JAKARTA - Otot jantung yang menebal tidak selalu menandakan seseorang bakal mengalami henti jantung mendadak. Meski begitu, kondisi tertentu yang memicu penebalan otot jantung mampu mengubah struktur dan kinerja organ tersebut sehingga meningkatkan risiko gangguan irama yang fatal.
Salah satu kondisi yang patut diwaspadai yakni hypertrophic cardiomyopathy (HCM), yaitu penyakit yang menyebabkan otot jantung mengalami penebalan secara tidak wajar. Penebalan ini paling sering melanda bilik jantung, terutama bilik kiri, serta pada sebagian orang dapat menyumbat aliran darah keluar dari jantung.
HCM juga dapat berlangsung tanpa menunjukkan tanda-tanda yang jelas. Sebagian penderita baru menyadari kondisinya sewaktu merasakan keluhan seperti nyeri dada, sesak napas, pusing, jantung berdebar, atau pingsan, khususnya sewaktu beraktivitas.
Jantung tidak cuma mengandalkan kekuatan otot untuk memompa darah, melainkan juga sistem listrik yang mengendalikan setiap denyutnya.
Ketika struktur otot mengalami perubahan akibat HCM, aliran sinyal listrik di dalam jantung turut terganggu. Salah satu jenis yang paling berbahaya yaitu aritmia ventrikel karena bisa memicu jantung kehilangan kemampuan memompa darah secara optimal.
Ahli jantung Cleveland Clinic, Milind Desai, MD, memaparkan bahwa permasalahan pada HCM tidak cuma berhenti pada ukuran otot jantung yang membesar. Susunan otot yang berubah juga membuat beban kerja jantung menjadi lebih berat.
“Ketika mengalami HCM, otot jantung berada dalam kondisi yang tidak teratur. Bayangkan rumah dengan batu bata yang tersusun rapi dibandingkan gereja tua dengan batu bata yang terpasang tidak beraturan. Pola yang tidak teratur ini membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah,” jelasnya, disadur dari Cleveland Clinic.
Di samping susunan otot yang tidak teratur, jaringan parut atau fibrosis juga dapat terbentuk di sela-sela otot jantung yang menebal.
Kehadiran jaringan parut ini menjadi salah satu perubahan struktural yang diperhatikan tim medis sewaktu mengukur risiko komplikasi pada penderita HCM.
Pembuluh darah koroner yang menyuplai darah ke otot jantung turut dapat mengalami kelainan pada kasus HCM. Kondisi ini berpotensi menyebabkan sebagian otot jantung kekurangan pasokan darah yang lantas memicu pembentukan jaringan parut.
Kombinasi otot jantung yang menebal, susunan otot tidak teratur, fibrosis, serta kelainan pembuluh darah koroner dapat menciptakan kondisi yang memicu timbulnya aritmia ventrikel. Jika gangguan irama tersebut semakin parah, kemampuan jantung menyalurkan darah ke seluruh tubuh bisa terhenti secara mendadak.
Rangkaian kondisi itulah yang kemudian berpotensi memicu henti jantung mendadak.
“Aritmia ventrikel dapat menghentikan jantung memompa darah sehingga terjadi henti jantung. Alih-alih berdetak secara efektif, jantung justru bergetar. Ketika hal ini terjadi, pertolongan medis segera diperlukan karena henti jantung dapat berakibat fatal dalam hitungan menit,” paparnya.
Walau HCM mendongkrak risiko henti jantung mendadak, tidak berarti setiap orang dengan kondisi ini dipastikan akan mengalaminya. Tingkat ancamannya bervariasi pada tiap-tiap pasien.
Tim medis dapat menerapkan stratifikasi risiko untuk mengestimasi potensi terjadinya henti jantung mendadak. Evaluasi ini memperhitungkan rekam medis, riwayat kesehatan keluarga, serta kondisi dan fungsi organ jantung pasien.
Beberapa faktor yang dinilai meningkatkan risiko mencakup keberadaan anggota keluarga inti yang wafat mendadak akibat masalah jantung, riwayat henti jantung sebelumnya, hingga adanya aritmia ventrikel yang berlangsung cepat.
Dokter juga bakal memantau keberadaan jaringan parut pada minimal 10 persen otot jantung, penurunan fungsi bilik kiri dengan fraksi ejeksi di bawah 50 persen, serta aneurisma apeks atau area bawah jantung yang melemah dan membalon.
Lantaran tingkat risiko dapat bergeser seiring berjalannya waktu, penderita HCM wajib mengikuti pemantauan berkala. Evaluasi risiko umumnya dilakukan setahun sekali, disertai pemeriksaan ekokardiogram dan MRI jantung setiap tiga hingga lima tahun pada kondisi tertentu.
Diagnosis HCM bukan berarti seseorang dipastikan mengalami henti jantung mendadak.
Mengenali kondisi tersebut lebih dini justru membantu dokter memetakan tingkat risiko sekaligus menentukan penanganan yang tepat.
Bagi pasien yang mengantongi faktor risiko tinggi, dokter dapat mempertimbangkan pemasangan implantable cardioverter defibrillator (ICD). Perangkat ini ditanam di dalam tubuh guna memantau irama jantung sekaligus menghantarkan kejutan listrik saat mendeteksi irama yang berbahaya.
Langkah penanganan juga dapat dibarengi dengan penyesuaian gaya hidup dan kontrol rutin. Jenis obat yang diberikan disesuaikan dengan kondisi pasien, termasuk memperhitungkan apakah HCM yang dialami menimbulkan hambatan aliran darah atau tidak.
Hal yang tidak kalah krusial, penderita wajib mematuhi agenda kontrol dan dilarang menghentikan konsumsi obat tanpa petunjuk dokter.