Fakta di Balik Paha Besar dan Hubungannya dengan Umur Panjang

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:18:31 WIB
Ilustrasi mengukur lingkar paha [FOTO: NET].

JAKARTA - Mitos yang menyebutkan bahwa orang dengan paha besar berpeluang hidup lebih lama tidak sepenuhnya akurat. Hal tersebut dipaparkan oleh dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi UGM, dr Yunita Aryani, MSi, MH.

Ia menerangkan, bermacam riset memang mengindikasikan lingkar paha yang terlampau kecil berkaitan erat dengan risiko penyakit kardiovaskular serta kematian dini yang lebih tinggi. Namun, hal itu tak serta-merta mengartikan kian besar ukuran paha, kian panjang pula umur seseorang.

"Lingkar paha yang terlalu kecil merupakan salah satu penanda rendahnya massa otot, status gizi yang kurang baik atau kondisi kesehatan tertentu. Hal ini akan berkaitan dengan peningkatan tentunya dengan risiko penyakit dan kematian," ujar dr Yunita dikutip dari laman IPB University.

Studi kohort yang dipublikasikan dalam British Medical Journal (BMJ) mengemukakan bahwa lingkar paha kecil berkolerasi dengan lonjakan risiko penyakit jantung koroner, serta dapat bermuara pada kematian dini baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Akan tetapi, riset tersebut memperlihatkan keberadaan efek batas ambang, sehingga ukuran paha yang lebih besar melampaui batas tertentu tidak otomatis menyumbang manfaat ekstra.

Bukan Sekadar Ukuran Paha

Dipaparkan dr Yunita, lingkar paha tersusun dari tulang, massa otot, lemak subkutan, cairan, hingga jaringan pendukung lainnya. Dua individu dengan lingkar paha berukuran sama belum tentu memendam kondisi kesehatan yang identik.

"Menilai derajat kesehatan seseorang hanya dengan melihat jumlah massa otot saja tidak cukup. Kekuatan dan fungsi otot sering kali memberikan informasi yang lebih bermakna daripada ukuran semata," katanya.

Otot rangka, termasuk yang berada di area paha, memegang peran penting dalam pemanfaatan glukosa, sensitivitas insulin, tata kelola gula darah, mobilitas, keseimbangan, serta penyediaan cadangan protein sewaktu tubuh dilanda penyakit atau stres metabolik.

dr Yunita turut menguraikan bahwa penumpukan lemak pada paha dan bokong mengusung karakteristik berbeda dari lemak visceral. Lemak visceral dinilai lebih aktif secara metabolik dan berhubungan langsung dengan resistensi insulin, perlemakan hati, diabetes tipe 2, ketidakseimbangan kolesterol, hipertensi, hingga gangguan kardiovaskular lainnya.

Maka dari itu, ia menegaskan bahwa ukuran lingkar paha tidak bisa dipakai sebagai indikator tunggal kesehatan. Kebugaran tubuh secara menyeluruh justru lebih dominan ditentukan oleh pola hidup, aktivitas fisik, asupan makan, kualitas tidur, kesehatan mental, faktor genetik, kondisi lingkungan, serta hasil kontrol kesehatan harian secara berkala.

"Jadi, bukan sekadar seberapa besar pahanya, tetapi apa yang menyusun paha tersebut dan seberapa baik fungsinya," ujar dr Yunita.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak lantas merasa aman hanya lantaran mengantongi ukuran paha yang besar.

"Ingat bukan besarnya paha, namun massa otot yang terbentuk dari besarnya paha," pungkasnya.

Terkini