Arab Saudi Terjepit, Pakar Sebut Mungkin Harus Berunding dengan Iran

Kamis, 17 September 2026 | 20:25:00 WIB

ENERGINEWS.ID — Arab Saudi berada dalam posisi sulit karena Amerika Serikat tidak memberi bantuan langsung dalam konflik melawan Houthi, tetapi justru menekan Riyadh agar tidak membuka jalur negosiasi dengan Iran. Penilaian itu disampaikan Cyrus Schayegh, Profesor Sejarah dan Politik Internasional di Geneva Graduate Institute, kepada Al Jazeera.

Pakar hubungan internasional menilai Uni Emirat Arab dan Arab Saudi tengah mengubah peta kekuatan strategis di kawasan Teluk. Cyrus Schayegh, pengajar di Geneva Graduate Institute, menyebut kedua negara sebagai aktor Teluk paling berpengaruh sehingga setiap langkah mereka berdampak luas.

"Keduanya adalah negara Teluk yang paling berpengaruh. Jadi, tindakan mereka memiliki dampak penting," ujar Schayegh kepada Al Jazeera.

UEA Bermain di Dua Sisi

Schayegh menyoroti langkah UEA yang beberapa pekan lalu mengumumkan penghentian perdagangan dengan Iran. Kebijakan itu bertolak belakang dengan sikap mereka dalam pertemuan BRICS terbaru.

Dalam forum tersebut, UEA justru menjalin hubungan yang dinilai sangat hangat dengan presiden Iran. Menurut Schayegh, Abu Dhabi sadar komunikasi dengan Teheran tetap perlu dijaga.

"Mereka paham perlunya terus menjalin komunikasi dengan Iran. Jadi, mereka mengambil langkah di kedua sisi," ungkapnya.

Mengapa Riyadh Disebut Terjepit

Berbeda dari UEA, Arab Saudi menghadapi dilema lebih rumit. Washington tidak memberikan bantuan langsung saat Riyadh berkonflik dengan kelompok Houthi di Yaman.

Di saat bersamaan, Amerika Serikat menekan Arab Saudi agar tidak menempuh jalur negosiasi dengan Iran, Oman, dan negara-negara Teluk lainnya. Tekanan itu membuat ruang gerak Riyadh menyempit.

"Ini adalah masalah besar bagi Arab Saudi, dan pada titik tertentu mereka mungkin memutuskan untuk sedikit menjaga jarak dari Amerika Serikat serta benar-benar menelan pil pahit ini dan berbicara dengan pihak Iran," pungkas Schayegh.

Perang Yaman dan Tuduhan Serangan ke Mekkah

Situasi ini muncul di tengah eskalasi perang antara pasukan Yaman yang didukung Saudi dan kelompok Houthi. Konflik keduanya dilaporkan makin sengit dalam periode terakhir.

Perkembangan terbaru adalah tuduhan bahwa Houthi melancarkan serangan ke kota Mekkah. Tuduhan tersebut belum dijelaskan secara rinci sumber maupun verifikasinya dalam pemberitaan yang beredar.

Pilihan Sulit di Meja Riyadh

Schayegh menggambarkan keputusan Arab Saudi sebagai persoalan strategis jangka panjang. Menjaga jarak dari Amerika Serikat berarti melepas salah satu penopang keamanan utama Riyadh selama ini.

Sebaliknya, membuka dialog dengan Iran berisiko menimbulkan ketegangan baru dengan Washington. Namun, tanpa bantuan langsung AS dalam konflik melawan Houthi, posisi Arab Saudi dinilai kian tidak nyaman.

Yang ditunggu sekarang adalah apakah Riyadh benar-benar mengubah arah kebijakan luar negerinya, atau tetap bertahan dalam orbit Amerika Serikat sambil mencari celah komunikasi dengan Teheran.

Terkini