Perkuat Layanan Psikososial Gempa NTT, Kemenkes Kirim 160 Nakes

Selasa, 08 September 2026 | 20:48:01 WIB
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali mengirimkan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) untuk mendukung pemulihan kesehatan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali menerjunkan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) guna menopang pemulihan kesehatan warga terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Sumarjaya mengutarakan bahwa pengerahan TCK Batch 2 kali ini difokuskan untuk memperkokoh layanan psikososial serta kesehatan mental warga di kawasan terdampak.

Akumulasi 160 tenaga kesehatan TCK Batch 2 diberangkatkan melalui Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Senin (7/9). Para nakes tersebut nantinya disebar di empat wilayah, yaitu Kabupaten Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, serta Manggarai Timur.

“Pendekatannya agak berbeda karena ini lebih kepada psikososial, bagaimana kami memberangkatkan tenaga-tenaga yang memberikan kesehatan mental bagi masyarakat di daerah Flores,” ujar Sumarjaya, dikutip dari keterangannya.

Pemberangkatan TCK Batch 2 ini merupakan kelanjutan dari uluran bantuan Kemenkes pada gelombang pertama. Sebelumnya, sebanyak 206 tenaga kesehatan sudah diterjunkan untuk mengawal pelayanan kesehatan warga korban gempa di NTT.

Pada penugasan gelombang kedua, para nakes bakal memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit lapangan. Saat ini beroperasi dua rumah sakit lapangan yang menyokong layanan kesehatan warga terdampak, yakni di Ruteng dan Ngada.

Di samping penanganan medis, TCK juga menyalurkan pendampingan psikososial, terkhusus kepada anak-anak dan warga yang mengalami trauma akibat bencana.

Sumarjaya menyebutkan dampak bencana tak cuma menimbulkan masalah kesehatan fisik, seperti patah tulang dan luka-luka, melainkan juga berpotensi mengganggu kondisi psikologis warga akibat kehilangan harta benda atau pengalaman traumatis menghadapi bencana.

“Untuk saat ini, itu adalah lebih kepada psikososial, bagaimana memberikan edukasi, komunikasi kepada masyarakat terdampak,” lanjut Sumarjaya.

Dokter umum TCK, dr. Shaldy Syifa Azzahri, menyampaikan bahwa persiapan sebelum menjalankan misi dilakukan dengan membawa perlengkapan dan bahan medis yang dibutuhkan untuk menyokong pemulihan masyarakat. Di samping kesiapan logistik, nakes pun perlu memastikan kondisi fisik dan mental personal sebelum diterjunkan.

“Sebagai seorang dokter, kami menyiapkan beberapa alat-alat dan juga bahan yang bisa kami bantu untuk memperbaiki dan juga memulihkan kesehatan masyarakat. Dan pastinya juga sebagai seorang dokter umum, kami juga pastinya bisa mempersiapkan mentalitas kami sendiri dan juga kesehatan kami sendiri sebelum kami membantu orang lain,” kata Shaldy.

Shaldy menilai penanganan pascagempa tidak sekadar berfokus pada pemulihan fisik. Usai beberapa pekan berlalu dari momen bencana, dukungan terhadap kondisi psikologis masyarakat turut menjadi pilar penting dalam alur pemulihan.

“Ini bukan lagi hanya memperbaiki kesehatan dari fisiknya saja, tapi juga kami harus membantu untuk memulihkan kesehatan psikologisnya juga. Jadi di sini kami membantu sama-sama untuk bisa menjadi bagian dari proses pemulihan mereka,” ujarnya.

Sementara itu, dr. Rayhendra Hanif, dokter umum TCK asal Padang, menuturkan dirinya mematangkan kondisi mental serta perbekalan pribadi, termasuk obat-obatan yang diperlukan selama masa penugasan.

Rayhendra tergerak mendaftarkan diri sebagai TCK lantaran memiliki riwayat pengalaman menghadapi musibah gempa. Ia pernah merasakan gempa di Padang pada 2009 kala masih menduduki bangku sekolah dasar. Pengalaman tersebut mendorong kepeduliannya untuk mengabdi bagi masyarakat yang menghadapi situasi serupa.

“Saya dulu dari Padang tahun 2009 itu juga sudah pernah gempa. Jadi hati saya juga tergerak untuk pergi ke NTT karena kondisinya mirip, sama-sama gempa,” ungkap Rayhendra.

Dalam penerapannya, penugasan TCK memedomani standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengan durasi masa tugas selama 14 hari sebelum dilakukan pergantian personel. Penempatan tenaga kesehatan juga menyesuaikan dengan tenggat masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemerintah Provinsi NTT hingga 12 September 2026 dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan.

Selain menopang layanan psikososial, TCK turut membantu perawatan pasien pascaoperasi. Sebelumnya, Kemenkes telah menerjunkan dokter spesialis, meliputi spesialis ortopedi dan bedah, untuk menangani pasien yang memerlukan tindakan bedah.

Kemenkes juga memperkuat pemantauan surveilans kesehatan di zona terdampak guna mengamati dan mengidentifikasi potensi penyakit menular. Langkah ini ditempuh sebagai upaya mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) dan wabah pascabencana.

“Tim kami surveillance juga kami turunkan untuk melihat, mengidentifikasi penyakit-penyakit apa yang terjadi di sana supaya tidak terjadi potensi KLB dan wabah,” tandas Sumarjaya.

Kemenkes terus menjamin kepastian dukungan layanan kesehatan bagi warga terdampak gempa di NTT tetap berjalan, baik lewat penguatan tenaga kesehatan maupun sokongan terhadap pemulihan kesehatan fisik dan psikologis masyarakat.

Terkini

IHSG Tertekan ke Level 6.619, Saham Energi Tampil Melaju

Selasa, 08 September 2026 | 22:26:31 WIB

Eskalasi AS-Iran dan Bencana Domestik Tekan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 08 September 2026 | 22:20:01 WIB

Penyebab Saham Kena Suspensi BEI dan Strategi Bagi Investor

Selasa, 08 September 2026 | 22:08:31 WIB

Emas vs Deposito vs ORI: Mana Investasi Pemula Terbaik?

Selasa, 08 September 2026 | 22:03:32 WIB