Atasi Flek Hitam Membandel, Perawatan Light Therapy Kian Diminati

Minggu, 06 September 2026 | 21:18:32 WIB
Ilustrasi wajah terpapar sinar UV [FOTO: NET].

JAKARTA - Bertempat tinggal di wilayah beriklim tropis membawa tantangan tersendiri bagi aspek perawatan kesehatan kulit wajah akibat tingginya tingkat paparan sinar ultraviolet (UV). Kondisi cuaca panas yang terjadi secara konstan membuat sebagian besar masyarakat rentan mengalami permasalahan hiperpigmentasi atau timbulnya bercak-bercak kehitaman di kulit.

Kendala flek hitam ini tidak sekadar mengganggu penampilan estetika semata, melainkan kerap kali pula digadang-gadang sangat sulit untuk dihilangkan secara tuntas meskipun penderitanya telah rutin mengaplikasikan pelbagai macam produk perawatan topikal luar.

Pada banyak kasus, hiperpigmentasi akan kembali muncul apabila kulit tidak mendapatkan perlindungan yang memadai.

Direktur Medis Senopati Skin Center sekaligus Ketua PERDOSKI Cabang Jakarta, dr. M. Akbar Wedyadhana Sp.DVE, FINSDV, FAADV, IFAAD menuturkan, bahwa keluhan terkait pigmentasi secara konsisten menempati urutan teratas di berbagai klinik kecantikan di Indonesia.

"Kasus yang paling sering ditemui nomor satu tuh acne atau jerawat. Nomor dua ya flek atau kelainan pigmentasi," papar dr. Akbar dalam media gathering Celluma di Aruna International Summit 2026 bertajuk "Healthy Skin Rewritten at the Cellular Level" di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

"Kami di Indonesia tuh paparan UV-nya kan tinggi banget. Makanya masalah flek itu menjadi sesuatu yang sering terjadi," tambah anggota Celluma Indonesia Clinical Advisory Board sekaligus pendiri Klinik Utama SkinNaire, dr. Feilicia Henrica Sp.DVE, FINSDV.

Kasus kelainan pigmentasi kulit pada prinsipnya memiliki tingkat derajat keparahan yang bervariasi, sangat bergantung pada seberapa dalam posisi letaknya di lapisan kulit.

"Hiperpigmentasi ini letaknya dalam, relatif lebih lama atau lebih sulit untuk diobati dibanding kalau dia ada di permukaan kulit," terang dr. Akbar.

Guna menanggulangi permasalahan membandel yang kerap kebal tatkala diterapi menggunakan krim oles seperti kasus hiperpigmentasi dalam, teknologi light therapy (terapi cahaya) atau yang juga dikenal dengan sebutan photobiomodulation (PBM) kini mulai banyak dilirik sebagai pendekatan metode pengobatan medis yang menjanjikan.

Pancaran energi gelombang cahaya khusus ini terbukti mampu menembus jauh hingga ke bagian dasar struktur kulit untuk melakukan perbaikan jaringan yang rusak.

Dokter Feilicia mendapati adanya indikasi perbaikan hasil klinis yang amat signifikan pada pasien yang mengalami jenis kelainan flek terdalam.

"Melasma dermal ini sangat sulit diterapi. Nah, ternyata membaik dengan PBM," ucap dr. Feilicia.

Keistimewaan mendasar dari metode perawatan estetika menggunakan teknologi PBM ini terletak pada mekanisme respons biologis dari jaringan sel kulit di sekitarnya.

Tatkala pancaran energi cahaya menyinari titik area spesifik tertentu yang bermasalah, sel-sel kulit lain di sekitarnya ternyata turut memberikan respons terhadap energi tersebut secara positif.

Fenomena ini terbukti nyata dari hasil suatu pengamatan medis yang menerapkan penyinaran cahaya secara parsial hanya pada separuh bagian wajah saja.

"Dilakukan split face, jadi yang dilakukan PBM itu hanya satu sisi saja, tapi ternyata perbaikannya itu terjadi pada dua sisinya," ungkap dr. Feilicia.

Temuan adanya efek perluasan pemulihan ini sekaligus membuka peluang lebar ragam inovasi baru di dalam metode pengobatan hiperpigmentasi kronis di masa mendatang, mengingat jaringan sel kulit yang sehat turut berpartisipasi mendorong percepatan perbaikan pada bagian kulit yang mengalami gangguan.

"Jadi ini dihipotesis bahwa mungkin ada efek sistemik," tambah dia.

Di samping memiliki fungsi utama untuk membantu memudarkan noda flek hitam yang telah lama terbentuk di wajah, paparan gelombang spektrum cahaya spesifik ini rupanya turut berkhasiat melindungi kulit dari ancaman risiko kerusakan baru.

Sebelum seseorang memutuskan untuk beraktivitas berat di bawah terik terpaan sinar matahari langsung, kondisi ketahanan kulit dapat dipersiapkan terlebih dahulu melalui rutinitas perawatan terapi PBM.

Simpanan pasokan energi cahaya yang sebelumnya telah tersimpan di dalam sel-sel mitokondria terbukti mampu menekan risiko kulit terbakar atau sunburn secara drastis pada saat pasien berada di lingkungan luar ruangan.

"Ternyata ini bisa untuk sunburn prevention. Jadi dia bisa untuk pencegahan eritema yang ditimbulkan oleh sinar matahari," ungkap dr. Feilicia.

Langkah preventif medis semacam ini sangat dianjurkan bagi setiap individu yang memiliki riwayat masalah kesehatan melasma kronis agar kondisi flek di wajahnya tidak semakin memburuk usai melakukan perjalanan luar ruangan.

Menurut pandangan dr. Feilicia, membangun benteng pertahanan kulit dari lapisan dalam tubuh melalui metode light therapy menjelma sebagai bentuk penanganan yang amat relevan serta rasional untuk diterapkan oleh masyarakat Indonesia, mengingat tingginya intensitas paparan sinar ultraviolet di Tanah Air.

Terkini