Pakar Ungkap Penyebab dan Cara Mengatasi Sulit Konsentrasi Saat Stres

Pakar Ungkap Penyebab dan Cara Mengatasi Sulit Konsentrasi Saat Stres
Ilustrasi sulit konsentrasi.

JAKARTA - Banyaknya urusan yang harus diselesaikan dalam waktu bersamaan terkadang membuat beban pikiran menumpuk. Baru saja menangani satu tugas, perhatian kerap teralih pada pekerjaan lain yang menanti.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada penurunan fokus harian. Seseorang mungkin membaca pesan berulang kali, mendadak lupa dengan hal yang hendak dilakukan, atau membutuhkan durasi lebih lama demi menuntaskan tugas sederhana.

Penurunan daya fokus ini erat kaitannya dengan kondisi tekanan mental. Saat mengalami stres, perhatian seseorang cenderung terserap oleh sumber kekhawatiran alih-alih tertuju pada pekerjaan yang ada di depan mata.

Ahli neurologi kognitif Dr. Stephanie Buss menjelaskan bahwa tekanan mental mampu menarik fokus seseorang keluar dari tugas utamanya menuju hal yang memicu kekhawatiran.

"Ketika Anda stres, fokus Anda tertarik dari tugas yang sedang dikerjakan dan Anda mungkin mulai memikirkan atau mengkhawatirkan sumber stres tersebut. Hal ini dapat menurunkan kejernihan mental dan membuat Anda lebih sulit berkonsentrasi," ujar Buss.

Sulit menjaga fokus saat menghadapi tumpukan tugas tidak serta-merta mengindikasikan adanya gangguan fungsi memori. Pikiran yang dipenuhi rasa cemas memang menghambat penerimaan informasi secara optimal.

Stres sendiri merupakan respons alami tubuh dalam menghadapi tuntutan. Pada kadar tertentu, tekanan ini berguna untuk memicu kewaspadaan, namun jika berlebihan dapat mengganggu produktivitas.

Guna mengurangi beban mental tersebut, terdapat beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan. Pertama, selesaikan pekerjaan satu per satu secara berurutan dan hindari membagi perhatian pada banyak tugas sekaligus.

Kedua, buat daftar prioritas secara tertulis agar pikiran tidak terbebani kewajiban mengingat seluruh deretan tugas. Ketiga, minimalkan gangguan digital dengan mematikan notifikasi ponsel atau media sosial saat bekerja.

Keempat, alokasikan jeda waktu untuk beristirahat serta penuhi kebutuhan tidur agar fungsi otak tetap optimal. Kelima, kelola sumber tekanan dengan memilah pekerjaan yang bisa didelegasikan atau dijadwalkan ulang.

Kendati penurunan fokus sesekali tergolong wajar, kondisi yang berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas harian perlu diwaspadai. Jika timbul kesulitan bahasa atau penurunan kemampuan kognitif yang signifikan, penanganan dari dokter atau tenaga profesional sangat disarankan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index