Pemprov Jateng Minta Intervensi Pasar Meski Stok Beras Surplus

Selasa, 08 September 2026 | 19:44:02 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menginstruksikan percepatan aksi intervensi pasar beserta gerakan pangan murah guna menekan kenaikan harga beras di tingkat pengecer, walaupun ketersediaan stok di kawasan tersebut mencatatkan surplus hingga 1,53 juta ton.

Merujuk pada kalkulasi Pemprov Jateng, ketersediaan beras sampai Agustus 2026 menembus 4.348.101 ton dengan tingkat kebutuhan berada di angka 2.809.248 ton, sehingga menyisakan surplus sejumlah 1.538.853 ton.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengimbau Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) beserta Perum Bulog Jawa Tengah untuk mengawal kelancaran alur distribusi beras dari level produsen sampai konsumen demi mengantisipasi tekanan inflasi.

"Stok beras kami masih aman. Untuk mengantisipasi kenaikan harga, siapkan Satgas Pangan dan optimalkan Gerakan Pangan Murah, penyaluran bantuan pangan, penyaluran beras SPHP, serta perbanyak kios pangan murah," ujar Luthfi saat menerima audiensi pimpinan Bulog dan Dishanpan Jateng di Semarang, Selasa (8/9/2026).

Pencatatan harga pada 2–6 September 2026 di beberapa pasar tradisional meliputi Pasar Johar Semarang, Pasar Raya Salatiga, Pasar Bandarjo Ungaran, Pasar Projo Ambarawa, Pasar Kendal, serta Pasar Jungke Karanganyar menunjukkan lonjakan harga beras rata-rata di angka 2,5%.

Kenaikan terpantau pada komoditas beras medium non-SPHP sebesar 0,74% sampai 11,11% melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) menjadi Rp14.000–Rp15.000 per kg. Beras jenis premium melambung 0,67% hingga 14,09% melampaui HET menjadi Rp15.000–Rp17.000 per kg. Sementara itu, beras SPHP terbilang stabil di kisaran Rp60.000–Rp62.000 untuk tiap kemasan 5 kg.

Melonjaknya harga di level eceran disinyalir lantaran tingginya harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani yang rata-rata menyentuh Rp7.300 per kg serta Gabah Kering Giling (GKG) pada level penggilingan sebesar Rp8.666 per kg. Situasi ini mendorong rantai distributor hingga eceran menahan pasokan akibat terimpit margin dan batasan HET.

Kepala Dishanpan Jawa Tengah Widi Hartanto mengutarakan bahwa jajarannya menggencarkan pemantauan pasar beserta eksekusi Gerakan Pangan Murah (GPM). Hingga kini, GPM telah digelar sebanyak 1.083 kali dengan membukukan omzet mencapai Rp24,9 miliar.

Wakil Pemimpin Wilayah Bulog Jawa Tengah Gandi Prarista menambahkan bahwa distribusi beserta penyerapan beras SPHP di wilayahnya sudah mencapai 100% dari target. Stok beras medium yang dikelola Bulog Jateng tercatat berada pada kisaran 300.000 ton.

"Dipotong penyaluran bantuan pangan sekitar 90.000 ton untuk periode Juli–September 2026, stok beras medium Bulog Jateng di akhir tahun diproyeksikan masih tersisa 200.000 ton, di luar cadangan beras premium," kata Gandi.

Terkini