Harga Minyak Dekati USD 100, AS Kaitkan dengan Serangan Ukraina dan Konflik Iran

Jumat, 04 September 2026 | 00:26:00 WIB

ENERGINEWS.ID — Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, angkat bicara di tengah gejolak pasar energi dunia. Menurutnya, guncangan pasokan saat ini merupakan akumulasi dari dua konflik besar yang terjadi bersamaan.

Serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap fasilitas energi dan kilang minyak Rusia disebut sebagai salah satu pemicu utama. Di sisi lain, eskalasi perang di Iran memperparah situasi lantaran mengganggu jalur distribusi minyak global.

“Kita sedang menghadapi guncangan energi saat ini, yang disebabkan oleh perang di Ukraina karena Ukraina memutuskan untuk menghancurkan aset energi dan produk olahan Rusia, sehingga menciptakan tekanan kenaikan harga secara global, dan kemudian konflik di Iran,” kata Bessent dikutip dari Bloomberg, Rabu (2/9/2026).

Selat Hormuz dan Rantai Pasok yang Kian Rapuh

Selat Hormuz menjadi titik paling rawan dalam rantai pasok energi dunia. Gangguan pengiriman di jalur strategis tersebut akibat perang enam bulan terakhir membuat harga minyak sempat menyentuh level psikologis USD 100 per barel.

Bentrokan yang kembali memanas pekan ini langsung mendorong harga minyak naik lagi. Situasi ini memberi tekanan tambahan pada negara-negara importir yang tengah berjuang mengendalikan inflasi.

Saat ini pasar kembali diliputi ketidakpastian. Setiap eskalasi kecil di kawasan Teluk bisa memicu gejolak harga yang signifikan dalam hitungan jam.

Apa Dampaknya terhadap Harga BBM dan Listrik?

Kenaikan harga minyak dunia selalu berimplikasi langsung pada harga energi domestik di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pemerintah negara importir biasanya dihadapkan pada dua pilihan sulit: menaikkan harga jual BBM atau memperbesar beban subsidi.

Untuk konteks Indonesia, tekanan harga minyak di atas USD 90 per barel membuat alokasi subsidi energi dan kompensasi listrik kian membengkak. Ini bisa memengaruhi postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama.

Pasar minyak global yang bergejolak juga berdampak pada pergerakan harga LPG 3 kg dan tarif angkutan umum. Harga energi yang tinggi biasanya merembet ke harga pangan lantaran biaya logistik ikut naik.

Jalur Pipa Alternatif: Jalan Keluar Jangka Panjang?

Bessent sendiri sebelumnya menyoroti pentingnya infrastruktur pipa minyak sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Menurut dia, peran selat tersebut makin berkurang dalam beberapa tahun ke depan seiring pemasok mengembangkan jalur distribusi alternatif.

Pengembangan pipa lintas negara dinilai bisa menjadi penyangga saat jalur laut utama terganggu konflik. Namun, proyek semacam ini membutuhkan waktu bertahun-tahun dan investasi besar yang tidak bisa menjawab masalah pasokan dalam jangka pendek.

Sampai infrastruktur alternatif itu terwujud, pasar energi global akan tetap rentan terhadap setiap gejolak geopolitik. Negeri-negeri pengimpor pun harus bersiap menghadapi era harga energi yang lebih tinggi dan lebih fluktuatif.

Artikel ini telah tayang sebelumnya di sumber asli dengan judul "Harga Energi Global Melejit, AS Salahkan Ukraina dan Iran".

Terkini