Asap Kebakaran Hutan Berdampak pada Otak Anak Kata Dokter Spesialis

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 20:38:02 WIB
Ilustrasi Asap kebakaran hutan.

JAKARTA - Kabut asap imbas kebakaran hutan umumnya identik dengan gangguan saluran pernapasan, seperti batuk maupun sesak napas. Kendati demikian, paparan asap yang membawa partikel halus PM2.5 perlu dicermati secara serius lantaran anak-anak jauh lebih rentan terhadap ancaman pencemaran udara.

Dokter Spesialis Anak di Mayapada Hospital Kuningan dan Klinik Utama KiDi, dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A, memaparkan bahaya paparan PM2.5 pada kelompok anak-anak tergolong lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang dewasa.

“Anak bernapas lebih cepat, volume paru relatif lebih besar dibanding berat badannya, dan sistem pertahanan tubuh, termasuk sawar darah-otak, belum matang,” ujar dr. Denta kepada Kompas.com, Jumat (21/8/2026).

Ia mengulas, kondisi fisik tersebut mengakibatkan dosis partikel berbahaya yang terhirup masuk ke dalam tubuh anak dapat berukuran jauh lebih besar. Ancaman ini patut diperhitungkan saat paparan terjadi dalam intensitas tinggi atau berulang.

Partikel PM2.5 merupakan polutan berukuran amat mikro, yakni berdiameter 2,5 mikrometer atau kurang. Akibat ukurannya yang teramat kecil, PM2.5 sanggup merangsek jauh menembus saluran pernapasan hingga masuk ke kantung udara atau alveoli di paru-paru.

Gumpalan PM2.5 akibat asap karhutla telah terbukti memicu beragam gangguan kesehatan, terkhusus pada organ pernapasan.

Dokter Denta menyebutkan, anak yang terpapar asap kebakaran hutan secara intensif atau berulang berisiko tinggi mengalami komplikasi pernapasan serta kambuhnya penyakit asma.

“Studi menunjukkan PM2.5 dari asap kebakaran hutan bahkan lebih berbahaya bagi saluran napas anak dibanding PM2.5 dari sumber lain, misalnya kendaraan,” katanya.

Kerentanan ini kian menjadi sorotan mengingat sistem pernapasan dan imunitas anak masih dalam tahap pertumbuhan.

Selain merusak organ pernapasan, PM2.5 turut diwaspadai karena memiliki jalur mekanisme yang memungkinkan pencemaran udara memengaruhi kinerja sistem saraf pusat.

Kurniawan menerangkan, salah satu prosesnya bermula saat partikel yang terhirup mengendap di paru-paru, yang kemudian memicu reaksi peradangan dan berdampak sistemik ke seluruh tubuh.

Zat polutan ini juga mampu berinteraksi dengan sirkulasi darah serta sistem saraf pembau. Pada tingkat tertentu, polusi dapat mengganggu integritas sawar darah-otak (blood-brain barrier/BBB), yakni lapisan benteng yang menyaring masuknya zat dari pembuluh darah ke jaringan otak.

Efek inflamasi akibat paparan polutan ini berpotensi memicu timbulnya stres oksidatif serta gangguan neuroinflamasi.

“Setelah masuk, terjadi gangguan integritas BBB, aktivasi mikroglia menjadi mode pro-inflamasi, stres oksidatif yang merusak sel saraf dan koneksi antarneuron, serta neuroinflamasi kronis tingkat rendah,” jelas dr. Denta.

Mikroglia sendiri merupakan sel khusus yang menjadi benteng pertahanan alami di area otak. Kendati demikian, rantai mekanisme tersebut tidak serta-merta mengartikan semua anak yang menghirup PM2.5 akan mengalami kerusakan otak.

Riset ilmiah seputar kaitan antara polusi udara, termasuk kabut asap kebakaran hutan, dengan proses tumbuh kembang otak anak hingga kini terus dipelajari.

