Gibran Pakai Baju Adat Rote NTT Sebagai Bentuk Diplomasi Budaya RI

Senin, 17 Agustus 2026 | 05:03:32 WIB
Gibran Pakai Baju Adat Rote NTT Sebagai Bentuk Diplomasi Budaya RI.

JAKARTA - Pengamat Mode Lisa Fitria menilai penggunaan pakaian adat Rote asal Nusa Tenggara Timur menjadi langkah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam mendiplomasikan keberagaman budaya Indonesia.

"Elemen yang paling ikonik adalah Ti’i Langga, penutup kepala dari anyaman daun lontar dengan bentuk yang menjulang dan melebar," kata Lisa kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Lisa mencermati beberapa elemen busana daerah yang dipakai dalam acara resmi kenegaraan tersebut. Tampilan busana itu menyingkap kekayaan ekspresi fesyen nasional lewat identitas budaya dari bermacam wilayah.

Dalam pakaian yang dipakai Gibran, komponen paling menonjol yakni Ti’i Langga, yaitu pelindung kepala dari rajutan daun lontar bersudut menjulang serta melebar.

Atribut Ti’i Langga menjadi simbol yang begitu lekat dengan masyarakat Rote dan secara filosofis melambangkan ketangguhan, martabat, rasa percaya diri, hingga jiwa kepemimpinan pria.

Wakil Presiden pun mengenakan kain tenun Rote yang menggambarkan tingginya keahlian kriya serta tradisi tenun dari Nusa Tenggara Timur. Kain ini menyimpan motif dan tata nilai luhur warga Rote.

Lisa menambahkan kehadiran kain tenun lokal pada hajatan kenegaraan sekaligus menegaskan bahwa tenun memegang peranan krusial sebagai identitas budaya serta aset fesyen nasional.

Di samping itu, sang istri, Selvi Gibran Rakabuming, mengusung busana Ta’a khas perempuan Dayak Kenyah. Pakaian ini menonjolkan daya tarik visual lewat hiasan manik-manik, pola geometris, nuansa merah, serta topi berhias ornamen bulu.

Menurut pengamatan Lisa, busana itu mencerminkan keahlian kriya warga Dayak Kenyah yang tinggi, khususnya pada teknik pengerjaan manik-manik yang menuntut kecermatan ekstra.

"Motif dan ornamen pada busana Dayak bukan sekadar dekorasi, tetapi berkaitan dengan identitas budaya, hubungan manusia dengan alam, leluhur, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat," ujar Lisa.

Ia menguraikan bahwa penggunaan dominasi warna merah dapat diartikan sebagai simbol keberanian, daya tahan, gairah hidup, dan keteguhan jiwa. Sedangkan hiasan kepala serta bulu menyajikan kesan kemegahan, kehormatan, dan kekuatan karakter budaya.

Lisa turut mencermati keberagaman ekspresi budaya yang diperlihatkan melalui pilihan pakaian Presiden Prabowo Subianto bersama keduanya. Presiden mengangkat kebudayaan Melayu dan songket, Wakil Presiden membawa warisan tenun Rote, sedangkan sang istri menampilkan pesona manik-manik Dayak Kenyah.

"Yang menarik bagi saya adalah ketiganya memperlihatkan tiga kekayaan ekspresi fashion Indonesia: Presiden membawa tradisi Melayu dan songket, Wakil Presiden membawa tradisi tenun Rote, sementara Ibu Selvi membawa kekayaan manik-manik Dayak Kenyah," kata Lisa.

Dari sudut pandang fesyen, Lisa beranggapan bahwa kepribadian bangsa Indonesia tidak mesti diwakili oleh satu ragam baju adat saja. Pakaian kenegaraan bisa mengadopsi elemen budaya lokal, lalu dikemas dalam wujud formal dan modern.

"Keseluruhannya menurut saya merupakan bentuk diplomasi budaya melalui fesyen. Tiga identitas budaya yang berbeda hadir dalam satu panggung nasional untuk menyampaikan pesan bahwa Indonesia modern tetap berakar pada tradisi dan keberagaman Nusantara," ujar Lisa.

Terkini