JAKARTA - Menginjak paruh kedua 2026, industri asuransi jiwa semakin dihadapkan pada tantangan dalam mengelola portofolio investasinya di tengah dinamika pergerakan pasar keuangan.
Di samping itu, lini industri pun dituntut untuk terus menjaga imbal hasil sekaligus memastikan kecukupan aset dalam memenuhi kewajiban pembayaran kepada pemegang polis.
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat total investasi industri asuransi jiwa pada semester I/2026 menyentuh angka Rp564,42 triliun, atau melaju tumbuh 2,4 persen (year on year/YoY) dari capaian sebelumnya sebesar Rp551,31 triliun.
Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI, Meylindawati Tjoa menyampaikan bahwa nominal tersebut mencerminkan peran industri dalam mengelola dana investasi jangka panjang serta menyokong pemenuhan kewajiban kepada pemegang polis.
“Pengelolaan investasi pada perusahaan anggota tetap dilakukan dengan memperhatikan profil risiko kebutuhan kewajiban jangka panjang serta prinsip kehati-hatian,” ucapnya dalam konferensi pers di Grha AAJI Jakarta, Senin (31/8/2026).
Kendati demikian, Meylindawati membeberkan bahwa raihan hasil investasi industri asuransi jiwa pada semester I/2026 mengalami tekanan yang cukup signifikan.
Pada periode ini, perolehan hasil investasi mengalami kontraksi 115,3 persen YoY menjadi minus Rp2,47 triliun dari yang sebelumnya tercatat sebesar Rp16,19 triliun.
Menurut pemaparannya, pergeseran hasil investasi tersebut mencerminkan dampak volatilitas pasar keuangan terhadap kinerja investasi dalam skala jangka pendek pada semester I/2026.
“Namun, perlu ditekankan bahwa investasi industri asuransi jiwa berorientasi jangka panjang, sehingga kinerja dalam kurun waktu tertentu saja tidak dapat disimpulkan dari siklus pasar secara keseluruhan,” tegasnya.
Sebab itu, imbuhnya, pendekatan industri tetap memprioritaskan prinsip kehati-hatian, diversifikasi, serta kesesuaian antara aset dan liabilitas.
Hal ini dibuktikan oleh posisi Surat Berharga Negara (SBN) yang tetap menjadi instrumen terbesar dengan nilai mencapai Rp251,64 triliun atau tumbuh 12,8 persen YoY.
“Penempatan pada SBN mencerminkan komitmen industri dalam menjaga stabilitas portofolio sekaligus turut berkontribusi pada pembiayaan pembangunan pemerintah,” sebutnya.
Di sisi lain, industri asuransi jiwa tetap konsisten menjalankan diversifikasi melalui instrumen saham, reksadana, sukuk korporasi, deposito, tanah dan bangunan, hingga penyertaan langsung.
Bagi Meylindawati, pola diversifikasi ini teramat vital guna menjaga keseimbangan antara optimalisasi imbal hasil investasi dan manajemen risiko.
Bila ditinjau dari proporsinya pada semester I/2026, porsi SBN mencapai kisaran 44 persen dari total investasi, saham berada di angka 18 persen, reksadana 12 persen, serta sukuk korporasi menyumbang sekitar 10 persen.
Meylindawati menyatakan komposisi tersebut memperlihatkan bahwa industri memperkuat porsi instrumen yang relatif stabil, namun tetap disiplin memelihara diversifikasi.
“Dalam konteks industri asuransi jiwa yang memiliki kewajiban jangka panjang, strategi investasi perlu konsisten dengan kebutuhan liabilitas dan tidak semata-mata mengejar hasil jangka pendek saja,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo menilai kontraksi pada hasil investasi hanya bersifat jangka pendek lantaran wajar mengalami pergerakan naik dan turun.
Pada industri asuransi jiwa, porsi penempatan dana investasi terbanyak dialokasikan di instrumen SBN dan saham, yang mana kedua jenis instrumen ini mencatatkan penyusutan pada paruh pertama 2026.
“Jadi kami melihatnya jangka pendek. Buktinya perusahaan-perusahaan tetap bisa mempertahankan RBC-nya dengan baik, walaupun mengalami konstruksi di investasi. Jadi kami lihat harusnya kalau bisa turun juga bisa naik,” ucapnya di tempat yang sama.
Adapun pihak PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) membeberkan bahwa di tengah gejolak pasar global maupun domestik yang tergolong tinggi, strategi investasi perusahaan hingga akhir tahun bakal berfokus pada pengelolaan portofolio yang prudent, selektif, serta berorientasi jangka panjang.
