputusan profesional.
Bukan Berarti Pacaran dengan Rekan Kerja Selalu Buruk
Meski demikian, hubungan romantis di tempat kerja tidak selalu berdampak negatif. Beberapa riset justru menemukan keterkaitan positif antara workplace romance, keterlibatan kerja, kesejahteraan psikologis, dan performa kerja.
Memiliki pasangan yang memahami tekanan serta rutinitas pekerjaan sehari-hari dapat memberikan dukungan emosional yang kuat.
Masalahnya, sesuatu yang bermanfaat bagi pasangan belum tentu tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang-orang di sekitarnya. Oleh sebab itu, hal krusial yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pasangan menjaga batasan profesional.
Keputusan mengenai penilaian kinerja, promosi, gaji, pembagian pekerjaan, maupun jadwal sebaiknya tidak dipengaruhi oleh hubungan pribadi. Pasangan juga wajib menjaga kerahasiaan informasi pekerjaan yang terbatas.
Pada akhirnya, jatuh cinta dengan rekan kerja adalah hal yang lumrah. Namun, saat hubungan berkembang menjadi jalinan asmara, dampaknya dapat melampaui dua orang yang menjalaninya karena perubahan tersebut dapat memengaruhi kepercayaan dan arus informasi di lingkungan kerja.