Mengungkap Manfaat Capsaicin dalam Cabai Bagi Kesehatan Tubuh

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:05:01 WIB
Ilustrasi Makanan Pedas.

JAKARTA - Banyak orang menyantap hidangan pedas semata-mata demi memanjakan lidah. Pasalnya, memberikan rasa pedas seperti sambal atau saus ke dalam hidangan terbukti ampuh membangkitkan selera makan.

Akan tetapi, tidak banyak yang menyadari dampak kesehatan jangka panjang ketika sedang menikmati sajian pedas kesukaan mereka.

Padahal, kuliner yang kaya akan kandungan capsaicin ini secara perlahan membantu kelancaran metabolisme, meredakan peradangan, serta menjaga fungsi jantung.

Berikut adalah uraian dari para ahli yang disarikan dari Real Simple, Rabu (12/8/2026).

Seorang dokter spesialis gastroenterologi, Savita Srivastava, MD, menegaskan bahwa sensasi terbakar akibat cabai sejatinya hanyalah respons manipulasi saraf semata.

"Saat kamu menggigit cabai merah yang pedas, kamu sebenarnya tidak sedang mengalami luka bakar kimiawi pada lapisan usus, melainkan kamu sedang merasakan interaksi usus dan otak secara real time," jelasnya.

Kandungan senyawa capsaicin akan mengikat reseptor TRPV1 (Transient Receptor Potential Vanilloid 1) yang berfungsi mendeteksi suhu panas dan rasa nyeri.

Penurunan ambang batas pada reseptor ini memicu manipulasi pada otak seolah-olah area mulut sedang terbakar, sehingga sistem perlindungan tubuh otomatis aktif.

"Otot usus dan lapisan mukosa mungkin juga bekerja keras untuk menyingkirkan capsaicin. Usus mempercepat peristaltik dan meningkatkan sekresi cairan ke dalam lumen usus," tambah dr. Srivastava.

Langkah perlindungan tambahan dari tubuh ditunjukkan dengan pelebaran pembuluh darah yang membuat wajah tampak memerah. Selain itu, otak bakal mengeluarkan hormon penahan rasa sakit yang menghadirkan sensasi gembira.

Kebiasaan mengonsumsi capsaicin secara teratur terbukti ampuh memelihara kesehatan sistem kardiovaskular.

"Manfaat kardiometabolik dari cabai adalah bidang studi yang menarik. Pada tingkat pembuluh darah, capsaicin memicu produksi oksida nitrat, menyebabkan pembuluh darah rileks dan terbuka, yang bertindak sebagai mekanisme alami untuk membantu menurunkan tekanan darah," terang dr. Srivastava.

Sejumlah riset membuktikan bahwa senyawa aktif ini efektif mencegah oksidasi kolesterol jahat (LDL) sekaligus mendongkrak kadar kolesterol baik (HDL).

Mengenai mekanisme metabolisme, capsaicin bekerja layaknya pendorong alami melalui proses termogenesis yang efektif membakar jaringan lemak cokelat.

"Selain meningkatkan tingkat metabolisme istirahat dan membantu tubuhmu mengoksidasi lemak sebagai bahan bakar, capsaicin membantu mengubah hormon pengatur nafsu makan untuk menjaga keinginan ngemil tetap terkendali," papar dr. Srivastava.

Dampak positif lain yang tidak terduga adalah terjadinya perbaikan pada ekosistem mikrobioma usus.

"Salah satu pergeseran paling menarik dalam gastroenterologi nutrisi adalah bagaimana capsaicin memengaruhi mikrobioma usus untuk mengendalikan peradangan sistemik," kata dr. Srivastava.

Selama bertahun-tahun, masyarakat menganggap bahwa makanan pedas membawa dampak buruk bagi kesehatan dinding usus.

Meski begitu, ia menambahkan bahwa temuan ilmiah justru membuktikan capsaicin dalam makanan mampu merestrukturisasi ekosistem mikroba tubuh ke arah yang lebih positif.

Cabai mampu menekan pertumbuhan bakteri pemicu inflamasi dan sebaliknya memicu perkembangan bakteri baik seperti Faecalibacterium dan Ruminococcaceae.

"Dengan meningkatkan produksi asam lemak rantai pendek, khususnya butirat, capsaicin memperkuat persimpangan ketat di penghalang usus. Itu mencegah endotoksemia metabolik, di mana racun bakteri bocor melintasi dinding usus ke aliran darah," ujar dr. Srivastava.

Walau kaya manfaat, olahan pedas nyatanya tidak selalu cocok dikonsumsi oleh semua kondisi tubuh.

"Meskipun capsaicin umumnya aman dan bermanfaat bagi individu yang sehat, ini dapat memperburuk kondisi pencernaan dan sistemik yang mendasarinya," ucap dr. Srivastava.

Sebagai contoh, penderita GERD bakal mengalami pemanjangan waktu pengosongan lambung yang berpotensi memicu iritasi pada area esofagus.

Penderita gangguan pencernaan lain seperti IBS maupun IBD juga sangat rentan mengalami kram perut, diare, hingga rasa tidak nyaman pada fisik.

Bagi kamu yang memiliki pencernaan sensitif, disarankan memilih bumbu alternatif yang lebih ramah di perut.

"Rempah-rempah ini ditoleransi dengan baik, menambah rasa yang luar biasa, dan mungkin juga memberikan manfaat kesehatan untuk kondisi pencernaan. Kunyit, misalnya, telah dipelajari karena sifat anti-inflamasinya dalam penanganan Crohn dan kolitis," pungkas dr. Srivastava.

Terkini