Kinerja Empat BUMN Karya Membaik pada Semester I 2026 di BEI

Minggu, 30 Agustus 2026 | 18:38:32 WIB
Ilustrasi Pekerja beraktivitas di salah satu gedung bertingkat di Jakarta.

JAKARTA — Performansi empat emiten BUMN Karya mulai menunjukkan sinyal pemulihan pada semester I 2026. Keempatnya kompak mencatatkan perbaikan kinerja keuangan, baik dari sisi lonjakan laba bersih maupun penurunan nilai kerugian.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) memimpin pertumbuhan kinerja di kelompoknya usai mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp193,47 miliar. Pencapaian tersebut melesat 196,51 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Pertumbuhan kinerja turut dibukukan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) yang meraup laba bersih sebesar Rp8,49 miliar atau naik 12,60 persen (YoY) pada semester I 2026.

Di sisi lain, dua emiten karya yang sedang berfokus pada agenda restrukturisasi keuangan, yakni PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), berhasil memangkas porsi kerugian.

WSKT menekan rugi bersih menjadi Rp1,91 triliun pada semester I 2026, membaik dari periode tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,30 triliun. Sementara itu, WIKA membukukan efisiensi operasional dengan memangkas rugi bersih menjadi Rp1,48 triliun dari sebelumnya Rp1,66 triliun.

Penurunan kerugian WIKA ditopang oleh kenaikan pendapatan bersih sebesar 7,19 persen (YoY) menjadi Rp6,27 triliun serta lonjakan laba kotor 87,56 persen (YoY) hingga Rp886,33 miliar.

Di samping itu, manajemen WIKA melaporkan penurunan total utang sebesar Rp2,15 triliun sepanjang kuartal II 2025 hingga kuartal II 2026.

Pasca-restrukturisasi keuangan tahap I pada Februari 2024, WIKA telah melunasi kewajiban kepada pemegang surat utang dan kreditur perbankan senilai Rp4,17 triliun. Dari total tersebut, pembayaran sebesar Rp915,83 miliar direalisasikan sepanjang kuartal II 2025 hingga kuartal II 2026.

Pada periode yang sama, perseroan juga menekan nilai utang kepada mitra kerja sebesar Rp5,02 triliun pasca-restrukturisasi tahap I. Sebesar Rp1,23 triliun diselesaikan pada periode kuartal II 2025 hingga kuartal II 2026, sehingga posisi sisa utang usaha perseroan berada pada level Rp4,32 triliun.

Corporate Secretary WIKA Ngatemin menyatakan bahwa efisiensi operasional serta penurunan liabilitas tetap menjadi fokus utama demi menjaga keberlanjutan bisnis emiten konstruksi tersebut.

“Penurunan utang mitra kerja dan kreditur, pengelolaan kas secara tepat, peningkatan tata kelola, penurunan opex, dan penerapan lean construction menjadi prioritas utama perseroan dalam memastikan keberlanjutan bisnis yang sehat dan kuat,” kata Ngatemin dalam siaran resminya, Sabtu (29/8/2026).

Sementara itu, Corporate Secretary PTPP Joko Raharjo menyebutkan bahwa perseroan tengah menyiapkan strategi penyehatan likuiditas dengan kembali berfokus pada bisnis utama sektor konstruksi sekaligus mempercepat divestasi aset-aset tertentu.

“Perseroan mengambil langkah strategis yaitu fokus pada bisnis inti konstruksi serta melakukan divestasi pada aset-aset tertentu, sehingga diharapkan strategi tersebut dapat memperkuat arus kas perusahaan,” ujar Joko.

Langkah Danantara

Proses pemulihan BUMN Karya turut dipacu oleh Badan Pengaturan (BP) BUMN bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia.

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria menuturkan bahwa pembenahan di sektor BUMN Karya menjadi salah satu prioritas utama. Langkah ini sejalan dengan penyehatan pada PT Pos Indonesia (Persero) dan Dana Pensiun (Dapen).

Dony mengungkapkan bahwa estimasi nilai koreksi pembukuan hingga pelepasan rugi dalam agenda penyehatan ketiga entitas tersebut berpotensi mencapai Rp100 triliun. Penuntasan penyehatan menuntut penyesuaian laporan keuangan lewat skema pemangkasan nilai aset (impairment) hingga cut loss.

Strategi ini menjadi kelanjutan dari pembenahan tahap awal yang telah merealisasikan penataan neraca senilai Rp135 triliun.

“Ke depannya mungkin akan ada lagi sekitar Rp100 triliun untuk menyelesaikan ini. Namun, harapannya tidak sampai segitu. Koreksi, impairment, cut loss dan lain sebagainya terpaksa harus dilakukan,” ujar Dony Oskaria.

Dony juga telah menggelar pertemuan bersama direksi WIKA dan PTPP untuk memetakan kondisi keuangan kedua emiten secara riil. Saat memberi arahan kepada manajemen WIKA, ia menekankan pentingnya menyusun laporan keuangan yang presisi dan objektif tanpa rekayasa pembukuan.

“Kami yang realistis saja, tidak mau akal-akalan. Kami ingin tahu dulu riilnya berapa yang harus diperbaiki. Hal-hal yang khayalan kami coret,” tegasnya.

Dony menambahkan bahwa langkah pembenahan WIKA juga difokuskan pada optimalisasi aset yang dapat didivestasi guna memangkas kewajiban utang serta memperbaiki struktur modal perseroan.

Untuk PTPP, Danantara mendorong agar transformasi dan aksi korporasi dilakukan secara tuntas tanpa penundaan. Dony menggarisbawahi bahwa strategi merger akan didahulukan sebelum tahap restrukturisasi lanjutan.

Proses merger akan diawali dengan penataan kondisi keuangan PTPP secara menyeluruh agar posisi perusahaan terpeta secara transparan. Setelah merger tuntas, penataan dilanjutkan melalui restrukturisasi agar PTPP memiliki struktur bisnis yang fokus pada bisnis inti.

“PTPP diharapkan dapat memiliki struktur perusahaan yang lebih efisien dan fokus, sehingga mampu mengoptimalkan potensi bisnis inti serta meningkatkan kinerja perusahaan ke depan,” pungkas Dony.

Terkini