ENERGINEWS.ID — Peristiwa penyelamatan ini berawal saat seorang petani bernama Jais hendak berangkat ke ladangnya. Ia mendapati orang utan itu sudah terkulai lemas di area perkebunan. "Kondisinya sangat lemah, lalu saya memberinya air," ujar Jais.
Jais bersama warga lain pun segera melapor dan meminta bantuan. Sekitar dua jam kemudian, tim dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) tiba di lokasi bersama seorang dokter hewan untuk memberikan pertolongan pertama.
Kronologi Penemuan dan Penanganan Darurat
Orang utan yang kemudian diberi nama Sampurna—diambil dari nama desa tempat ia ditemukan—terbaring lemah di atas jaring dengan mata terpejam. Kondisinya memprihatinkan, namun pemeriksaan awal menunjukkan ia tidak mengalami luka bakar yang parah.
Dokter hewan Komara yang menangani langsung menyebut satwa itu mengalami gangguan pernapasan akut. "Kami menduga ia menderita infeksi saluran pernapasan akut," katanya. Sampurna juga sempat muntah sebelum akhirnya mendapatkan perawatan intensif.
Tim medis segera memasang selang oksigen di hidung Sampurna dan memberikan cairan melalui infus. Langkah ini diambil untuk menstabilkan kondisinya yang kritis akibat hipoksia.
Hipoksia Akibat Asap Pekat
Karmele Llano Sanchez, CEO YIARI, menjelaskan penyebab utama kondisi Sampurna. "Orang utan itu mengalami hipoksia akibat asap yang sangat pekat di area tersebut," ungkap Sanchez. Kabut asap dari karhutla memang diketahui dapat mengganggu sistem pernapasan satwa liar yang habitatnya tergusur.
Setelah kondisinya mulai stabil, Sampurna direncanakan akan dipindahkan ke pusat rehabilitasi. Di sana, ia akan menjalani perawatan lebih lanjut hingga dinyatakan pulih dan siap untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit betapa luas dampak karhutla, tak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi satwa liar yang kehilangan tempat tinggal dan sumber oksigen bersih.