Pilihan Pelindung Pernapasan Darurat Saat Masker N95 Langka di Pasar

Selasa, 08 September 2026 | 04:36:01 WIB
Ilustrasi Memakai Masker.

JAKARTA - Masker jenis N95 atau KN95 merupakan pelindung pernapasan ideal guna mencegah paparan abu vulkanik karena mampu memfiltrasi hingga 95 persen partikel halus, mineral, bebatuan, serta silika berbahaya.

Namun dalam kondisi darurat, ketersediaan masker ideal kerap langka di minimarket maupun apotek akibat diborong masyarakat, seperti fenomena kelangkaan stok masker yang terjadi di wilayah Bekasi.

"Iya [masker] kosong. Semua varian kosong. Habis semua, pada beli karena banyak abu," ujar salah satu penjaga apotek di Bekasi pada Senin (7/9), seperti dilansir Detik.

Kondisi serupa dialami apotek lain di sekitarnya yang hanya menyisakan sedikit stok masker medis biasa.

"Adanya ini doang, sisa ini. Satu kotak harganya Rp 21 ribu," kata penjaga apotek lainnya, Nathania.

Kelangkaan ini memaksa masyarakat menggunakan opsi pelindung pernapasan darurat sementara guna meminimalkan paparan abu vulkanik di area hidung dan mulut.

Bahan kain seperti bandana, kaus, kerudung, hingga sapu tangan bisa dimanfaatkan sebagai penutup wajah sementara, kendati efektivitas filtrasinya terbatas dan tidak menempel rapat.

Penggunaan masker fashion atau scooter mask juga kurang efektif menyaring partikel halus dalam jumlah besar jika dibandingkan dengan standar masker industri atau medis.

Alternatif lainnya adalah memanfaatkan kembali masker kain secara berlapis atau menyelipkan tisu, meski daya filtrasi masker kain diperkirakan hanya sekitar 10 persen.

Dalam situasi paling mendesak, penggunaan kain atau handuk basah dapat dijadikan penutup hidung dan mulut sementara agar partikel abu tidak langsung terhirup ke saluran pernapasan.

Meskipun terdapat berbagai pilihan pelindung sementara, masker standar N95 atau KN95 tetap merupakan pelindung utama yang sangat direkomendasikan karena daya filtrasi tinggi hingga durasi pakai 40 jam.

Terkini