Minum Minuman Manis Harian Tingkatkan Risiko Kanker Lambung 2,45 Kali

Minum Minuman Manis Harian Tingkatkan Risiko Kanker Lambung 2,45 Kali
Ilustrasi Minuman Manis.

JAKARTA — Hasil riset teranyar Mass General Brigham Cancer Institute yang terbit di jurnal Gastro Hep Advances mengungkapkan konsumsi minuman berpemanis gula tiap hari meningkatkan risiko kanker lambung 2,45 kali lipat dibanding konsumsi yang jarang.

Di sisi lain, minuman berpemanis buatan tidak memperlihatkan keterkaitan serupa.

Rincian minuman berpemanis gula pada analisis ini mencakup soda, punch, lemonade, serta minuman olahraga.

Sementara itu, kategori minuman berpemanis buatan didefinisikan sebagai varian soda rendah kalori.

Minuman manis sudah menjadi bagian dari kebiasaan harian warga Amerika Serikat, mengingat sekitar 65 persen kelompok dewasa rutin meminum sedikitnya satu porsi minuman berpemanis gula per hari.

Minuman berpemanis gula sebelumnya kerap dikaitkan dengan lonjakan risiko kanker usus besar, payudara, hingga hati, tetapi pengaruhnya pada organ lambung masih minim digali.

Guna mendalaminya, tim peneliti mengolah data 112.284 responden dalam Nurses' Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study, dua riset jangka panjang yang merekam detail pola makan, gaya hidup, serta kondisi kesehatan selama hitungan dekade.

Sepanjang periode pengamatan tersebut, tercatat 278 responden terdiagnosis kanker lambung.

"Ini adalah studi pertama yang menunjukkan kaitan antara konsumsi minuman berpemanis gula dan kanker lambung pada populasi Amerika Serikat," kata penulis senior studi ini, Andrew T. Chan, MD, MPH, gastroenterolog dan epidemiolog di Mass General Brigham Cancer Institute, dikutip SciTechDaily.

"Kanker lambung adalah penyebab kematian kanker kelima terbanyak di dunia, tapi kami masih sangat sedikit tahu soal bagaimana pola makan dapat berkontribusi terhadap kanker ini."

Minuman Manis Harian Dikaitkan dengan Risiko Lebih Tinggi

Setelah memperhitungkan ragam variabel risiko lain, para ahli menyimpulkan bahwa individu yang menenggak minimal satu porsi minuman berpemanis gula harian menghadapi risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi ketimbang yang mengonsumsi kurang dari satu porsi per bulan.

Korelasi tersebut nampak nyata baik pada kelompok pria maupun wanita.

Asupan fruktosa keseluruhan yang lebih tinggi (fruktosa merupakan pemanis utama minuman ini) turut sejalan dengan melambungnya insiden kanker lambung.

Sebagai gambaran, pada partisipan wanita Nurses' Health Study, kebiasaan minum lebih dari satu porsi minuman berpemanis gula harian memicu risiko 3,04 kali lebih tinggi ketimbang yang jarang mengonsumsinya.

Sebaliknya, tingginya konsumsi minuman berpemanis buatan tidak terbukti memicu peningkatan kasus kanker lambung usai peneliti mempertimbangkan faktor penyeimbang lain.

Mengingat infeksi Helicobacter pylori (H. pylori) menjadi faktor pemicu utama kanker lambung, peneliti turut mengecek status H. pylori pada sampel 940 responden.

Sekitar sepertiga lebih responden terbukti terinfeksi, tetapi konsumsi minuman berpemanis gula tidak menunjukkan kaitan langsung dengan infeksi H. pylori tersebut.

Studi Ini Belum Bisa Membuktikan Hubungan Sebab-Akibat

Berhubung penelitian ini menggunakan pendekatan observasional, temuan yang ada belum bisa memastikan apakah minuman berpemanis gula secara langsung menjadi dalih pemicu angka kanker lambung.

Dinamika perbedaan lain pada konsumen minuman manis ini bisa saja ikut memengaruhi kaitan yang ditemukan.

Peneliti juga memiliki keterbatasan data seputar sejarah infeksi H. pylori serta rekam medis keluarga terkait kanker lambung, ditambah mayoritas partisipan didominasi ras kulit putih yang membatasi analisis lintas etnis.

Walau demikian, besarnya cakupan partisipan beserta rekam medis dan gaya hidup yang terurai terperinci selama puluhan tahun memudahkan peneliti mengontrol berbagai faktor risiko kanker lambung lainnya.

Eksplorasi lanjutan masih amat dibutuhkan guna menegaskan kaitan ini sekaligus mengungkap alasan minuman berpemanis gula berpotensi memicu risiko kanker lambung.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index