JAKARTA - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) menilai bahwa persaingan dalam meraup penghimpunan dana menjadi tantangan utama industri perbankan pada paruh kedua tahun 2026. Ketersediaan likuiditas yang kian menyempit ini sejalan dengan lonjakan rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) di sektor perbankan.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengungkapkan, LDR industri perbankan melonjak ke level 88,32 persen pada Juni 2026 dari posisi 84 persen pada penghujung tahun 2025. Pergerakan tersebut membuktikan bahwa laju penyaluran kredit melompat lebih kencang bila dibandingkan perolehan serapan dana masyarakat.
“Artinya penyaluran kredit tumbuh lebih cepat dibandingkan penghimpunan dana sehingga likuiditas mengetat dan kompetisi memperebutkan dana menjadi semakin ketat. Kondisi ini menjadi tantangan utama bagi kami di perbankan pada semester II/2026 ini,” kata Anggoro dalam Konferensi Pers Kinerja Kuartal II/2026 BSI secara virtual, Jumat (21/8/2026).
Pada sisi lain, Anggoro menyoroti arah kebijakan moneter dalam negeri yang cenderung makin ketat di sepanjang triwulan II 2026. Bank Indonesia (BI) mengambil tindakan dengan mengerek suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) dalam durasi dua bulan, menggeser posisinya dari 4,75 persen ke level 5,75 persen demi memperkokoh ketahanan kurs rupiah.
Aksi kenaikan BI Rate tersebut bergulir di tengah kondisi suku bunga acuan Fed Fund Rate yang bertahan rapat di kisaran 3,75 persen.
Menurut pemaparannya, langkah strategis moneter ini sukses memicu penguatan nilai tukar rupiah sekaligus menarik kembali derasnya arus modal asing masuk ke pangkuan Indonesia. Pihak BI kemudian memilih untuk mempertahankan BI Rate pada kisaran 5,75 persen saat Rapat Dewan Gubernur BI edisi Juni 2026.
Anggoro menilai sikap tersebut meniupkan angin segar serta sinyal positif terhadap dinamika roda ekonomi nasional yang berangsur pulih.
Kendati dibayang-bayangi pengetatan moneter dan keterbatasan likuiditas, Anggoro menegaskan bahwa pondasi dasar ekonomi Indonesia tetap berdiri kokoh. Laju inflasi pada Juni 2026 terekam sebesar 3,34 persen secara tahunan akibat kenaikan tarif sektor energi dan bahan pangan, sementara inflasi inti masih terjaga aman pada kisaran 2,76 persen.
Di saat bersamaan, kinerja penjualan eceran kembali menunjukkan tren positif dengan tumbuh 0,9 persen pada Juli 2026 setelah sempat terkoreksi minus 3,9 persen. Pemulihan ini dipandang sebagai indikator awal kebangkitan daya beli masyarakat memasuki paruh kedua 2026.
“Sebuah sinyal awal pemulihan permintaan memasuki semester 2 ini,” ujarnya.
Melihat dari kacamata global, lembaga S&P Global turut mengokohkan peringkat utang Indonesia pada level BBB untuk tenor jangka panjang dan AAA untuk tenor jangka pendek lewat prospek stabil per 13 Juli 2026.
Anggoro berpandangan bahwa perpaduan antara kokohnya ekonomi domestik serta legitimasi lembaga pemeringkat dunia memberi ruang gerak bagi dunia perbankan untuk memacu ekspansi pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan.