Kehadiran Kapal Induk Garibaldi: Jangan Hanya Simbol Kebanggaan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 09:58:02 WIB
Kapal induk Giuseppe Garibaldi [FOTO: NET]..

JAKARTA- Kapal induk Giuseppe Garibaldi yang merupakan hibah pemerintah Italia kepada Indonesia dijadwalkan menginjakkan kaki di Tanah Air pada pertengahan September 2026. 

Armada yang kelak berganti identitas menjadi KRI Gajah Mada tersebut dinilai sanggup memperkokoh kedudukan Indonesia di tengah dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik yang terus mengeliat.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menyampaikan, kapal tersebut masih menggunakan nama ITS Giuseppe Garibaldi dan mengibarkan bendera Italia selama perjalanan. 

Akan tetapi, setelah sampai di Indonesia dan hak kepemilikannya resmi beralih, kapal akan berganti nama menjadi KRI Gajah Mada serta mengibarkan bendera Merah Putih.

"Namanya masih ITS Garibaldi, masih berbendera Italia. Tapi, sesampainya di Indonesia akan berganti bendera Merah Putih dan menjadi KRI Gajah Mada. Mohon doanya, semoga selamat dalam perjalanan, sukses," ujar Ali.

Lantas seberapa strategis kehadiran kapal induk yang mampu mengangkut 18-20 pesawat tempur ini bagi pertahanan Indonesia?

Bukan sekadar kapal induk

Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksonar memandang masuknya Giuseppe Garibaldi ke jajaran TNI AL mengantongi bobot strategis di tengah dinamika geopolitik Indo-Pasifik. 

Menurut penjelasannya, kapal induk tidak cuma dipandang sebagai instrumen tempur, melainkan juga simbol yang sanggup memengaruhi persepsi negara-negara lain terhadap postur pertahanan Indonesia.

"Di tengah dinamika geopolitik Indo-Pasifik yang terus bergerak, langkah ini punya bobot strategis tersendiri, sebab kapal induk bukan sekadar alat tempur, melainkan simbol yang ikut membentuk cara kawasan membaca postur pertahanan Indonesia," kata Dave, Jumat (28/8/2026).

Ia mengutarakan, kehadiran kapal tersebut dapat memperkuat kredibilitas Indonesia sebagai negara maritim.

Lebih-lebih, Indonesia terletak di kawasan yang mengapit sejumlah jalur pelayaran strategis serta berhadapan langsung dengan dinamika keamanan di wilayah seperti Laut Natuna Utara.

"Dari sisi posisi Indonesia di kawasan, kapal ini memperkuat kredibilitas Indonesia sebagai poros maritim sekaligus menambah daya tawar diplomatik, terutama terkait stabilitas Laut Natuna Utara dan jalur pelayaran strategis lainnya," ujar politikus Partai Golkar tersebut.

Menurut Dave, keberadaan armada tersebut juga sejalan dengan arah pengembangan kemampuan TNI AL menuju konsep Blue Water Navy, yakni kapasitas angkatan laut untuk menjalankan operasi dengan jangkauan lebih jauh.

Walau demikian, Dave menegaskan bahwa peningkatan kemampuan itu bukan berarti Indonesia mesti mengubah karakter politik pertahanannya. 

Kehadiran Garibaldi yang kelak berganti nama KRI Gajah Mada, tuturnya, tetap wajib ditaruh dalam koridor politik pertahanan Indonesia yang defensif.

"Ini juga sejalan dengan arah TNI AL menuju konsep Blue Water Navy, yang memberi efek gentar tanpa mengubah watak dasar politik pertahanan Indonesia yang tetap defensif," tegasnya.

Bisa jadi instrumen diplomasi

Pengamat pertahanan sekaligus Co-founder Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) Dwi Sasongko menilai nilai strategis Giuseppe Garibaldi amat bergantung pada kemampuan Indonesia mengoperasikan kapal tersebut secara efektif dan efisien.

 Pasalnya, Garibaldi bukanlah kapal gres, melainkan kapal bekas dengan usia yang tergolong uzur.

"Nilai strategis Garibaldi sangat tergantung pada seberapa efektif dan efisien kapal ini dapat dioperasikan. Kami harus ingat bahwa ini kapal bekas dan sudah berusia tua," kata Dwi kepada Kompas.com, Kamis (27/8/2026).

Menurut Dwi, seandainya Garibaldi dapat dioperasikan dengan biaya yang proporsional serta mengantongi tingkat kesiapan yang baik, kapal tersebut sanggup menjadi instrumen diplomasi Indonesia di kawasan.

