Tangani Gempa NTT, Bulog Pasok Tambahan 67.446 Ton Beras

Senin, 24 Agustus 2026 | 21:40:02 WIB
Pekerja menggendong karung beras di Gudang Bulog [FOTO: NET].

JAKARTA — Perum Bulog menjamin ketersediaan beras untuk penanganan penanggulangan bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam kondisi aman, berbekal pasokan sekitar 26.336 ton beras di NTT serta dukungan cadangan tambahan sebanyak 67.446 ton dari beberapa daerah.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan tambahan pasokan logistik beras tersebut disiagakan untuk menjamin kebutuhan masyarakat terdampak bencana, termasuk mengantisipasi potensi perpanjangan durasi tanggap darurat.

“Stok Bulog yang ada saat ini di NTT adanya adalah sekitar 26.336 ton. Dengan 26.000 [ton] ini sebetulnya cukup untuk kebutuhan bantuan bencana alam, yaitu tanggap darurat,” kata Rizal dalam konferensi pers di Command Center Kantor Perum Bulog, Minggu (23/8/2026).

Adapun, ekstra pasokan lewat jalur mobilisasi nasional (MoveNas) tersebut berasal dari Kanwil DKI Jakarta Banten sebesar 3.000 ton, Kanwil Jawa Timur 20.646 ton, Kanwil Sulawesi Selatan dan Barat sekitar 8.550 ton, serta Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 35.250 ton. Kombinasi tersebut membuat total tambahan pasokan MoveNas menyentuh 67.446 ton.

Dengan demikian, ketersediaan beras Bulog yang siap dan akan masuk ke NTT mencapai kisaran 93.782 ton.

Secara rinci, untuk kebutuhan tanggap bencana, Bulog mengalkulasi alokasi beras berpatokan pada 150.576 jiwa korban, porsi konsumsi 0,3 gram tiap kali makan, frekuensi tiga kali makan per hari, serta durasi tanggap darurat selama 14 hari.

Berdasarkan kalkulasi itu, pasokan awal beras untuk pertolongan bencana berkisar 1.890 ton. Namun, Bulog turut mengantisipasi bilamana masa tanggap darurat diperpanjang sampai 10 kali lipat sehingga estimasi kebutuhan beras khusus tanggap bencana diperkirakan menembus 18.900 ton.

“Kondisi ini kami antisipasi biasanya kalau dari bencana itu ada perpanjangan masa tanggap darurat. Nah kami antisipasi 10 kali. Tujuannya apa kenapa harus 10 kali? Karena memang kondisi NTT cukup memprihatinkan. Nah di mana kalau 10 kali tanggap darurat kami antisipasi adalah totalnya adalah 18.900 ton. Ini untuk beras bantuan bencana saja,” terangnya.

Di luar paket bantuan bencana, Bulog mesti menyalurkan program bantuan pangan Presiden sepanjang tiga bulan, yakni periode Agustus, September, dan Oktober 2026. Alokasi bantuan pangan itu ditargetkan bagi 852.631 penerima manfaat dengan jatah 10 kilogram beras saban bulan. Artinya, akumulasi kebutuhan beras untuk bantuan pangan tiga bulan tersebut menyentuh 25.578 ton.

Apabila cadangan bantuan bencana yang diantisipasi hingga 10 kali tanggap darurat sebesar 18.900 ton diakumulasikan dengan alokasi bantuan pangan tiga bulan sebanyak 25.578 ton, maka total kebutuhan berada di kisaran 46.368 ton.

Kemudian, berpatokan pada stok beras di gudang NTT sebesar 26.336 ton dan pasokan MoveNas 67.446 ton, akumulasi stok yang disiapkan berada di angka 93.782 ton. Jumlah ini masih menyisakan sisa cadangan sekitar 47.414 ton usai kalkulasi kebutuhan tersebut dihitung.

“Supaya tidak ada keraguan bahwa dukungan Bulog cukup untuk kebutuhan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang sedang mengalami bencana alam. Jadi kami yakinkan kepada seluruh masyarakat Indonesia, kami Bulog, pemerintah selalu hadir untuk mendukung kebutuhan-kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Walau begitu, Rizal menerangkan tambahan pasokan 67.446 ton tersebut tidak langsung dikirim secara berbarengan ke NTT. Alur distribusi bakal dieksekusi bertahap menyelaraskan kebutuhan tiap daerah serta kapasitas tampung gudang Bulog.

Menurutnya, pasokan dari daerah terdekat akan digerakkan terlebih dahulu ketika stok di lokasi terdampak mulai menipis. Sementara pengiriman dari Jakarta dan Sulawesi bakal menyesuaikan pergerakan kebutuhan di lapangan.

Bulog memilih skema distribusi bertahap lantaran daya tampung gudang di NTT terbatas, yakni berkisar 50.400 ton yang tersebar di 46 unit gudang.

“Jadi tidak langsung kami dorong juga karena kapasitas gudang kami hanya 50.400 ton [di NTT]. Nanti takutnya tempatnya nggak cukup. Jadi menyesuaikan dengan kebutuhan kami manajemen sedemikian rupa supaya sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan oleh masyarakat,” tandasnya.

Terkini