Apakah Cat Rambut Menyebabkan Kanker Payudara Simak Penjelasan Pakar

Jumat, 11 September 2026 | 02:55:01 WIB
Ilustrasi Cat Rambut.

JAKARTA - Kabar mengenai pemakaian cat rambut yang disebut memicu timbulnya risiko kanker payudara hingga 60 persen sempat menjadi perbincangan hangat di jejaring sosial. Kendati demikian, benarkah anggapan tersebut?

Kendati terdapat hasil riset yang menjadi alasannya, Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB, Samuel Stemi, mengingatkan bahwa publik perlu mencermati temuan studi itu secara teliti supaya tidak mengalami kekeliruan penafsiran.

Riset yang dimaksud adalah kajian dari National Institute of Environmental Health Sciences (NIEHS) AS yang diterbitkan di International Journal of Cancer pada 4 Desember 2019. Kajian itu melibatkan sebanyak 46.709 subjek perempuan.

Akan tetapi, menurut Samuel, persentase yang beredar di dunia maya tidak dapat dimaknai secara dangkal sebagai ancaman langsung untuk semua pemakai cat rambut.

"Angka ini harus dipahami secara hati-hati. Ini adalah peningkatan risiko relatif, bukan berarti 60 persen pengguna cat rambut akan terkena kanker payudara," ujar Samuel, seperti dikutip dari laman IPB University.

Samuel menerangkan lebih lanjut bahwa penelitian tersebut tergolong studi observasional yang memperlihatkan adanya keterkaitan, bukannya membuktikan hubungan sebab dan akibat secara langsung.

Kajian itu memang mendapati adanya korelasi antara pemakaian pewarna rambut jenis permanen dengan lonjakan risiko kanker payudara.

Meskipun begitu, kenaikan risiko relatif sekitar 60 persen tersebut secara spesifik ditemukan pada kelompok perempuan kulit hitam (African American) yang mengaplikasikan pewarna rambut jenis permanen setiap 5–8 minggu atau dengan frekuensi lebih sering. Terdapat pula peserta perempuan kulit putih dalam kajian tersebut.

Terhadap seluruh peserta, pemakaian cat rambut jenis permanen dalam rentang 12 bulan sebelum pengujian dihubungkan dengan sekitar 9 persen kenaikan risiko. Pada responden perempuan kulit putih, angkanya ada di kisaran 7 persen, sedangkan pada perempuan kulit hitam berada pada angka sekitar 45 persen.

Menurut Samuel, bukti ilmiah mengenai keterkaitan cat rambut memicu kanker payudara juga belum sepenuhnya konsisten. Dalam meta-analisis lain yang memadukan 14 pengujian dengan melibatkan lebih dari 210.000 subjek mendapati kenaikan risiko secara menyeluruh ada di angka sekitar 7 persen.

"Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara penggunaan pewarna rambut permanen, terutama penggunaan yang sering, dengan peningkatan risiko kanker payudara pada kelompok tertentu, tetapi belum dapat disimpulkan bahwa cat rambut secara langsung menyebabkan kanker," tutur Samuel.

Mengenai kandungan zat kimia pada cat rambut, Samuel menjelaskan bahwa produk ini memiliki bermacam-macam formulasi. Salah satu golongan bahan yang menjadi perhatian utama yaitu aromatic amines, termasuk p-phenylenediamine (PPD).

Walaupun demikian, hadirnya zat kimia di dalam produk tidak serta-merta membuktikan bahan tersebut menimbulkan kanker pada tubuh manusia. Ia turut mengingatkan bahwa formulasi cat rambut saat ini sudah sangat berkembang, di mana beberapa bahan yang terbukti bersifat karsinogenik telah ditarik maupun dibatasi penggunaannya.

Samuel menegaskan agar masyarakat tidak perlu cemas berlebihan, melainkan tetap bertindak bijak sewaktu memakai produk cat rambut. Gunakanlah produk yang terdaftar resmi, mematuhi petunjuk pemakaian, membatasi frekuensi pengecatan, serta memastikan kondisi kulit kepala sedang tidak terluka atau iritasi.

"Jika seseorang sesekali mengecat rambut, tidak ada dasar ilmiah yang kuat untuk mengatakan bahwa ia harus takut akan terkena kanker payudara karena aktivitas tersebut," ujarnya.

Akan tetapi, untuk penggunaan yang teramat sering dan berlangsung dalam jangka waktu bertahun-tahun, terutamanya dengan produk permanen, ia menyarankan agar frekuensinya diminimalkan serta memilih produk yang mengantongi profil keamanan yang baik.

Terkini