Kehadiran kapal berukuran raksasa dengan kapasitas membawa berbagai fasilitas memungkinkan Indonesia menggenjot keterlibatan dalam kerja sama maritim bareng negara lain.

Kapal itu, tuturnya, dapat difungsikan untuk latihan bersama, kerja sama maritim, hingga misi bantuan kemanusiaan serta penanggulangan bencana.

"Jika Garibaldi dapat dioperasikan dengan biaya yang proporsional dan tingkat kesiapan yang baik, kapal ini dapat menjadi instrumen diplomasi Indonesia di kawasan," nilai Dwi.

Keuntungan dan beban

Dwi memaparkan, Garibaldi memang menyajikan kemampuan yang sebelumnya belum dipunyai TNI AL, terutama sebagai platform besar yang sanggup mengangkut helikopter, personel, fasilitas medis, dan logistik dalam volume masif.

Kapasitas tersebut menjadikan kapal induk tak mesti selalu ditatap dari kacamata peperangan. 

Dalam operasi selain perang (OMSP), contohnya, kapal sejenis ini dapat dipakai sebagai pangkalan bergerak demi menyokong penanganan bencana di wilayah kepulauan yang sukar dijangkau.

Kendati demikian, kapasitas tersebut turut mendatangkan konsekuensi.

Status Garibaldi sebagai kapal bekas dan berusia tua berpotensi menjadikan biaya pemeliharaannya sebagai tantangan tersendiri.

"Di satu sisi, Garibaldi memberikan kemampuan yang sebelumnya belum dimiliki TNI AL, terutama sebagai platform besar untuk membawa helikopter, personel, fasilitas medis, dan logistik dalam jumlah besar," kata Dwi.

"Namun di sisi lain, karena kapal ini merupakan kapal bekas dan sudah sangat tua, bukan tidak mungkin keberadaannya justru menambah beban pemeliharaan TNI," sambungnya.

Menurut penjelasannya, pembiayaan yang mesti dikalkulasi bukan sekadar pemeliharaan kapal. 

Operasional kapal berukuran besar juga memerlukan alokasi anggaran bagi kru, bahan bakar, suku cadang, perawatan, fasilitas pangkalan, hingga beraneka sistem pendukung.

Oleh sebab itu, keuntungaan strategis Garibaldi baru sanggup dinilai secara lebih objektif selepas Indonesia mengetahui kondisi riil kapal dan menyaksikan bagaimana armada tersebut dioperasikan.

"Operasional kapal induk memang membutuhkan biaya yang besar, bukan hanya untuk kapalnya, tetapi juga untuk kru, bahan bakar, suku cadang, perawatan, fasilitas pangkalan, serta sistem pendukung lainnya," ujar Dwi.

Jangan hanya jadi simbol kebanggaan

Dave berpandangan, kehadiran Garibaldi tidak boleh sekadar meletupkan kebanggaan lantaran Indonesia memiliki kapal induk.

"Namun, yang paling utama, kehadiran Garibaldi tidak boleh berhenti sebagai simbol kebanggaan," kata Dave.

Nilainya, menurut pandangan Dave, harus sanggup dirasakan lewat kapabilitas Indonesia merespons bencana maupun dalam memperkuat posisi Indonesia di forum pertahanan kawasan.

"Nilainya harus terasa langsung, baik lewat kecepatan menolong korban bencana maupun lewat penguatan posisi Indonesia di forum pertahanan kawasan," ujarnya.

Sementara itu, Dwi mengingatkan bahwasanya pemanfaatan Garibaldi wajib disertai perencanaan yang presisi. 

Menurutnya, tantangan terbesar pascakapal mendarat bukan lagi seputar bagaimana Indonesia memiliki kapal induk, melainkan bagaimana menjamin kapal itu senantiasa siap difungsikan.

Pemerintah perlu menetapkan komitmen anggaran serta skema pemeliharaan yang terang bilamana Garibaldi memang diputuskan menjadi bagian dari kekuatan TNI AL.

"Kapal harus memiliki jadwal operasi, latihan, misi kemanusiaan, serta target operational readiness yang terukur," katanya.

Hal ini krusial agar kapal tak sekadar difungsikan dalam seremoni belaka.

"Jangan sampai hanya menjadi kapal untuk defile atau dipamerkan saat HUT TNI, tetapi kemudian lebih banyak berada di dermaga karena mahalnya biaya operasional dan pemeliharaan," ujar Dwi.

Terkini