Prospek Saham Batu Bara Semester II 2026 Dibayangi Kebijakan RKAB

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:18:02 WIB
Truk membawa batu bara di tambang milik PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

JAKARTA - Prospek emiten pertambangan batu bara pada semester II 2026 dinilai cukup positif dan konstruktif bagi kalangan investor.

Meski demikian, pasar disarankan mencermati ketidakpastian persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kenaikan biaya operasional tambang, serta penerapan kebijakan baru PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Analisis dari Panin Sekuritas menyebutkan perbaikan kinerja emiten produsen batu bara sudah mulai terlihat pada kuartal II 2026.

Peningkatan average selling price (ASP) berpeluang menopang pendapatan, walau dampak ekspansi margin masih tertahan oleh fluktuasi harga minyak dunia.

"Komponen BBM dapat menyumbang sekitar 40% dari total Harga Pokok Penjualan sehingga kenaikan harga batu bara belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi ekspansi margin," ujarnya kepada Bisnis dikutip, Kamis (27/8/2026).

Pemulihan produksi diproyeksikan masih terbatas akibat penerapan relaksasi RKAB secara terukur oleh pemerintah untuk menjaga pasokan pasar.

Oleh karena itu, kepastian operasional emiten BUMN maupun pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) menjadi poin penting yang dinilai lebih menarik.

"Potensi penurunan harga minyak akan menjadi faktor positif karena dapat meredakan tekanan mining cost dan memberikan ruang bagi ekspansi margin," katanya.

Di tengah ketidakpastian tersebut, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) menjadi pilihan utama karena didukung cash margin tinggi, profil batu bara mid-CV, stripping ratio rendah, serta cadangan besar.

Risiko utama yang patut diwaspadai meliputi volatilitas harga komoditas global, potensi lonjakan mining cost akibat konflik Timur Tengah, serta kejelasan biaya administrasi dari skema DSI.

Pandangan positif juga disampaikan oleh Sucor Sekuritas, terutama pada saham emiten berkapasitas produksi besar serta kontributor royalti tinggi seperti PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan AADI.

Pengurangan pasokan domestik serta kenaikan permintaan di kawasan Asia berpotensi menjaga tren harga batu bara berada di level tinggi.

Namun, investor diingatkan untuk tetap mengantisipasi kepastian skema penerapan DSI yang dijadwalkan mulai berlaku pada September 2026.

Untuk AADI, Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp12.600 per saham berbasis efisiensi biaya produksi dan arus kas yang solid.

Sementara itu, Kiwoom Sekuritas menilai normalisasi persetujuan RKAB pada semester II 2026 dapat memicu pemulihan volume produksi emiten pertambangan.

Penambahan kuota produksi dari pemerintah membuka ruang bagi produsen berkapasitas besar untuk mengejar target operasional tahunan.

Kiwoom mencatat saham AADI, PTBA, ITMG, BUMI, dan GEMS masuk dalam radar pemantauan dengan proyeksi harga batu bara Newcastle berada di rentang US$120 hingga US$145 per ton

Terkini