Langkah Penting Melindungi Anak dari Dampak Abu Vulkanik Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 02:13:01 WIB
Ilustrasi Anak Anak Menggunakan Masker.

JAKARTA — Anak-anak tergolong sebagai salah satu kelompok yang paling rentan menghadapi bahaya paparan abu vulkanik. Butiran halus abu yang terhirup berpotensi memicu iritasi pada saluran pernapasan, batuk, pilek, sampai sesak napas.

Berikut sejumlah panduan praktis untuk melindungi buah hati dari dampak paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih terus berlangsung.

Material abu vulkanik bukanlah debu jalanan biasa. Kandungan material ini terdiri atas kombinasi fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran mikroskopis yang sangat rentan memicu iritasi saluran napas saat terhirup.

Paparan ini juga dapat menimbulkan gangguan pada mata dan kulit, sementara penurunan kualitas udara berisiko memperburuk kondisi kesehatan anak dengan riwayat penyakit tertentu.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), memaparkan bahwa abu vulkanik sanggup memicu bermacam keluhan pernapasan akut.

"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," jelas Wahyuni.

Guna meminimalkan risiko dampak kesehatan tersebut, orang tua dapat menerapkan beberapa langkah perlindungan sesuai saran IDAI berikut ini.

Usahakan Anak Tetap di Dalam Rumah

Opsi terbaik saat kualitas udara memburuk akibat hujan abu vulkanik adalah memastikan anak tetap beraktivitas di dalam rumah. Tutup rapat akses pintu, jendela, serta ventilasi yang bisa menjadi celah masuknya abu.

Nonaktifkan pendingin ruangan yang menyedot udara luar, seperti AC, atau alihkan ke sistem recirculation.

Hindari pengoperasian kipas angin sebab hembusan anginnya dapat membuat endapan abu pada lantai atau perabot kembali beterbangan dan terhirup.

Gunakan Masker Sesuai Usia Anak

Apabila anak terpaksa keluar ruangan, pakaikan masker khusus anak dengan ukuran yang pas. Penggunaan masker sangat krusial untuk menyaring partikel abu agar tidak mengontaminasi saluran pernapasan.

Anak dengan riwayat asma atau alergi wajib membawa persediaan obat rutin atau inhaler pelega sesuai resep dokter.

Selain itu, jauhkan anak dari sumber polusi indoor lainnya, seperti paparan asap rokok dan asap area dapur, yang sanggup memperparah iritasi.

Lindungi Mata dan Kulit Anak

Partikel abu vulkanik berisiko menimbulkan peradangan pada mata dan permukaan kulit. Saat terpaksa ke luar rumah, pakaikan anak busana tertutup beserta kacamata pelindung untuk meminimalkan paparan.

Jika mata terimbas abu dan terasa perih, segera basuh menggunakan air bersih mengalir dan larang anak menggosok matanya. Setelah tiba di rumah, segera mandikan anak dan ganti seluruh pakaian yang dikenakan.

Bersihkan Rumah Tanpa Membuat Abu Beterbangan

Saat mengondisikan area rumah dari endapan abu, jauhkan anak-anak dari lokasi pembersihan. Hindari menyapu abu dalam keadaan kering karena dapat memicu partikel abu berhamburan kembali ke udara.

Sebagai alternatif, gunakan kain lap basah, pel lembap, atau siram dengan air. Pastikan pula wadah penampungan makanan dan minuman anak tertutup rapat.

Jangan Abaikan Keluhan Anak

Orang tua harus ekstra tanggap memantau perkembangan fisik anak selama periode bencana hujan abu, terutama bagi anak yang mengidap asma, alergi, atau gangguan paru kronis.

Segera larikan anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika tampak gejala gangguan pernapasan serius, seperti laju napas yang sangat cepat, cekungan pada dinding dada, atau saturasi oksigen berada di bawah 94 persen.

Keluhan batuk maupun sesak yang kian memburuk pada anak penderita asma juga memerlukan penanganan medis secepatnya.

Di samping perlindungan fisik, kesehatan mental anak juga patut diperhatikan. Berikan penjelasan secara bijak sesuai usia anak, pahami kecemasannya, serta batasi konsumsi tayangan bencana yang berpotensi memicu trauma.

Demikian panduan mendasar dalam melindungi anak dari dampak paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung.

Terkini