SSIA Pertahankan Target Pendapatan Rp7,2 Triliun pada Akhir Tahun 2026

Senin, 07 September 2026 | 05:04:32 WIB
PT Surya Semesta Internusa Tbk.

JAKARTA — PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA), emiten yang terafiliasi dengan grup Djarum, tetap mempertahankan target pendapatan senilai Rp7,2 triliun serta laba bersih senilai Rp400 miliar hingga akhir 2026.

VP of Investor Relations dan Sustainability Erlin Budiman menyampaikan bahwa penetapan target pendapatan Rp7,2 triliun hingga akhir tahun ini merupakan hasil penyesuaian dari target awal tahun sebelumnya yang berkisar Rp7,5 triliun. Walau mengalami penurunan target, perseroan tetap optimistis meraih pertumbuhan tahunan sekitar 63 persen.

Di sisi lain, laba bersih diproyeksikan dapat menyentuh angka Rp400 miliar, atau melesat sekitar 570 persen dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya.

"Perseroan masih membidik pertumbuhan pendapatan sekitar 63% secara tahunan senilai Rp7,2 triliun. Sementara itu, laba bersih ditargetkan mencapai Rp400 miliar, atau melonjak sekitar 570% dibandingkan tahun sebelumnya," ujarnya dalam paparan publik, Senin (7/9/2026).

Erlin menjelaskan bahwa penyesuaian target pendapatan dipengaruhi oleh tertundanya beberapa transaksi penjualan lahan industri serta perolehan kontrak pada lini bisnis konstruksi anak usaha, yaitu PT Nusa Raya Cipta Tbk. (NRCA).

SSIA juga menetapkan alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp2,2 triliun pada 2026. porsi paling besar difokuskan untuk mengakselerasi pembangunan kawasan industri Subang Smartpolitan.

Erlin menambahkan bahwa sekitar Rp1,5 triliun dari total capex tahun ini dialokasikan untuk Subang Smartpolitan, yang meliputi pembebasan lahan serta pengembangannya. Hingga semester I/2026, perseroan sudah merealisasikan capex sekitar Rp1,1 triliun. Dari alokasi Subang tersebut, sekitar Rp330 miliar telah digunakan sehingga penyerapan dinilai masih sesuai dengan rencana awal.

Di luar proyek Subang, SSIA menyiapkan anggaran sekitar Rp330 miliar untuk melesakkan sejumlah proyek hospitality, termasuk pengembangan Paradise dan properti di Bali. Realisasi belanja proyek ini telah mencapai sekitar Rp200 miliar hingga semester I/2026.

Langkah ekspansif di Subang sangat krusial karena kawasan ini ditempatkan sebagai pendorong utama pertumbuhan SSIA dalam jangka menengah maupun panjang. Peningkatan infrastruktur, seperti akses jalan tol, konektivitas ke Pelabuhan Patimban, dan ekosistem kendaraan listrik, diharapkan mampu menggaet minat investor lokal maupun asing.

Sikap optimistis tersebut didukung oleh kinerja semester I/2026 yang mencatatkan pendapatan konsolidasi Rp3,35 triliun, melesat dari Rp2,12 triliun pada periode sama tahun lalu. Lini bisnis properti menjadi pendorong utama, dengan lonjakan pendapatan sebesar 274,1 persen menjadi Rp1,27 triliun dari Rp339 miliar pada semester I/2025. Kenaikan ini ditopang oleh pengakuan penjualan lahan industri di Suryacipta City of Industry dan Subang Smartpolitan.

Sektor hospitality turut menunjukkan pemulihan signifikan dengan pendapatan naik menjadi Rp471 miliar dari Rp221 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara itu, lini bisnis konstruksi membukukan pendapatan yang cenderung stabil di angka Rp1,7 triliun.

Dari segi profitabilitas, EBITDA SSIA pada semester I/2026 menembus Rp693 miliar, di mana bisnis properti menyumbang sekitar 75 persen dari total EBITDA. Gross margin sektor properti pun merangkak naik menjadi 48,3 persen dari 43,5 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Kedepannya, SSIA menilai Subang Smartpolitan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan. Kawasan ini berpotensi menyerap permintaan sektor industri bernilai tambah, termasuk kebutuhan infrastruktur digital seiring maraknya investasi data center di Indonesia.

Di saat bersamaan, NRCA siap menopang ekspansi kawasan industri dan township lewat proyek konstruksi, sedangkan bisnis hospitality diproyeksikan menyumbang recurring income yang kian besar pascatransformasi dan rebranding aset perseroan.

Terkini