4 Langkah Menghadapi Anak Tantrum di Tempat Umum Tanpa Panik

Kamis, 13 Agustus 2026 | 03:29:32 WIB
Ilustrasi Anak Menangis.

JAKARTA - Anak yang mengalami tantrum di tempat umum sering kali membuat orang tua merasa panik, malu, hingga bingung menentukan respons yang tepat. Padahal, Reaksi orang tua dalam menghadapi kondisi tersebut memegang peranan sangat penting untuk membantu anak meredakan emosinya.

Fenomena tantrum merupakan hal yang lumrah dialami oleh anak-anak, terutama pada usia balita. Kondisi ini bukanlah bentuk perilaku nakal, melainkan wujud luapan emosi ketika anak belum sanggup mengekspresikan perasaan atau mengendalikan rasa frustrasi.

Dokter spesialis anak I Gusti Ayu Trisna Windiani menjelaskan bahwa tantrum merupakan respons anak terhadap rasa frustrasi yang belum mampu mereka kelola dengan baik.

"Tantrum itu anak tidak mampu meregulasi rasa frustrasi yang dia alami. Betul-betul tidak menyenangkan bagi anak jika sesuatu tidak sesuai dengan situasinya. Di mana pun bisa tantrum itu terjadi," ujar Ayu dalam seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) beberapa waktu lalu.

Menurut Ayu, terdapat beragam faktor pemicu tantrum pada anak, mulai dari kondisi kurang tidur, keinginan yang tidak terpenuhi atau penolakan terhadap sesuatu, pola asuh yang kurang konsisten, hingga dorongan untuk memperoleh perhatian dari orang tua.

Guna mengatasi emosi anak saat berada di ruang publik, Ayu memperkenalkan metode RIDD yang dapat dipraktikkan oleh orang tua:

Tetap tenang Langkah utama yang paling krusial adalah menjaga ketenangan diri. Walaupun situasi memicu rasa malu atau stres, orang tua tidak boleh terbawa emosi.

Biarkan anak meluapkan emosinya terlebih dahulu sembari memastikan posisinya tetap aman. Ayu menegaskan agar orang tua tidak merespons tantrum dengan nada tinggi atau kemarahan.

"Kalau kami berteriak, maka anak itu akan meningkatkan dua kali tantrumnya. Tenang dulu, kasih dia waktu," katanya.

Sikap tenang orang tua menjadi teladan bagi anak bahwa luapan emosi bisa dihadapi tanpa perlu meluapkan kemarahan.

Abaikan perilaku tantrumnya Tindakan mengabaikan ini bukan berarti tidak memedulikan anak secara keseluruhan, melainkan memfokuskan pengabaian pada aksi tantrumnya. Hal ini penting agar anak tidak menganggap amukan emosi sebagai cara ampuh menarik perhatian.

"Jadi, abaikan dulu perilaku tantrumnya, tetapi tidak mengabaikan anak tersebut," ujar Ayu.

Orang tua tetap wajib mengawasi dari dekat serta memastikan anak terlindung dari bahaya selama situasi tersebut berlangsung.

Alihkan perhatian anak Saat emosi anak mulai surut, orang tua dapat mengalihkan fokusnya pada benda atau kegiatan lain yang ia sukai. Cara ini dinilai efektif membantu anak keluar dari pemicu frustrasi sekaligus memberi ruang baginya untuk menenangkan pikiran.

"Kasih dia dulu mengeluarkan energinya untuk tantrum," katanya.

Mengajak anak melihat objek menarik, berpindah ke area yang lebih tenang, atau memberikan aktivitas sederhana bisa menjadi jalan keluar untuk mengalihkan perhatiannya.

Penuhi kebutuhan dasar, tetapi jangan menuruti semua keinginannya Kebutuhan fisik dan keselamatan anak, seperti rasa lapar, haus, atau ketidaknyamanan, tetap wajib dipenuhi. Namun, orang tua dilarang langsung meluluskan tuntutan pemicu tantrum hanya demi menghentikan tangisannya.

Ayu mengingatkan bahwa ketidaktegasan orang tua justru mengajarkan anak bahwa tantrum adalah senjata ampuh untuk memperoleh keinginannya.

"Jangan mudah tergoyah. Nanti anak akan ingat bahwa kalau mau mendapatkan sesuatu, saya harus guling-guling dulu," ujarnya.

Oleh sebab itu, orang tua harus menegakkan batasan secara jelas dan konsisten agar anak memahami bahwa ada cara berkomunikasi yang lebih baik untuk menyampaikan maksudnya.

Terkini