Studi di Inggris: Fitur Canggih Mobil Jarang Dipakai, Adaptive Cruise Control Paling Diabaikan

Studi di Inggris: Fitur Canggih Mobil Jarang Dipakai, Adaptive Cruise Control Paling Diabaikan

ENERGINEWS.ID — Riset yang dilakukan Censuswide terhadap 1.350 pengemudi di Inggris pada musim panas 2026 ini memperlihatkan kesenjangan besar antara kecanggihan teknologi yang ditawarkan pabrikan dengan kebiasaan pengguna di lapangan. Studi yang digagas jaringan diler otomotif Dick Lovett ini menemukan pola serupa pada fitur keselamatan lain: 18 persen pengemudi mengabaikan lane-keeping assist, sementara 21,3 persen justru sengaja mematikan fitur pengereman darurat otomatis (AEB).

Alasan paling umum? Sebagian pengemudi menilai sistem bantuan tersebut terlalu agresif dan lebih banyak menjadi gangguan ketimbang manfaat. Temuan ini jadi catatan penting bagi pasar otomotif Indonesia, di mana fitur-fitur serupa mulai banyak dihadirkan pada mobil-mobil segmen menengah ke atas.

Fitur Asisten Suara dan Head-Up Display AR Juga Sepi Peminat

Tidak hanya fitur keselamatan aktif, teknologi kenyamanan pun bernasib sama. Asisten suara (voice assistant) tidak pernah digunakan oleh 17,8 persen pemilik mobil yang memilikinya. Sementara augmented reality head-up display (AR HUD) diabaikan oleh 17,1 persen pengguna, dan 7 persen lainnya bahkan tidak paham cara mengoperasikannya.

Dari sisi fitur hiburan dan konektivitas, Bluetooth justru menjadi primadona dengan tingkat penggunaan rutin 58,3 persen. Disusul kamera mundur (45,7 persen), navigasi satelit bawaan (44,5 persen), dan kaca depan berpemanas (41 persen).

Kursi Pijat dan Remote Engine Start: Jarang Tersedia, Makin Jarang Dipakai

Fitur premium seperti kursi pijat, remote engine start, dan AR HUD memang belum banyak tersedia. Data menunjukkan 67,3 persen kendaraan responden tidak dilengkapi kursi pijat, dan 62 persen tidak memiliki fitur menyalakan mesin dari jarak jauh. Namun dari yang memilikinya, hanya 22 persen yang rutin memakai kursi pijat dan 24,5 persen yang menggunakan remote engine start secara konsisten.

Menariknya, pola penggunaan teknologi ini berkorelasi kuat dengan usia pengemudi. Generasi muda 25–34 tahun jauh lebih adaptif: 38,3 persen rutin menggunakan mode berkendara, dan 68,5 persen memakai Bluetooth. Sebaliknya, pengemudi di atas 55 tahun hanya 5,1 persen yang memanfaatkan remote engine start, tetapi justru lebih banyak memakai kaca depan berpemanas (45 persen).

Pakar: Pemilik Mobil Wajib Pelajari Teknologi Kendaraannya

Alex Lee, pakar otomotif Dick Lovett, menekankan pentingnya literasi teknologi bagi pemilik mobil modern. Ia mengatakan meluangkan waktu untuk memahami fitur kendaraan bukan sekadar soal efisiensi biaya, tetapi juga berkaitan langsung dengan keselamatan berkendara.

"Seiring mobil menjadi semakin canggih, meluangkan waktu untuk mempelajari kemampuan kendaraan Anda bukan hanya soal mendapatkan manfaat yang sepadan dengan uang yang dikeluarkan, tetapi juga dapat membantu meningkatkan keselamatan, kenyamanan, dan pengalaman berkendara secara keseluruhan," kata Lee.

Bagi konsumen Indonesia, temuan ini relevan dengan tren pasar yang semakin kompetitif. Banyak pabrikan berlomba menambah fitur canggih demi memenangkan persaingan, namun tanpa pemahaman pengguna, teknologi tersebut hanya menjadi pajangan yang menambah harga jual tanpa memberikan nilai nyata.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index