Atasi Kemacetan, KAI Bangun Trem Listrik Rute Bandara ke Canggu

Rabu, 02 September 2026 | 04:12:33 WIB
Penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang Rencana Pengembangan Perkeretaapian di Provinsi Bali pada Selasa (1/9/2026).

JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Badung menyepakati rencana pembangunan moda perkeretaapian trem listrik di Pulau Dewata. Langkah ini disiapkan sebagai solusi mengurai kemacetan koridor Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga Canggu yang mencatatkan pergerakan harian mencapai 150 ribu orang dan 80 ribu kendaraan.

Kesepakatan Bersama mengenai Rencana Pengembangan Perkeretaapian di Provinsi Bali tersebut telah ditandatangani oleh Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin, Gubernur Bali Wayan Koster, dan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa pada Selasa (1/9/2026).

Bobby menuturkan bahwa pertumbuhan ekonomi, sektor pariwisata, serta dinamika mobilitas warga menjadi pertimbangan utama dalam memetakan kebutuhan sistem transportasi Bali ke depan.

“Melalui kesepakatan ini, kami bersama pemerintah daerah mulai mempelajari bagaimana perkeretaapian dapat menjadi bagian dari pengembangan sistem transportasi Bali,” ujar Bobby melalui keterangan tertulis, Rabu (2/9/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, perekonomian wilayah ini pada kuartal II 2026 tumbuh 5,78 persen secara tahunan. PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp89,27 triliun, di mana sektor penyediaan akomodasi serta makan minum menjadi penyumbang terbesar sebesar 21,91 persen.

Data BPS juga mencatat kedatangan wisatawan mancanegara secara langsung ke Bali pada Juni 2026 menembus 605.013 kunjungan, atau naik 4,63 persen dibanding Mei 2026. Sementara itu, penumpang penerbangan internasional dari Bali mencapai 650.838 orang dan penumpang domestik mencapai 329.891 orang.

Bobby menambahkan, karakteristik Bali sebagai destinasi wisata utama menuntut perancangan transportasi yang mampu menyambungkan pusat kegiatan, kawasan wisata, serta moda transportasi existing.

“Bali memiliki karakter mobilitas dan pengembangan wilayah yang khas. Karena itu, kebutuhan, potensi, integrasi antarmoda, hingga kelayakan pengembangan perkeretaapian perlu dipelajari secara menyeluruh agar rencana yang disiapkan memiliki dasar yang kuat dan sesuai dengan kebutuhan daerah,” kata Bobby.

Ruang lingkup kerja sama ini mencakup pengumpulan data, penyusunan studi kelayakan dan Detail Engineering Design (DED), keterhubungan antarmoda, hingga peningkatan kapasitas SDM. Seluruh pihak juga berkoordinasi dengan kementerian, badan usaha, serta pemangku kepentingan terkait.

Perjanjian ini berlaku selama lima tahun dan akan ditindaklanjuti lewat Perjanjian Kerja Sama sesuai kewenangan tiap pihak.

“Setiap tahap akan disiapkan secara cermat, prudent, dan sesuai regulasi agar rencana yang dihasilkan feasible serta memberikan manfaat jangka panjang bagi mobilitas masyarakat dan pengembangan wilayah Bali,” tutur Bobby.

Di sisi lain, Koster menyatakan keberadaan trem listrik berpotensi menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali dengan tetap mengedepankan kenyamanan wisatawan. Jalur sepanjang 12 kilometer ini dirancang dengan memperhatikan fasilitas wisata, pemukiman, lingkungan, dan aktivitas warga lokal.

Trem ini didesain berukuran ringkas dengan lebar dimensi 2 meter lebih, tidak bising, berbasis baterai tanpa kabel melayang, serta ramah lingkungan.

Moda ini diproyeksikan menempuh perjalanan selama 30 menit dengan interval keberangkatan 10 menit, serta mampu mengangkut 60 ribu penumpang per hari atau 40 persen mobilitas kawasan. Tahap groundbreaking dijadwalkan pada Maret 2027, dengan target awal beroperasi pada 2028 dan beroperasi penuh hingga Canggu pada 2029.

Terkini