JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa tidak terdapat gempa susulan di wilayah NTT dengan magnitudo melebihi 5 yang terdeteksi sepanjang sepekan terakhir hingga 15 September 2026.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyampaikan, temuan ini didapatkan dari pemetaan statistik atas dinamika gempa susulan pasca-gempa utama bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
"Jadi berdasarkan data tersebut, kami menyimpulkan bahwa aktivitas gempa-gempa di atas 5 itu sudah mulai meluruh, sudah tidak ada aktivitas gempa di atas 5," ujar Wijayanto dalam agenda perkembangan gempa di Flores, Selasa (15/9/2026).
Wijayanto menjelaskan, kajian penyusutan getaran susulan ini memanfaatkan bermacam pendekatan matematis ilmiah, seperti formula Omori, Utsu, Mogi 1, hingga Mogi 2. Kendati tren frekuensi menyusut, potensi timbulnya getaran susulan di NTT dinilai masih tetap ada.
"Tidak menutup kemungkinan nanti masih bisa terjadi, tapi tentu nanti BMKG akan terus mengupdate informasi apabila nanti ada terjadi gempa susulan di atas 5," ucap Wijayanto.
Hingga saat ini, sambung Wijayanto, pihak BMKG mencatat kemunculan gempa-gempa susulan berada di kisaran bawah magnitudo 4.
"Dalam artian kalau terjadi kerusakan pun hanya kerusakan minor, sangat ringan, tidak sampai membahayakan," kata Wijayanto.
Wijayanto menegaskan, BMKG bakal rutin mengawasi pergerakan tektonik di Flores serta menyajikan pembaruan kabar bilamana terjadi gempa susulan berskala lumayan besar.
Ia mengingatkan warga untuk tetap tenang sembari memantau pengumuman resmi yang dipublikasikan secara riil melalui laman BMKG.
"Masyarakat diimbau tetap mewaspadai karakteristik wilayah NTT yang memang memiliki tingkat kegempaan tinggi," ujar Wijayanto.