Gen Alpha Kritis Memilih Produk Kecantikan Sejak Dini di Sosmed

Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:04:32 WIB
Ilustrasi Menggunakan Skincare.

JAKARTA - Generasi Alpha tumbuh pada era ketika beragam produk kecantikan, mulai dari kosmetik hingga perawatan kulit, sangat mudah dijangkau melalui media sosial.

Aneka tren kecantikan terbaru dapat muncul secara instan lewat unggahan video pendek, kreator konten, maupun kiriman para pengguna platform digital.

Meski demikian, masifnya terpaan tren di media sosial tidak serta-merta membuat konsumen usia muda menelan mentah-mentah produk yang tengah viral.

Melansir laporan Jing Daily, konsumen muda di China kini mulai aktif memverifikasi informasi produk melalui ulasan, kolom komentar, rincian komposisi bahan, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

Gen Alpha Tak Sekadar Mengikuti Tren

Konsumen kecantikan dari kalangan termuda di China mungkin belum memegang daya beli sebesar generasi pendahulunya, tetapi pengaruh mereka terhadap arah tren sangat signifikan.

Produk yang menawarkan keunikan visual, kebaruan, atau inovasi dengan cepat menjadi topik hangat di media sosial, di mana penemuan produk kerap bermula saat mereka menggulir layar ponsel.

"Mereka tidak mencari, mereka menggulir," ujar pendiri perusahaan konsultan China Chozan, Ashley Dudarenok.

Usai menemukan suatu produk, mereka tidak langsung terpikat oleh tampilan atau promosi kreator, melainkan meneliti komentar serta pengalaman pengguna lain sebelum membuat keputusan pembeliaan.

Kebiasaan ini menempatkan ulasan dari pengguna biasa pada posisi yang sangat krusial dalam membangun tingkat kepercayaan terhadap suatu produk kecantikan.

Pendiri firma konsultasi butik C Cultural Lisa Zheng mengatakan, "ulasan pembeli" dan konten yang memperlihatkan kegagalan produk dapat memiliki kredibilitas lebih tinggi dibandingkan promosi dengan tampilan yang terlalu sempurna.

AI Ikut Dipakai untuk Memeriksa Produk

Perilaku membandingkan informasi tersebut kini makin diperkuat dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.

Hasil survei terhadap 1.200 konsumen kecantikan China generasi pasca-2000 menunjukkan lebih dari 76 persen responden pernah memanfaatkan AI sebagai pertimbangan dalam memilih perawatan kulit maupun kosmetik.

Sebanyak 42,79 persen memakai AI untuk mengevaluasi kesesuaian kandungan, 39,88 persen untuk membandingkan antarproduk atau merek, dan 37,23 persen untuk menentukan kelayakan pembelian.

Kendati begitu, rekomendasi AI tidak lantas ditelan bulat-bulat sebagai satu-satunya rujukan utama.

Sekitar 35,07 persen responden tetap menyangsikan keakuratan AI, sementara 29,44 persen lainnya menganggap ulasan nyata dari manusia jauh lebih autentik.

Apabila saran AI bersimpangan dengan ulasan kreator, konsumen muda cenderung menghimpun berbagai referensi sebelum menyimpulkan keputusan.

Teknologi AI pun berkedudukan sebagai instrumen verifikasi pelengkap, bukan pengganti atas pengalaman nyata manusia.

Ashley Dudarenok menambahkan, daya pikat AI bagi generasi muda salah satunya dipicu oleh kesan objektif ketika sistem digunakan untuk menganalisis kondisi kulit dan memberikan opsi perawatan.

Pentingnya Memeriksa Klaim Produk

Fenomena kehati-hatian ini sangat relevan dengan dinamika pasar kecantikan di Indonesia yang turut dibayangi masalah keamanan serta klaim produk.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendapati lebih dari 2,1 juta kosmetik tidak memenuhi standar keamanan dalam operasi pengawasan 2026, dengan perkiraan nilai keekonomian mencapai Rp35,8 miliar.

Temuan tersebut menegaskan pentingnya kecermatan konsumen saat memilih produk kecantikan, terutama yang dijajakan di pasar digital.

Di tengah maraknya produk ilegal, kebiasaan memeriksa daftar bahan, klaim kesehatan, serta kesaksian pembeli menjadi benteng krusial bagi konsumen yang bertumbuh di era serba digital.

Direktur konsultasi pola pikir WGSN China Cece Zhu menyampaikan bahwa kendati media sosial mempercepat pengenalan anak terhadap dunia kecantikan, mereka tetap memerlukan produk dan pendekatan yang sesuai usia.

"Para Alpha adalah konsumen yang sangat reaktif dan berorientasi pada status yang 'berburu tren' terbaru," kata Zhu.

Oleh sebab itu, bersikap kritis bukan berarti harus mencoba seluruh tren yang ada atau memakai produk secara berlebihan.

Kecakapan dalam membandingkan data, membaca klaim secara cermat, serta mengutamakan aspek keamanan produk menjadi bekal vital sewaktu Gen Alpha mulai menjelajahi dunia kecantikan.

Terkini