ENERGINEWS.ID — Status sebagai tim “yo-yo” memang menghantui Ipswich. Sejak promosi dari League One pada 2022/23, klub asuhan Gary O'Neil ini sudah dua kali naik ke Premier League dan sekali turun kasta. Kini, mereka kembali mencoba peruntungan di kasta tertinggi setelah musim lalu turun ke Championship dan langsung promosi lagi.
Catatan sejarah Premier League menunjukkan betapa beratnya tantangan ini. Dari 13 tim terakhir yang langsung promosi kembali setelah terdegradasi, 10 di antaranya gagal bertahan dan kembali turun. Namun, ada tiga klub yang berhasil mematahkan tren tersebut: Burnley, Newcastle United, dan Fulham. Ipswich pun mencoba meniru resep mereka.
Pertahanan yang Lebih Matang Berbekal Pengalaman Degradasi
Kunci sukses Burnley pada 2016/17 dan Newcastle pada 2017/18 adalah pertahanan solid. Ipswich sadar betul mereka harus memperbaiki rekor 82 gol kebobolan di musim degradasi 2024/25. Kabar baiknya, lini belakang mereka musim ini jauh lebih kompak.
Setelah awal yang buruk di Championship musim lalu, Ipswich mencatatkan 11 cleansheet sejak Boxing Day dan mengakhiri musim dengan rekor pertahanan terbaik kedua di divisi dua. Tiga dari empat bek starter saat melawan Sunderland adalah pemain yang juga tampil di musim degradasi: Dara O'Shea, Jacob Greaves, dan Leif Davis. Mereka kini ditemani Issa Diop, bek berpengalaman delapan musim di Premier League.
Pengalaman pahit dua musim lalu diyakini jadi pelajaran berharga bagi O'Shea, Greaves, dan Davis untuk tampil lebih disiplin di musim ini.
Padukan Pemain Anyar dengan Skuad Lama, Kunci Stabilitas
Ipswich tak pelit mengeluarkan uang di bursa transfer musim panas ini. Sekitar £150 juta digelontorkan untuk 12 pemain anyar, mendekati rekor belanja klub promosi milik Sunderland yang mencapai £161 juta. Namun, belanja besar bukan jaminan sukses, seperti yang mereka alami dua musim lalu.
Strategi yang dipilih O'Neil adalah memadukan pemain baru dengan skuad lama, mirip seperti yang dilakukan Fulham saat finis ke-10 pada 2022/23. Starting XI saat melawan Sunderland menurunkan tujuh wajah baru, termasuk gelandang serang Emersonn yang mencetak gol pembuka dan Julio Enciso. Empat tempat lainnya diisi pemain lama, plus Jack Clarke yang masuk dari bangku cadangan dan mencetak gol kemenangan.
Kombinasi ini diharapkan bisa menjaga harmoni tim sambil tetap menghadirkan kualitas baru di lapangan.
Gaya Bermain "Streaky" ala Gary O'Neil Bisa Jadi Senjata
Pergantian manajer dari Kieran McKenna ke Gary O'Neil sempat dianggap sebagai pukulan telak. Namun, O'Neil punya rekam jejak bagus dalam misi bertahan di Premier League. Ia sukses membawa Bournemouth dan Wolves menjauh dari zona degradasi.
Menariknya, gaya O'Neil yang cenderung “streaky” atau naik-turun drastis justru bisa menguntungkan. Bournemouth sempat hanya meraih enam poin dari 13 laga, tapi kemudian melesat dengan 18 poin dari sembilan pertandingan. Pola serupa juga terjadi di Wolves dan Newcastle 2017/18.
Dalam perebutan posisi aman, rentetan kemenangan beruntun lebih bernilai daripada sekadar mengumpulkan hasil imbang. Ipswich musim lalu hanya menang empat kali dan seri 10 kali. Jika O'Neil bisa memicu tren positif seperti itu, peluang The Tractor Boys untuk bertahan dan melepas julukan “yo-yo club” akan jauh lebih terbuka.