Direktur Utama Ciputra Life Hengky Djojosantoso menerangkan bahwa instrumen pendapatan tetap masih menyajikan peluang yang potensial, terkhusus SBN serta obligasi korporasi berkinerja kredit baik.
“Dengan level yield yang masih relatif menarik, kami melihat peluang untuk melakukan penempatan secara selektif sekaligus menjaga kesesuaian antara karakteristik aset dengan profil liabilitas perusahaan,” ucapnya kepada Bisnis, Senin (31/8/2026).
Sementara itu, lanjutnya, untuk sektor saham, Ciputra Life tetap membidik adanya peluang meski alokasinya dilakukan secara terukur.
Perusahaan lebih menitikberatkan pada emiten berfundamen kokoh, memiliki prospek pertumbuhan cerah, serta nilai valuasi yang menarik, bukan semata-mata memburu momentum pasar.
“Pada akhirnya, keputusan investasi kami tidak hanya didasarkan pada potensi return, tetapi juga mempertimbangkan kualitas aset, risiko kredit, duration, likuiditas, serta kesesuaiannya dengan kewajiban perusahaan kepada pemegang polis. Dengan pendekatan tersebut, kami berharap dapat menghasilkan risk-adjusted return yang sehat dan berkelanjutan,” tegasnya.
Lebih jauh, Hengky memaparkan bahwa SBN masih ditempatkan sebagai salah satu komponen utama dalam susunan portofolio investasi Ciputra Life.
Pertimbangannya bukan semata-mata karena tergolong instrumen berisiko kredit relatif rendah, melainkan karakteristiknya selaras dengan kebutuhan perusahaan asuransi jiwa dalam mengelola kewajiban jangka panjang kepada para pemegang polis.
“Selain SBN, kami juga melihat peluang pada obligasi korporasi dengan kualitas kredit dan fundamental yang baik. Instrumen ini dapat memberikan tambahan spread dibandingkan obligasi pemerintah, namun setiap penempatan tetap melalui proses seleksi dan pengelolaan risiko yang ketat,” tuturnya.
Hal yang terpenting, imbuhnya, garis besar strategi investasi tak sebatas memburu return setinggi-tingginya, melainkan bagaimana menciptakan return yang sehat dan konsisten selaras dengan tingkat risiko yang sanggup dikelola.
Lebih lanjut, Hengky mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam berinvestasi pada semester II/2026 berakar dari masih tingginya ketidakpastian pasar global, mencakup dinamika geopolitik, arah kebijakan moneter dunia, pergerakan harga komoditas, hingga dampaknya terhadap kurs nilai tukar dan pasar keuangan domestik.
Ditinjau dari dalam negeri, tantangannya mencakup pergerakan rupiah, laju inflasi, kebijakan fiskal, serta arah kebijakan Bank Indonesia (BI) yang terus dipantau karena berpotensi memengaruhi yield maupun valuasi berbagai kelas aset.
“Namun, kami melihat volatilitas tidak hanya sebagai risiko, tetapi juga sebagai peluang untuk melakukan repositioning portofolio secara selektif. Ketika terjadi peningkatan yield dan valuasi menjadi lebih menarik, kami dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan penempatan pada aset berkualitas dengan tingkat imbal hasil yang lebih kompetitif,” jelasnya.
Oleh karena itu, Ciputra Life tetap melihat peluang bagi hasil investasi untuk memberikan kontribusi positif hingga pengujung tahun.
Strategi perusahaan adalah memelihara diversifikasi, disiplin memilih aset, serta memastikan tiap keputusan investasi tetap berjalan selaras dengan profil liabilitas dan kebutuhan likuiditas perusahaan.
“Bagi kami, lingkungan pasar yang dinamis justru menegaskan pentingnya disiplin dalam pengelolaan investasi. Kami tidak berorientasi pada keuntungan jangka pendek, tetapi pada penciptaan hasil investasi yang sehat dan berkelanjutan bagi perusahaan dan pemegang polis,” sebut Hengky.
Sementara itu, pengamat asuransi Wahju Rohmanti menyebutkan tantangan berinvestasi bagi industri asuransi jiwa pada semester II/2026 terletak pada ketatnya sisa waktu serta instabilitas indikator makro ekonomi.
“Ditambah dengan biasanya di Q4 siklus penerimaan premi menurun. Khususnya efeknya pada portofolio saham. Apakah di sisa waktu dapat mendongkrak nilai portofolio agar di akhir tahun dapat realisasi gain dan buku akhir tahun baik,” ucapnya.