JAKARTA - Pandangan masyarakat mengenai definisi wajah ideal terus mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.
Dahulu, sebagian besar perempuan di Indonesia sangat mendambakan wajah putih pucat sebagai patokan utama kecantikan, sehingga banyak orang berlomba-lomba mengubah warna asli kulit mereka.
Kini, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan kulit wajah, obsesi terhadap warna kulit perlahan mulai ditinggalkan.
Generasi muda mengalihkan fokus pada tekstur kulit yang terawat secara holistik, sehingga memicu pergeseran gaya kecantikan yang menjadikan tampilan wajah bersinar atau glass skin sebagai standar baru yang lebih realistis.
"Sekarang semua orang membicarakan tentang memiliki glass skin. Ini adalah the now-level of glow," ungkap Brand Lead Glow & Lovely, Ita Karo Karo, di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Pergeseran menuju tren glass skin membawa dampak positif karena titik berat perawatannya ada pada pengembalian fungsi alami wajah, bukan pemaksaan perubahan warna.
Ketika kondisi fisik sel kulit sudah sehat secara maksimal, dampak psikologis berupa peningkatan rasa percaya diri akan mengikuti dengan sendirinya.
"Pendekatannya adalah yang pertama itu bright. Lalu yang kedua itu teksturnya halus, dan juga bouncy. Terasa kenyal, lembap. Jadi tiga aspek inilah yang dapat mewujudkan kulit glass skin," jelas Research and Development Manager Glow & Lovely, Zulfa Hudaya.
Kendati demikian, pencapaian kondisi ideal ini umumnya terhalang oleh berbagai masalah mendasar, mulai dari paparan debu harian hingga dehidrasi akibat ruangan berpendingin udara.
Guna mengatasi hambatan tersebut, kebiasaan membersihkan wajah perlu diperkuat dengan produk berformula lembut tanpa alkohol yang dapat memicu kemerahan.
Penggunaan pembersih dan pelembap bertekstur gel cair yang memadukan kandungan niacinamide, hyaluronic, serta pro-ceramide sangat disarankan untuk merawat tekstur wajah dari dalam.
Fenomena tren glass skin ini terbukti mampu membebaskan perempuan dari kebiasaan membandingkan diri di media sosial serta ketergantungan pada aplikasi pengedit foto.
"Siapa yang tidak unggah foto lalu tidak pakai filter? One of the benefit with having glass skin adalah begitu sudah terjaga kondisi kulitnya, pada saat kami foto, ya sudah, no filter is fine," ucap Ita.
Aktris sekaligus Brand Ambassador Glow & Lovely, Nicole Rossi, turut menyuarakan pentingnya mengubah pola pikir agar tidak terjebak pada tuntutan kesempurnaan dunia maya.
Ia mengaku pernah merasa sangat rendah diri ketika melihat tren kecantikan berlalu-lalang di lini masa saat dirinya sedang menghadapi masalah jerawat parah.
"Aku sempat ada fase di mana aku sangat insecure sama kulit aku. Apalagi waktu itu banyak banget yang ngetren glass skin, aku melihat itu lewat, aku yang kayak 'hah, pengen' gitu," ungkap Nicole.
Nicole menekankan bahwa fokus utama seharusnya dialihkan pada upaya konsisten merawat kulit, bukan menuruti standar yang tidak masuk akal.
"Menurut aku tidak ada standar kecantikan. Kami semua bisa menjadi versi terbaik dari diri kami sendiri. Bukan fokus ke standar kecantikan, karena yang ada kalau kami memikirkan ke sana terus, kami jadi merasa insecure terus," tuturnya.