Sinyal Dovish The Fed Tekan Dolar AS, Rupiah Diprediksi Menguat

Minggu, 06 September 2026 | 18:11:31 WIB
Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA — Mata uang rupiah diproyeksikan bakal bergerak di dalam kisaran level Rp17.600 sampai dengan Rp17.750 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan pekan depan.

Sementara itu, posisi nilai tukar rupiah sendiri tercatat tengah berada dalam tren penguatan selama beberapa hari terakhir seiring dengan melemahnya performa dolar AS sebagai dampak dari munculnya sinyal dovish yang dilontarkan oleh pihak The Fed.

Pada saat penutupan sesi perdagangan hari Jumat (4/9/2026), mata uang Garuda terpantau menguat sebesar 0,21% atau setara kenaikan 37 poin ke level Rp17.642 per dolar AS. Posisi nilai tukar tersebut sekaligus mencatatkan apresiasi penguatan sebesar 0,28% atau naik sebanyak 50 poin dalam kurun waktu sepekan ke belakang.

Mengutip laporan dari kanal Trading Economics, pergerakan dolar AS saat ini tengah mendapati tekanan menyusul meredupnya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed.

"Pergerakan ini terjadi seiring melemahnya dolar AS setelah para pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan ini, menyusul pernyataan bernada dovish dari seorang pejabat bank sentral," tulis laporan tersebut, Sabtu (5/9/2026).

Bergeser melihat dinamika dari sektor domestik, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengemukakan bahwa kondisi inflasi di dalam negeri terpantau masih terjaga stabil serta menyerukan pentingnya jalinan kerja sama yang semakin erat antara pemerintah, pihak bank sentral, para pelaku usaha, hingga para ekonom demi menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Di sisi lain, laporan tersebut turut menyebutkan bahwa laju penguatan nilai tukar rupiah sempat tertahan oleh adanya kekhawatiran yang kian meningkat bahwa fenomena alam El Niño berpotensi mengganggu stabilitas rantai pasokan pangan sekaligus memicu eskalasi kenaikan harga barang dalam beberapa bulan ke depan.

Di samping itu, sikap kehati-hatian para pelaku pasar juga tampak jelas menjelang agenda perilisan pelbagai data makroekonomi penting pada pekan depan, yang mencakup data posisi cadangan devisa periode bulan Agustus, indeks keyakinan konsumen, serta angka penjualan ritel periode bulan Juli 2026.

Rangkaian data tersebut diproyeksikan mampu memberikan sinyal petunjuk anyar mengenai tingkat permintaan domestik serta arah proyeksi kebijakan moneter selanjutnya.

"Meski demikian, rupiah berada di jalur yang tepat untuk mencatat penguatan selama lima minggu berturut-turut, dengan kenaikan sekitar 0,25% sejauh ini," tulis Trading Economics.

Pada saat yang bersamaan, pihak Pluang melaporkan bahwa dinamika ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed turut memicu pergerakan positif di bursa pasar saham Amerika Serikat.

Laporan tersebut menjabarkan bahwa pergerakan saham pada hampir keseluruhan konstituen indeks S&P 500 mengalami kenaikan selepas Anggota Dewan Gubernur The Fed, Christopher Waller melontarkan pernyataan bernada dovish yang secara simultan turut menyeret turun tingkat imbal hasil (yield) obligasi.

"Federal Reserve tampaknya menerapkan pendekatan 'good cop, bad cop' untuk menjaga stabilitas suku bunga di tengah sinyal-sinyal hawkish yang sempat muncul," ujar mereka.

Sementara itu, analis Doo Financial Futures Lukman Leong berpandangan bahwa tren penguatan rupiah terjadi seiring dengan merosotnya nilai dolar AS setelah para pelaku pasar mulai menurunkan ekspektasi mereka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini menyusul komentar bernada dovish dari pejabat tinggi Bank Sentral AS tersebut.

"Untuk perdagangan Senin [7/9] pekan depan, investor akan mengantisipasi rilis data cadangan devisa Indonesia," ujarnya, Jumat (4/9/2026).

Terkini