Kekhawatiran akan serapan PM2.5 pada anak tak sekadar berfokus pada efek jangka pendek sesaat setelah terpapar. Sejumlah studi tentang polusi udara umumnya menemukan kaitan erat antara paparan PM2.5 dengan fungsi kognitif serta sistem saraf anak.

Dampak yang diteliti mencakup penurunan daya fokus, kapasitas memori kerja, fungsi kognitif umum, hingga perubahan struktur pada organ otak. Paparan berintensitas tinggi dalam durasi panjang menjadi perhatian utama sebab otak anak sedang mengalami masa perkembangan pesat.

Dokter Denta mengutarakan, paparan PM2.5 dapat dihubungkan dengan berbagai imbas buruk pada perkembangan otak, kapasitas kognitif, maupun dinamika perilaku.

“Paparan tinggi atau lama dikaitkan dengan penurunan skor kognitif, gangguan perhatian dan memori kerja, perubahan struktur otak, serta risiko lebih tinggi gejala kecemasan, depresi, dan masalah perilaku,” ujarnya.

Namun begitu, temuan ini harus disikapi secara bijak dan berhati-hati. Banyak variabel pendukung lain yang turut memengaruhi perkembangan kognitif dan perilaku anak, sehingga paparan polusi tidak dapat divonis sebagai faktor tunggal.

Tingkat kerentanan anak terhadap kepungan polusi udara tidaklah sama. Menurut dr. Denta, kelompok bayi dan balita, terutamanya anak usia di bawah lima tahun, tergolong kelompok yang membutuhkan pengawasan ekstra.

Anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis juga jauh lebih rentan ketika kualitas udara memburuk.

Di samping itu, paparan polusi masa kehamilan perlu diwaspadai mengingat pembentukan sistem saraf sudah dimulai sejak janin di dalam kandungan. Anak yang punya riwayat sering terpapar polusi serta memiliki kondisi medis tertentu juga butuh proteksi lebih.

“Semakin muda usia dan semakin banyak faktor risiko, semakin besar dampaknya,” kata dr. Denta.

Ketika mutu udara memburuk akibat kepungan asap karhutla, langkah paling krusial adalah meminimalisasi paparan. Orang tua disarankan membatasi kegiatan luar ruangan anak serta menutup pintu dan jendela agar asap tidak merembes ke interior rumah.

Jika memungkinkan, pengoperasian alat air purifier berfilter HEPA amat membantu menyaring partikel berbahaya di dalam ruangan.

Penggunaan AC moda recirculate atau sirkulasi ulang juga bisa menjadi pilihan supaya udara luar tidak masuk. Kualitas udara dalam rumah wajib dijaga dengan tidak merokok, membakar sampah, menyalakan lilin, atau memicu aktivitas pembakaran lainnya.

Bila anak berusia di atas 2 tahun terpaksa beraktivitas di luar rumah saat udara memburuk, penggunaan masker ketat seperti standar KN95 atau KF94 dapat membantu menyaring partikel.

Namun, dr. Denta menegaskan pemakaian masker bukanlah satu-satunya benteng pertahanan.

“Prinsip utama: mengurangi paparan jauh lebih penting daripada mengandalkan masker saja. Anak lebih rentan, jadi kami harus lebih protektif,” ujarnya.

Para orang tua diimbau cermat memantau kondisi anak sewaktu terjadi bencana kabut asap.

Gejala yang patut diwaspadai di antaranya batuk, nafas berbunyi mengi, sesak nafas, mata memerah, hingga perubahan perilaku menjadi lebih rewel. Anak penderita asma wajib dipastikan mengantongi obat pelega resep dokter yang mudah diakses saat darurat.

Apabila anak mulai menunjukkan gejala atau memiliki riwayat asma, dr. Denta menyarankan agar segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak guna mengambil tindakan penanganan yang tepat.

Terkini