BPOM Dorong Industri Farmasi Gabung Perkuat Ekosistem Uji Klinis

Sabtu, 05 September 2026 | 23:57:02 WIB
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Lucia Rizka Andalucia menerima plakat dari Presiden The Indonesian Association for the Study of Medicinals (IASMED) Endang Hoyaranda saat Annual Meeting IASMED di Jakarta, Sabtu (5/

JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengajak pelaku industri farmasi domestik maupun mancanegara untuk terlibat aktif dalam pengembangan ekosistem uji klinis. Langkah ini ditujukan demi memperkokoh kemandirian sektor obat dan alat kesehatan nasional.

“Uji klinis itu tidak murah, mahal. Oleh karena itu, kami juga memfasilitasi industri-industri farmasi, baik yang dari dalam maupun yang dari luar negeri, untuk bergabung mengembangkan diri di Indonesia,” ujar Kepala BPOM Taruna Ikrar saat menghadiri Annual Meeting IASMED 2026 di Jakarta, Sabtu.

Taruna menyampaikan bahwa Indonesia dibekali sederet sumber daya mumpuni guna menopang pelaksanaan uji klinis, mulai dari ketersediaan fasilitas hingga keberagaman kasus yang dapat dijadikan objek penelitian.

Ia menegaskan bahwa uji klinis memegang peranan vital sebagai fondasi utama dalam pengembangan produk kesehatan, baik obat maupun alkes berbasis kimia atau biologi, sebelum resmi dimanfaatkan untuk penanganan medis pasien.

“Semua produk, obat-obat, alat kesehatan, yang digunakan untuk pengobatan, apakah itu produk kimia maupun biologi, itu pintunya adalah uji klinis,” ujarnya.

Pelaksanaan Annual Meeting IASMED 2026 dinilai menjadi wadah strategis yang mempertemukan regulator, akademisi, rumah sakit, industri farmasi, Contract Research Organization (CRO), serta praktisi uji klinik guna memicu kolaborasi lintas sektor.

Menurut Taruna, terdapat tiga aspek kunci yang wajib diperkuat. Pertama, pembentukan ekosistem solid yang mengoneksikan BPOM, Kementerian Kesehatan, rumah sakit, serta sarana riset di seluruh Indonesia.

“Kami membangun ekosistem itu. Terus kami juga dalam hal ini membuat regulasinya, supaya memberikan environment atau lingkungan yang bisa menghidupkan uji klinis,” kata dia.

Kedua, peningkatan kapabilitas ilmu pengetahuan dan kesiapan pelaksana uji klinis. Hal ini mencakup pemilihan produk uji, keandalan fasilitas, hingga kepatuhan terhadap prinsip etika serta standar prosedur uji klinis.

BPOM bersama Kemenkes berkomitmen penuh mendampingi pembenahan seluruh aspek teknis tersebut agar penyelenggaraan uji klinis di tanah air makin teruji.

Ketiga, pendorongan dukungan finansial dari industri mengingat proses uji klinis memerlukan investasi anggaran yang tidak sedikit. Kehadiran industri farmasi menjadi krusial untuk menjaga keberlanjutan riset.

Di sisi lain, Presiden The Indonesian Association for the Study of Medicinals (IASMED) Endang Hoyaranda menyatakan kesiapannya dalam mengawal momentum kolaborasi serta pengembangan kompetensi SDM demi memperkuat ekosistem uji klinis nasional.

Sinergi erat antara pemerintah, regulator, akademisi, dan pelaku industri diharapkan mampu menarik investasi uji klinik tingkat global sekaligus mempercepat hadirnya inovasi terapi kesehatan bagi masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.

“Kemajuan yang kami lihat saat ini merupakan hasil kerja sama seluruh pemangku kepentingan. IASMED akan terus berperan aktif dalam menjaga momentum tersebut dan mendukung terciptanya ekosistem uji klinik yang berkualitas, kompetitif, dan berpusat pada keselamatan pasien,” ujar Endang.

Terkini